
Arya memeluk tubuh istrinya dengan sangat erat, dia terharu mendengar perkataan Naura yang mencintainya. "Aku sangat-sangat mencintaimu, tetaplah berada di sisiku sampai maut memisahkan kita." Ucapnya.
"Aku berjanji." Balas Naura tersenyum bahagia.
Ririn tersenyum melihat kebahagiaan anaknya ada pada Arya, dia memberikan restu karena tak ada pria lain yang bisa mencintai sebesar itu. "Ibu ingin kalian tetap bersama, di kala suka maupun duku."
Naura melepaskan pelukan dari suaminya dan langsung menghamburkan pelukan di sisi ibunya, dia sekarang mengerti dimana letak kebahagiaan itu datang, berkumpul dan bersatu pada orang-orang yang dicintai merupakan sebuah anugerah terindah.
"Pria itu pasti tidak setuju dan melakukan apapun untuk memisahkanku dari suamiku." Tutur Naura sedikit khawatir, memikirkan kenekatan dari ayah biologisnya.
"Kalian tidak perlu cemas, mulailah membuka lembaran baru. Ibu akan menangani semuanya," Ririn segera berlalu pergi dari kediaman Atmajaya, tanpa ekspresi mengingat ini adalah pertarungannya pada pria egois seperti Anton.
Arya tersenyum memiliki niat tersembunyi, memainkan jemarinya di pundak sang istri untuk menggodanya. "Ini kesempatanku, Bobby-ku yang malang…kau pasti sangat tersiksa selama ini tidak menahannya." Tuturnya di dalam hati, sementara Naura merasakan sesuatu yang patut di curigai.
"Kau mau apa?" Naura langsung mengambil jarak, melihat tampang Arya sangatlah menakutkan.
Arya menyeringai tipis berjalan mendekat, langsung menggendong tubuh Naura ala bridal style dan membawanya masuk ke dalam kamar, tak lupa menguncinya juga membuangnya lewat jendela yang terbuka.
"Kau gila, mana ada orang yang ingin mengunci dirinya sendiri." Protes Naura semakin waspada, pandangannya tak lepas dari Arya yang tersenyum aneh padanya.
"Ya, aku gila karena kau." Arya langsung sigap membuat dirinya begitu dekat, hembusan nafas yang saling bertautan membuat suasana semakin panas. "Kau dan aku, kita sama-sama saling mencintai juga telah sah menjadi suami istri." Lirihnya pelan dan makna yang dalam, memainkan rambut panjang nan indah itu dan menghirup aromanya yang segar. "Bagaimana kalau kita__."
"Kalau kita apa?" potong Naura yang berkeringat, dia mengerti mengenai kebutuhan biologis dari pria yang berstatus sebagai suaminya itu. Memang mereka sudah sah menikah, tapi tetap saja suasana canggung tercipta yang membuatnya sangat gugup.
"Bercinta. Kau dan aku juga junior Arya," bisiknya seraya menggigit pelan daun telinga Naura.
Naura semakin cemas memikirkan hubungan intim yang di maksud oleh suaminya, berusaha untuk melepaskan dirinya dengan mendorong. Tapi sayangnya hal itu tidak berhasil, malah tubuhnya yang terdorong ke atas ranjang empuk dan Arya berada di atasnya. Keringat semakin mengucur deras, kedua manik matanya membesar melihat pria yang sedang menindihnya perlahan membuka satu persatu pakaian yang di kenakan.
__ADS_1
"Tunggu dulu, kau mau apakan pakaian mu?"
Arya tak menjawab dan terus menjalankan aksinya, hingga tubuhnya polos tanpa sehelai benang membuat Naura menelan saliva dengan susah payah, setelah tersadar dia menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya di sertai teriakan.
Cup
Arya menyumpal mulut itu menggunakan mulutnya sendiri dan memainkan perannya sebagai seorang suami memberikan kebutuhan s*x dan juga kepuasan bersama, memainkan lidah di dalam rongga mulut dan menari-nari tak berirama. Misi penolakan dari Naura segera terbantahkan dengan sebuah rasa kenyamanan, ciuman balasan membuat hatinya semakin girang dan tersenyum tipis.
Ciuman yang terjadi selama sepuluh menit cukup membakar sesuatu di dalam sana, aktivitas yang menyenangkan membuatnya memperdalam ciuman yang kian menuntut lebih. Kedua tangan menganggur mulai menyelip di pakaian yang di kenakan oleh Naura, memainkan sesuatu yang cukup menarik. Terdengar alunan suara yang keluar begitu merdu hingga dia menjadi orang tak sabar, cukup mudah melucuti pakaian dari lawannya.
Naura terbuai dalam permainan itu dan semakin menyukainya tanpa sadar mengeluarkan suara memancing hasrat suaminya untuk memperdalam sentuhan di setiap inci dari tubuhnya yang indah.
"Bolehkan?" tanya Arya meminta izin terlebih dulu, tentu saja dia berpegang teguh pada perkataannya sendiri. Lampu hijau yang di berikan lewat anggukan kepala semakin membuatnya bahagia jika sang Bobby tidak lagi bermain seorang diri dan mendapatkan gua dari nyi Blorong.
Permainan panas mengandalkan tempo dan ritme sesuai dengan kebutuhan keduanya, berjalan begitu lancar saat gua nyi Blorong berhasil di tebus dengan trisula milik Bobby.
"I love you." Arya mengecup bibir Naura penuh cinta dan berbaring di sebelah, mengatur nafas agar kembali stabil. Dia sangat bahagia dengan statusnya sebagai seorang suami, kini hubungan mereka dua orang yang berbeda melainkan dua hati dalam satu cinta yang saling memiliki.
"I love you too." Balas Naura yang tersenyum hangat.
Yah, bukan Arya namanya jika tak meminta lebih, bahkan melakukan hubungan suami istri beberapa kali baru lah puas dan tertidur.
Naura menatap wajah suaminya yang tampan saat tertidur, seperti anak kecil yang tidak memiliki kesalahan apapun, sangat polos tanpa noda. Permainan itu masih terus membayangi pikiran nya, sekarang dia sudah sah dan resmi menjadi nyonya Arya Atmajaya.
"Sudah puas memandangi ku?"
Naura tersentak kaget dan tertangkap basah, dia sangat malu. "Kapan kau bangun?"
__ADS_1
"Sebelum kau bangun aku sudah bangun lebih dulu, ingin melihat bagaimana ekspresimu." Goda Arya seraya menggelitik tubuh Naura, keduanya tertawa lepas.
"Sudah hentikan ini! Aku mau mandi, ini sangat tidak nyaman." Ujar Naura.
"Aku juga, ini sangat tidak nyaman."
"Kau mau apa? Tunggu setelah aku selesai membersihkan tubuhku." Tolaknya seraya bertolak pinggang, memicingkan kedua matanya. Dia segera beringsut dari tempat tidur tetapi sesuatu di bawah sana terasa sangat perih karena ini kali pertama berhubungan badan dengan seorang pria, menyerahkan mahkota beserta keperawanannya hanya untuk sang suami tercinta. "Auh," ringisnya.
"Maaf, karena aku kau mengalaminya. Biar aku bantu," celetuk Arya langsung menggendong tubuh ramping itu dengan senyuman tipis di wajahnya, tentu saja otaknya kembali bertraveling saat mereka sama-sama tanpa pakaian.
"Aku bisa sendiri," tolak Naura.
"Tidak, aku akan membantumu."
"Ck, kau pikir aku percaya. Pria mesum sepertimu selalu mencari akal," terang Naura yang sepertinya sudah memahami seberapa mesum suaminya itu.
"Sekali saja." Bujuk Arya sambil membuka pintu kamar mandi, tak lupa menguncinya.
"Sudah aku duga." Pasrah Naura saat suaminya tersenyum mesum.
"Ini tak akan lama, hanya sekali."
"Sekali? Aku tidak yakin mengenai itu. Aku sangat letih dan juga area sensitif ku sangatlah perih."
"Perih itu akan hilang dan tergantikan rasa nikmat."
Akhirnya perdebatan kecil di menangkan Arya, keduanya bergelumulan panas di kamar mandi entah berapa lama di dalam sana.
__ADS_1