
Tatapan kosong mengarah lurus ke depan, menatap luar jendela begitu menyejukkan pandangannya. Clarissa terdiam dan termenung sedih, dulunya dia seorang gadis yang sangat menyanjung kecantikan dan sombong mempunyai segalanya. Kini nasibnya berbanding terbalik, duduk di kursi roda membuatnya tak berdaya.
Kesedihan berkepanjangan, namun semua itu akan berakhir dengan memulai awal yang baru di negara baru.
"Semua sudah selesai, aku bahkan tak sanggup menunjukkan wajahku di hadapan semua orang." Lirihnya seraya menyeka air mata, kesombongan yang di bayar tunai olehnya.
Tanpa di sadari, dua orang tengah menatapnya di sebalik celah pintu, mereka juga menunjukkan raut wajah simpati dan sedih.
Anton melirik Ririn dan bergantung harapan. "Dia menjadi kepribadian pendiam, tolong kau bujuk dia!"
"Aku? Tapi apa hubunganku dengannya? Dia pasti menanyakan itu saat aku mencampuri urusannya." Ririn terkejut, dia akan semakin di benci bila mendekati Clarissa.
"Coba sekali saja, demi aku." Bujuk Anton.
"Baiklah." Ririn menguatkan keyakinannya dan melangkah masuk ke dalam. "Apa aku boleh masuk?" tanyanya sedikit ragu.
Clarissa mendengar suara wanita asing di dalam kamarnya, dia berbalik dan mengarahkan tatapam tajam nan menusuk. "Aku tidak ingin bicara pada orang asing."
"Aku tahu, aku hanya ingin menghiburmu."
"Itu tidak di perlukan. Mengapa kau disini dan mencampuri urusanku, urus saja urusanmu sendiri." Ketus Clarissa membuat Ririn merasa bersalah.
"Maaf. Terkadang apa yang menjadi rencana kita tak semestinya berjalan sesuai keinginan, setiap takdir sudah ada di garis tangan."
Clarissa menyeringai dan menatap kebencian. "Termasuk dengan merebut ayahku? Kau dan putrimu itu sama saja, kalian merenggut orang yang aku cintai."
"Tidak ada yang merenggut disini, kau sendirilah yang merasakan seperti itu. Coba kau berpikir dari sisi lainnya, bukan berpatokan pada satu sisi saja. Aku berbicara bukan membuatmu berkesan, tapi percayalah niatku murni."
"Ck, niat karena kau berhasil mendapatkan ayahku dan juga hartanya." Cibir Clarissa yang mendengar rencana pernikahan ayahnya dengan wanita yang berdiri di hadapannya. "Gara-gara kau keberangkatan kami di tunda, aku muak tinggal di sini. Heh, kau pasti sangat bahagia bukan? Melihatku seperti ini."
"Apa yang kau bicarakan?" Ririn merasa sedih dengan pemikiran Clarissa yang buruk padanya.
"Keluarlah dan biarkan aku sendiri."
Anton mendengus kesal dengan kesombongan putrinya, tapi dia masih mengerti sebabnya. "Apa kau masih sakit hati mengenai Arya yang bahagia bersama dengan wanita di cintainya? Mau sampai kapan kau terobsesi pada pria itu."
"Aku mencintainya Ayah, tapi wanita ini dan anaknya tak membiarkan aku bahagia."
__ADS_1
"Itu hanya obsesi. Apa yang kau dapatkan selama ini? Nol besar."
Clarissa menangis sejadi-jadinya, kondisinya yang tidak ada yang bisa di sombongkan menjadi kelemahannya. "Aku akan melupakannya, memangnya siapa yang menginginkan wanita cacat sepertiku." Ucapnya merendah.
Anton memeluk Clarissa dan menenangkannya, dia ikut sedih atas apa yang menimpa putrinya itu. "Lupakan dendam mu itu, niscaya kau akan bahagia menjalani kehidupan."
Clarissa mengeratkan pelukannya dan mengangguk, melepaskan semua beban dengan air mata. Memangnya siapa yang menginginkan wanita cacat yang berjalan pincang sepertinya? Dia pasrah atas apa yang menimpanya dan perlahan melupakan dendam.
"Aku cacat Ayah, di saat sehat Arya tak menginginkan aku apalagi kondisiku sekarang. Aku akan melepaskannya dan menerima semuanya secara perlahan."
"Lupakan segalanya, Ayah bersamamu." Anton berjanji pada dirinya sendiri yang akan membuat Clarissa bahagia dan melupakan kondisi itu. "Aku akan mencarikan pasangan yang menerimamu, itulah janjiku." Batinnya.
*
*
Suasana sedikit canggung saat melihat kedatangan ibunya, Anton, dan Clarissa di kediaman Atmajaya. Bukan hanya Naura melainkan Arya juga penasaran mengapa mereka datang bersamaan, melihat kondisi Clarissa yang cukup memprihatinkan.
"Ada apa ini, Bu?" tanya Naura penasaran seraya melirik suaminya.
"Ada yang ingin di sampaikan oleh Clarissa." Jawab Ririn menganggukkan kepala sebagai kode.
"Apa yang kau bicarakan ini? Aku tidak merasa begitu."
"Jangan merendah Naura, aku hanya meminta maaf darimu."
"Aku tidak memiliki keluhan apapun padamu, jadi kita lupakan saja." Naura bersimpati saat wanita di hadapannya duduk di kursi roda, tidak ada kesombongan yang terlihat hari ini hanya ketulusan.
Clarissa tersenyum sambil menatap Arya. "Aku juga minta maaf padamu, kau benar kalau aku hanya terobsesi."
"Tidak masalah, aku ikut prihatin dengan kondisimu."
"Ini ujian penebus dosa, aku rela menjalaninya."
Arya membalas senyuman itu dan mengangguk. "Jadi semuanya sudah selesai."
"Hem, Naura adik tiriku dan kau suaminya. Semoga kalian bahagia, aku tidak akan mengganggu kehidupan kalian lagi." Clarissa belajar untuk ikhlas menerima segalanya walau itu cukup sulit, yang terpenting melakukan perubahan secara perlahan.
__ADS_1
*
*
Hari telah berlalu tanpa mereka sadari, pernikahan Ririn dan Anton di lakukan secara sederhana sesuai permintaan mempelai pengantin wanita. Semua orang bahagia, mereka menjalani beberapa proses pernikahan dengan lancar. Hubungan mereka kembali di bentuk dari awal dengan melupakan skandal di masa lalu, lika dan liku perjalanan hidup telah usai.
Naura bertolak pinggang menatap tajam suaminya, menggeleng-gelengkan kepala melihat porsi makan suaminya yang berlipat ganda.
"Kau seperti orang yang sudah beberapa hari tidak menyentuh makanan," ujar Naura tak percaya.
"Entahlah, makanan sangat lezat." Balas Arya acuh dan lebih mementingkan makanan di atas piring yang entah ke berapa.
"Itu tidak normal, Sayang."
"Aku tidak peduli pada tanggapan orang lain, aku tidak akan kenyang hanya dengan mendengarkan orang lain." .
Naura menghela nafas dan beranjak pergi, namun beberapa langkah dia berselisih dengan Beno.
"Aku mencari kalian."
"Ada apa Kek?" tanya Naura mewakili.
"Dimana Arya?" tanya Beno.
Naura menggerakkan matanya menunjuk ke arah suaminya yang sangat lahap makan, piring yang bertumpuk membuat Beno sangat terkejut.
"Ya ampun, dia sedang makan atau kesurupan?" gumam Beno yang terdengar sangat jelas, dia menghampiri cucunya dan menepuk bahu. "Tidak akan ada yang mengambil makananmu, dasar rakus." Celahnya.
Raut wajah Arya tiba-tiba masam mendengar ledekan dari kakeknya. "Ada apa?"
"Kau makan dalam beberapa porsi, andai saja piring bisa di makan mungkin kau pasti menghabiskannya."
"Jika hanya ingin mengganggu sebaiknya Kakek pergi saja."
"Dasar rakus, itu perut atau gentong?"
Arya sangat geram mendengarnya. "Makanan untuk di makan, jadi terserah mau berapa porsi aku habiskan."
__ADS_1
"Tapi kau kehilangan martabatmu sebagai CEO." Beno tertawa dan berlalu pergi, entah mengapa akhir-akhir ini mengusili Arya.
"Dasar kentut tua." Gumam Arya kesal.