
Sepasang suami istri yang tidak sanggup melihat penderitaan Naura yang terbaring di atas brankar rumah sakit dan mengalami lumpuh sementara, mereka tetap menyalahkan seseorang atas kejadian naas itu tanpa berpikir panjang membawa seorang pengacara untuk mengambil hak asuh.
"Kau lihat sendiri, bahkan Ririn tidak ada disini. Biarkan kita yang merawat Naura," tutur Diana bersemangat dengan sebuah berkas yang ada di tangannya, menyerahkannya pada sang pengacara yang sudah mereka sewa.
"Kau benar, wanita itu pasti kelayapan dan hanya memikirkan diri sendiri saja. Aku ayahnya dan akan mengambil hakku!" tutur Rian yang menyetujui perkataan istrinya.
"Ya sudah, kita tunggu apalagi? Sebaiknya kita memindahkan Naura di ruangan lain." Diana terus memprovokasi suaminya agar semua permintaanya di laksanakan, dia sudah tidak sabar untuk mendapatkan hak asuh Naura dan lupa jika wanita itu sudah dewasa juga bersuami yang pasti bisa memutuskan mana yang terbaik untuk kehidupannya.
Rian mengangguk dan menerobos beberapa pengawal yang menjaga di depan ruangan, kerusuhan yang terjadi membuat seseorang di dalam ruangan terbangun.
"Kenapa di luar sangat berisik sekali?" gerutu Naura yang mendengar suara keributan, segera dia menghubungi Arya.
"Halo."
"Kau dimana?"
"Aku masih di dalam perjalanan, kau merindukan aku ya."
Naura menghela nafas jengah dan menjauhkan ponsel dari telinganya beberapa saat barulah menjawab obrolan itu.
"Berhentilah bercanda, di luar ada keributan dan aku merasa terganggu."
"Apa? Sebentar lagi aku sampai kesana."
"Ya, sebaiknya kau cepat karena aku sangat terganggu."
"Siap tuan putri."
Setelah selesai menelepon, pintu terbuka dan Naura langsung mengalihkan perhatian pada dua orang yang sangat di bencinya. Benci kenapa dia memiliki seorang ayah seperti Rian yang tidak berprasaan.
Keduanya mendekati Naura, Rian sangat bersemangat menggendong tubuh lemah dan meletakkannya ke atas kursi roda yang sudah di persiapkan. "Ayo Nak, kita harus pergi."
"Tunggu dulu! Kalian mau membawaku kemana?" sontak Naura sangat terkejut dan tak menyangka pria paruh baya itu memaksa sambil mendorong kursi roda keluar dari ruang inap.
Beberapa penjaga mencegah niat sepasang suami istri, Naura tak tinggal diam ikut dalam keributan hingga terjatuh dari kursi roda.
"Naura," pekik seseorang yang segera berlari dan membantu, menatap sepasang suami istri tajam. "Berani sekali kalian membawa istriku tanpa sepengetahuanku." Ancamnya.
__ADS_1
"Dia itu anakku dan aku berhak membawanya darah dagingku sendiri." Tegas Rian yang merebut.
"Aku suaminya dan orang yang plaing berhak."
"Heh, kau pikir aku tidak tahu jika kalian hanya menikah karena kesepakatan? Aku mengetahuinya. Naura adalah putriku dan akulah ayahnya." Sergah Rian sombong, memiliki niat terselubung dengan melancarkan aksinya.
Arya terdiam beberapa saat. "Kesepakatan itu sudah lama tiada."
Rian dan Diana merasa menang, mereka membawa Naura yang duduk di kursi roda. "Pengacaraku yang akan mengurusnya."
"Kau tidak bisa membawa istriku!" protes Arya yang mengejar.
Keributan yang tak berujung membuat Naura sangat marah, benci pada dirinya sendiri yang tidak berdaya melawan. "Lancang sekali kalian membawaku pergi, aku bukanlah barang yang bisa di perebutkan."
"Tapi kau adalah putriku." Sela Rian dalam kemenangannya, dia ingin menguasai Naura agar dapat meraih harta Atmajaya lewat gadis malang itu.
Seorang pria dengan beberapa orang bodyguard berbaju hitam menghalangi niat sepasang suami istri, tatapan yang tajam dan mengeraskan rahangnya melihat apa yang terjadi sudah melampaui batas. Dengan terpaksa dua orang itu menghentikan langkahnya begitupun Arya seketika cemas pada kedatangan seseorang, situasi semakin kacau dan tak bisa di kendalikan.
"Aku tidak mengenalmu, menyingkirlah dari jalanku." Ucap Rian marah.
"Tapi aku mengenalmu," balas pria yang sebaya dengan Rian, dia pelirik Naura yang duduk di kursi roda dan menjadi sedih penuh haru. Namun tatapannya langsung mengarah pada dua orang yang sudah keterlaluan membawa anak kandungnya pergi.
"Siapa lagi ini? Aku tidak mengenalnya." Ungkap Naura di dalam hati, menatap bingung pria paruh baya yang memiliki aura tak biasa.
"Jangan halangi jalanku, kita tidak punya urusan apapun."
Anton menyeringai tipis dan melirik sepasang suami istri di hadapannya yang tidak punya rasa malu sedikitpun. "Kau membawa gadis itu pergi, lepaskan dia karena kau tidak memiliki hak."
"Kau bercanda? Naura adalah putri kandungku dan aku ayahnya." Tegas Rian.
"Seharusnya kau bangun dari mimpimu itu, kau dan istrimu selamanya tak bisa mempunyai keturunan. Apakah kau tidak memeriksa kondisimu ke dokter?"
"Apa maksudmu?" Rian sangat tidak suka dengan pria yang menghalangi jalannya.
Anton tertawa sambil memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana, melirik bodyguardnya dan menahan dua orang yang membuat keributan di rumah sakit.
"Lepaskan aku!" tukas Rian yang tak berdaya melepaskan diri.
__ADS_1
Anton berjalan mendekati Arya yang menghalanginya, tatapan tajam tanpa ekspresi tak ingin menjelaskan apapun. "Menyingkirlah! Apa kau lupa siapa aku?"
"Tidak ada yang bisa membawa istriku pergi termasuk anda sekalipun." Jawab Arya memasang badan. Sedangkan Naura terdiam mencoba mencerna apa yang sebenarnya terjadi, rasa pusing membuatnya menyerah.
"Wah, ternyata nyalimu kuat juga."
Arya melirik Naura dan tersenyum sekilas. "Aku mencintainya dan akan tetap mempertahankannya."
Anton dan Naura saling berkontak mata, mereka tampak mirip satu sama lain.
"Dia terlihat mirip denganku," gumam Naura yang terdengar.
"Brengsek, lepaskan kami!" tukas Rian.
Bugh
Anton langsung memukul perut pria paruh baya malang itu hingga mengeluarkan seteguk darah keluar dari mulut Rian. "Jika kau bersuara lagi? Maka kau tidak akan melihat indahnya siang dan malam hari lagi." Ancamnya tak main-main, langsung membungkam mulut pria paruh baya itu.
"Singkirkan tangan anda dari wajah istriku," sarkas Arya memandang tak suka, lain halnya dengan Anton yang tertawa.
"Berani sekali kau bicara kasar pada ayah mertuamu!"
"Ayah mertua?" Arya mengerutkan kening mencerna perkataan itu.
"Naura adalah putri kandungku bersama Ririn, ibunya." Ungkap Anton.
"Apa? Aku ayahnya." Sela Rian tak terima akan haknya yang di ambil.
Anton langsung menoleh dan menyeringai, melirik bawahannya untuk memperlihatkan bukti. "Kau lihat baik-baik semua itu, Bella dan Naura adalah anak biologisku. Pria sepertimu tak akan mengerti jika aku mengatakannya tanpa menunjukkan bukti tes, dimana di sana menunjukkan kalau sebenarnya kau itu mandul."
"Apa?" Bukan hanya dua orang saja yang terkejut tapi semua orang yang ada di lokasi.
"Itu tidak mungkin, Ririn tidak mungkin selingkuh."
"Ck, apa yang ingin kau buktikan? Bahwa Ririn tidak bisa melakukan seperti yang kau lakukan itu?" sindir Anton yang langsung merendahkan Rian.
"Sialan, berani sekali dia berselingkuh." Umpat Rian kesal semakin membuat tawa Anton menggema.
__ADS_1
"Apakah kau Tuhan yang menentukan nasib orang lain? Karena kalian berdua Bella tiada dan aku tidak akan melepaskan siapapun yang menyinggung keluarga ku." Ancam Anton tak main-main.
Arya dan Naura sangat terkejut mendengar kebenaran, bukti yang cukup kuat terlihat jelas.