
Dua tatapan yang saling bertemu penuh dengan konflik yang harus di selesaikan, Arya masih tak melepaskan wanita yang berani mencelakakan istrinya dengan begitu kejam. Sudah cukup menjadikan dirinya sebagai hewan peliharaan, sekarang tidak lagi demi mempertahankan wanita yang sangat dia cintai.
Wanita itu tersenyum menyeringai, melipat kedua kaki dan sangat angkuh melihat Arya yang datang untuk menemuinya. Dia meneguk segelas kecil alkohol sampai habis dan kembali menatap pria yang menyakitinya beberapa kali demi wanita lain.
"Wah, aku tak menyangka kau mengetahui ini lebih cepat."
"Kenapa kau melakukan semua ini? Harusnya kau menyakitiku bukan dia." Arya sangat geram dan muak melihat wanita yang ada di hadapannya berambisi untuk mendapatkan dirinya dan tidak membiarkan wanita lain bersamanya.
"Tanpa aku katakan kau pasti mengerti maksudku, itu hanya ancaman kecil saja." Jawab wanita seksi yang bernama Clarissa.
"Sudah aku katakan untuk tidak menyakitinya, tapi kau masih saja melakukannya."
"Itu belum seberapa, jika kau belum menceraikannya maka nyawanya yang akan melayang. Kau pikirkan maksudku, masih mempertahankan keinginanmu atau menuruti semua perkataanku kalau kau menginginkan wanita malang itu selamat. Dengar Arya! Ancamanku tak pernah main-main."
"Kau." Geram Arya yang ingin menghampiri Clarissa tapi di tahan oleh dua orang bodyguard yang siap melindungi majikannya. "Tidak ada gunanya aku berbicara padamu." Ungkapnya yang melepaskan dari dan pergi dari tempat itu.
Clarissa tersenyum puas melihat ekspresi cemas di wajah Arya, dia sangat licik memanfaatkan kelemahan pria itu demi keinginannya. "Kau tidak punya pilihan lain selain menceraikan wanita itu dan menikahiku, mudah bagiku untuk menghancurkan perusahaanmu berkat bantuan ayahku." Gumamnya tertawa sembari meneguk alkohol yang sudah di isi ulang oleh bodyguardnya.
Arya menghantam pintu saking kesalnya pada ucapan yang di lontarkan Clarissa, dia tahu betul kalau wanita itu mengancamnya tak main-main. Dia menarik nafas dalam dan mengeluarkan secara perlahan, sumpah serapah yang di ucapkan begitu mulusnya sambil memukul stir mobil.
"Aarghh." Pekik Arya menarik rambutnya frustasi, keputusan yang cukup sulit baginya. "Clarissa sangat keterlaluan, dia memanfaatkan kelemahanku. Apa yang harus aku lakukan sekarang? melawan ayahnya sungguh tidak mungkin."
Arya sangat mencemaskan istrinya dan kembali ke rumah sakit, mengemudikan mobil dengan kelajuan yang sangat cepat menerobos beberapa mobil yang di rasa menghalangi jalannya.
Tubuh lemah terbaring di atas tempat tidur, Arya sangat sedih melihat kondisi Naura yang belum sadarkan diri. Berjalan mendekat dan meraih tangan lentik secara lembut, mengecupnya penuh cinta.
"Apa kau tidak bosan? Bukalah matamu!" pintanya. Perlahan kedua mata itu membuka membuat Arya tersenyum seakan melihat sebuah harapan untuk mempertahankan hubungannya.
"Arya, aku di mana?" lirih Naura yang sangat lemah.
"Kau ada di rumah sakit."
"Apa yang terjadi?"
__ADS_1
"Kau mengalami kecelakaan, maafkan aku yang tidak bersama mu saat itu."
Naura tersenyum sembari menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya. "Bukan salahmu, tapi aku yang tidak melihat ada mobil yang lewat."
Seketika itu pula Arya mengepalkan kedua tangannya, sengaja menyembunyikan itu saat tahu kecelakaan berencana. "Aku tidak akan meninggalkanmu sendirian lagi."
"Bagaimana dengan pekerjaanmu?"
"Aku akan bekerja di rumah, dan pertemuan yang tidak bisa di wakilkan akan ada beberapa orang yang menemanimu."
"Itu terdengar sedikit berlebihan." Naura terkekeh dan senang dengan perhatian yang di berikan oleh Arya. Namun merasa ada kejanggalan, dia tidak bisa menggerakkan kaki membuatnya sangat shock. "Kenapa aku tidak bisa menggerakkan kakiku?" tanya.
Arya terdiam beberapa saat tak mampu untuk mengatakan kebenarannya, sedangkan Naura terus mendesaknya.
"Kenapa kau diam saja? Jawab Arya!" desaknya sedikit berteriak.
"Kecelakaan itu membuatmu lumpuh sementara, tapi kau tidak perlu khawatir itu masih bisa di sembuhkan."
Naura menggelengkan kepala seakan tak percaya, dia memukul kakinya dan merasa menjadi orang tak berguna. "Tidak, aku tidak mungkin lumpuh."
"Tapi aku tetap lumpuh." Naura menangis tak bisa menerima kondisinya, terus memukul kedua kaki dan berputus asa.
"NAURA. Aku di sini dan akan menemanimu sampai kau sembuh!" sentak Arya menyadarkan Naura.
Bulir bening yang terus menetes, pundak yang terasa nyaman untuk berbagi suka dan duka. Naura membalas pelukan itu dan Arya menenangkannya.
"Cup…cup, aku di sini." Lirih Arya sembari mengelus rambut panjang itu.
*
*
Seorang wanita mencoba untuk melepaskan ikatan di tangan dan juga kakinya, tidak tahu dimana dia sekarang, juga mata yang tertutup semakin menyulitkannya.
__ADS_1
Terdengan langkah sepatu yang mengarah padanya, bersikap waspada hal yang tepat untuk di lakukan.
"Kau siapa? Kenapa menculikku?" tegas Ririn yang menantang orang itu, perlahan dia mencoba membuka ikatan di tangannya.
Ririn sangat terkejut saat merasakan seseorang memeluknya dengan erat, aroma tubuh yang sangat dia kenali dan tak pernah di lupakan. Ketakutan di masa lalu sekelebat muncul dan menyerangnya, berusaha untuk menjauhkan diri walau tidak mungkin di lakukan pada kondisinya yang terikat.
"Kenapa kau menculikku?" Ririn sangat ketakutan setelah mengetahui sosok yang memeluknya, seorang dari masa lalu yang ingin di hapus dari ingatannya.
Cahaya lampu yang begitu terang membuat mata Ririn memicing dengan sempurna setelah ikatan di matanya terbuka, kedua pupil matanya membesar saat melihat jelas siapa sang pelaku. "Kita tidak memiliki urusan lagi, kenapa kau menculikku." Pekiknya.
"Apa kau tidak merindukan aku?"
"Lepas, aku mohon." Bujuk Ririn sangat ketakutan, terlihat tubuhnya gemetaran jika berhadapan dengan pria di masa lalunya.
"Apa aku semenakutkan itu? Aku mencarimu selama ini." Pria itu kembali memeluk Ririn tetapi mendapatkan penolakan.
"ANTON! Jaga batasanmu." Pekik Ririn.
Ya, pria itu adalah Anton seorang pimpinan mafia yang begitu tergila-gila pada Ririn walau dia sudah memiliki seorang istri dan memiliki anak bernama Clarissa. Dia sangat mencintai anaknya bukan ibu dari anaknya, pencarian yang di lakukan bertahun-tahun akhirnya membuahkan hasil.
"Apa kau lupa mengenai cinta satu malam kita?" ungkap Anton yang masih ingat rasa itu, menghabiskan malam bersama setelah dia memberikan minuman memabukkan pada wanita di hadapannya dan memperk*sanya. Dia sangat nekat melakukan semua itu, bukan cinta yang di dapat malah kebencian dari wanita yang sangat dia cintai membuatnya patah hati.
Pertengkaran hebat bersama istrinya saat mengetahui dirinya mencintai wanita lain yaitu Ririn yang berstatus sebagai istri Rian, namun dia tak pernah menyesal melakukan aksinya.
"Itu sudah lama sekali. Lupakan aku dan kembalilah pada keluargamu!" pekik Ririn yang memandang Anton tajam dan sangat marah.
Anton menyeringai tipis. "Aku seorang duda, dan kau janda. Hanya sekali tapi benihku tumbuh di rahimmu, pertemukan aku pada anakku!"
Deg
Ririn sangat terkejut saat pria yang ada di hadapannya mengetahui hal yang selama ini menjadi rahasianya, bahkan Rian tidak mengetahui apapun. "A-aku tidak tahu apa yang ka-kau bicarakan."
"Aku tahu semua mengenai informasi dirimu, dimana anakku!" tanya Anton tegas.
__ADS_1
"Dia putriku dan Rian."
"Ck, jangan berpura-pura tidak tahu. Pria yang kau sebut namanya tidak akan pernah memberimu seorang anak karena dia mandul." Ungkap Anton membuat Ririn semakin berkeringat setelah rahasianya di ketahui.