
Seorang pria yang menatap wanita seksi duduk sendirian di bar dan di tangannya sedang memegang segelas minuman alkohol, tanpa gairah dan juga hasrat untuk melakukan apapun selain menikmati minuman memabukkan. Menarik dua sudut bibirnya melengkung ke atas, dia segera menghabiskan minuman di gelas kecil yang di pegang sedari tadi.
"Wow, luar biasa." Gumam pria itu yang berjalan menghampiri mempunyai niat tersembunyi. "Boleh aku bergabung?" ucapnya tersenyum membuat wanita itu menoleh ke arahnya dengan jengah.
"Silahkan." Jawab wanita seksi yang tak peduli, lebih mementingkan seteguk alkohol yang sangat mengurangi beban di kepala juga di pundaknya.
Amar tersenyum saat mendapatkan persetujuan, duduk berhadapan langsung. "Sepertinya kau mempunyai masalah yang sangat serius."
Wanita itu mengalihkan perhatiannya dan menyeringai, keberadaan dari Amar sedikit mengganggu waktunya. "Aku tidak memerlukan simpati dari orang lain, sebaiknya kau simpan saja untuk dirimu sendiri."
Amar tersenyum saat wanita seksi itu membalas perkataannya. "Sudah lama aku mencari akses untuk bertemu, tapi kau selalu menolakku."
"Aku tidak ingin bekerja sama dengan pria pecundang sepertimu, jadi lupakan saja."
Amar mengangkat gelasnya seraya meneguk minuman itu hingga gelas kosong. "Lupakan egomu jika ingin berjalan maju, hampir setiap hari kau datang ke sini dan kali pertama datang seorang diri."
"Tidak ada larangan tertulis di sini, jadi aku bebas datang setiap kali aku menginginkannya. Pergilah dan jangan ganggu aku!" usir wanita seksi yang tak ingin di usik, beban pikiran terlalu penuh hingga tidak ada tempatnya lagi.
"Baiklah, aku akan pergi. Tapi sebelum itu biarkan aku mengatakan sesuatu padamu." Amar bersikukuh untuk mendapatkan apa yang menjadi rencananya. "Aku dan kau memiliki tujuan yang sama, pertimbangkanlah tawaranku." Ucapnya seraya beranjak dari duduknya dan ikut berdansa menikmati kehidupannya.
Wanita seksi menatap Amar dari kejauhan, memikirkan perkataan pria itu seraya mencari keuntungan yang akan di dapat olehnya. Tiba-tiba ponselnya bergetar dan segera melihat siapa yang menghubunginya, mendelik kesal saat sang ayah menghubunginya setelah sekian lama.
"Halo."
"Clarissa, kenapa kau tidak pernah menemui ayah lagi? Tunggu dulu, suara berisik apa itu? Kau berada di klub?"
"Ya, memangnya apa lagi. Kenapa ayah tiba-tiba menghubungiku setelah sekian lama."
"Kabar baik untukmu."
"Apa?"
__ADS_1
"Sudah ayah putuskan kalau kita akan tinggal bersama, dan juga adik tirimu."
Clarissa langsung menutup telepon secara sepihak, bukan kabar baik melainkan kabar buruk semakin membuatnya bad mood. Dia menyingkirkan rambut bagian depan yang menutup wajahnya menggunakan jemari ke arah belakang, membanting ponsel melampiaskan kemarahannya dan berjalan menemui Amar ikut dalam alunan dansa yang penuh energiknya.
Sementara di sisi lain, Naura sangat terkejut dengan keputusan yang di buat oleh Anton mengenai kelangsungan hidupnya dan juga ibunya. Ya, kedua wanita berbeda usia itu sangat tidak percaya mengenai keputusan yang baru saja mereka dengar.
"Apa kau gila membawa kami tinggal di Mansion mu?" tukas Ririn yang tak percaya, beberapa kali dia terkejut hari ini mulai dari kedatangan Anton yang menerobos masuk ke dalam Mansion Atmajaya, dan sekarang meminta mereka untuk pindah.
"Kau tidak ada hak untuk membawaku dan juga ibuku tinggal bersamamu." Ketus Naura menatap tajam Anton.
"Kalian tidak punya pilihan lain, karena kau juga akan bercerai dari Arya, aku sudah mengurus surat perpisahan kalian dan ada pada pria itu." Jelas Anton sekali lagi membuat kedua wanita itu sangat terkejut.
Bukan ketenangan yang di dapatkan oleh Naura dan ibunya, pandangan dingin tanpa ekspresi.
"Aku tidak suka bila di atur oleh orang asing."
"Tapi aku adalah ayahmu, disini kau tidak aman."
Anton tetap bersikeras dengan membawa banyak pengawal, memberikan perintah untuk membawa kedua wanita itu secara paksa dari kediaman Atmajaya. Kekacauan yang terjadi tentu saja tak di biarkan saja, orang-orang suruhan Arya ikut dalam suasana itu sampai terjadi perkelahian yang tidak di inginkan.
Suasana semakin kacau tak bisa di kendalikan, Naura sangat marah dan membenci pria itu. Tangannya di tarik paksa oleh Anton sangatlah erat bahkan mustahil baginya untuk terlepas, hingga tak sengaja matanya melirik pisau lipat di saku celana pria paruh baya itu dan mengambilnya di saat sang empunya lengah.
"Jangan bergerak! Atau pisau ini akan menggores lenganku." Tidak punya pilihan lain, Naura tak ingin ada banyaknya korban yang berjatuhan hingga mengancam nyawanya sendiri.
"Apa yang kau lakukan?" Anton sangat terkejut saat dia berbalik melihat kenekatan Naura hendak bunuh diri, perlahan cengkramannya melonggar.
"Sayang, apa yang kau lakukan? Cepat buang pisau itu!" bentak Ririn membelalakkan kedua matanya.
"Tidak Ibu, kali ini jangan hentikan aku."
"Tenanglah, jangan melakukan hal bodoh itu." Ucap Anton memelankan suaranya.
__ADS_1
Naura menyeringai tipis. "Kenapa? Apa hanya kau saja yang bisa berbuat seenaknya. Aku tidak akan pergi dari sini, karena inilah rumahku."
"Ini bukan rumahmu, tempat ini neraka. Bella mati karena keturunan Atmajaya, tidak akan aku biarkan kau bersama keturunan yang brengsek itu."
Naura mengarahkan mata pisau semakin dekat ke urat nadinya. "Ya, tapi kau hanya akan membawa jasadku saja. Akan aku katakan kalau kau pria yang egois, berani sekali kau memperk*sa ibu ku di saat kau masih memiliki istri dan seorang anak. Heh, harus aku akui jika di dalam nadiku ini mengalir darahmu, tapi bagaimana jika aku memotong nadiku demi cinta. Ck, walau benci aku akui jika kita memiliki sedikit kesamaan akan cinta."
Anton menyuruh para pengawalnya untuk mundur, ancaman yang di keluarkan Naura tak main-main. "Apa yang kau lihat dari Arya Atmajaya?"
"Ya, pertanyaan yang sama juga ingin kutanyakan padamu. Apa yang kau lihat dari ibuku?"
Anton terdiam dan menatap Ririn beberapa detik kemudian mengalihkan perhatiannya.
"Apa ini karena putrimu yang bernama Clarissa menyukai suamiku? Apa cinta bisa di paksakan?"
"Tapi kau menikahinya karena kesepakatan."
"Awalnya memang begitu, aku mencintainya. Suka ataupun tidak aku tak akan berpisah dari Arya, aku mencintainya."
Seseorang yang tiba-tiba masuk berlari menghampiri Naura dan menepis pisau tajam itu, dia memeluknya dengan sangat erat tanpa menghiraukan orang sekitar. "Aku juga sangat mencintaimu, jangan melakukan tindakan konyol itu lagi karena aku tak ingin kehilanganmu." Ucap Arya tulus membelai wajah istrinya lembut.
Naura sangat tersentuh, tapi senyum tulusnya berubah dingin saat melihat wajah sang suami yang penuh dengan luka lebam. Dia mengerti tanpa harus mempertanyakan lagi, menatap tajam pada Anton yang menjadi akar permasalahan mereka.
"Berani sekali kau melukai suamiku."
"Dia pantas menerimanya."
"Tetaplah pada egomu yang besar itu, mulai sekarang jangan pernah menemuiku lagi. Pergilah dari kediamanku!" Naura bersikap tegas mengusir Anton.
Anton menarik tangan Ririn yang langsung di tepis kasar. "Kau pria yang sangat buruk," tuturnya terlanjur kecewa.
Anton pergi sambil menggertakkan gigi tak sanggup mendapatkan penghinaan sebesar itu, suasana hati semakin keruh saat mendapatkan laporan dari anak buahnya mengenai Clarissa yang juga tidak ingin tinggal bersamanya.
__ADS_1