
Di butik begitu banyak pelanggan yang berdatangan menyukai hasil karya dari Naura dan juga Lita, keduanya tampak tersenyum bahagia melihat bisnis yang mereka kembangin berjalan dengan sangat pesat.
"Kau lihat, hasilnya terlihat jelas. Jatuh bangun kita membangun bisnis ini, sampai berhutang kepada pihak bank." Ujar Lita tersenyum dengan pencapaian mereka.
"Kau benar, tapi aku heran kenapa pengunjung tiba-tiba melonjak naik drastis." Sahut Naura yang merasa ada sedikit kejanggalan.
"Mungkin ini waktunya untuk bisnis kita, kalau pengunjungnya seramai ini lambat laun kita bisa membuka cabang."
"Kau benar."
Naura tidak tahu jika Arya yang melakukan promosi kepada relasi rekan bisnisnya, dia tahu jika wanitanya tak ingin di bantu secara finansial.
"Aku perhatikan akhir-akhir ini kau selalu tersenyum, tidak jutek seperti biasanya." Singgung Lita yang memperhatikan sahabatnya.
"Itu karena hubunganku dan ibu sudah membaik."
"Sungguh? Bagaimana bisa? Aku bahkan memaksamu tapi kau sendiri yang keras kepala." Lita tak percaya dengan perkataan Naura, dan dia sangat penasaran kenapa bisa pikiran sahabatnya tiba-tiba saja terbuka.
"Malam itu Arya menyadarkan aku akan pentingnya seorang ibu dan juga mimpi burukku yang membuatku tak ingin kehilangan sosok ibu." Jelas Naura tersenyum membayang sesuatu.
"Aku mengerti, kau tersenyum saat mengatakan namanya. Dia cukup tampan dan juga kaya raya, juga mapan." Goda Lita.
Naura tersadar dan memutuskan untuk pergi sebelum terjebak dengan perkataan sahabatnya. "Sudahlah, aku ingin bekerja."
"Dia menghindar tapi rona wajahnya terlihat malu, aku sangat yakin benih-benih cinta sudah tumbuh di hatinya tapi belum menyadarinya saja. Tunggu ada wanita lain, aku ingin lihat ekspresinya seperti cacing kepanasan menahan cemburu, andai hari itu tiba dan dia mengakui cintanya. Ya ampun, membayangkannya membuat aku tersenyum. Aku juga ingin menikah, tapi kepada siapa? Aku terlihat mengenaskan." Monolog Lita yang berbicara sendiri, beberapa orang yang berlalu lalang di depannya mengira jika dia tidak waras dan kemasukan roh halus.
Naura kembali tersenyum saat ponselnya berdering, melihat siapa yang menghubunginya. "Dia bergerak sangat cepat," lirihnya seraya mengangkat telepon.
"Halo baby."
"Ada apa tuan Arya Atmajaya?"
"Aku senang dengan sambutan itu tapi terdengar formal. Akan ada jamuan penting, bisakah kau ikut bersamaku?"
"Akan aku pikirkan, butik sangat ramai dan cukup sulit mendapatkan waktu senggang."
"Sebentar saja."
"Baiklah, kapan itu berlangsung?"
"Malam ini."
"Baiklah, anggap dirimu sedang beruntung."
__ADS_1
"Terima kasih nyonya Arya Atmajaya, aku mencintaimu."
"Apa dia tidak bosan mengulang kalimat itu?" pikir Naura, tapi dia sangat menyukainya.
Di malam harinya, Naura berdandan dengan sangat cantik yang membuatnya bagai bintang paling bersinar. Arya yang sedari tadi menunggu tak bisa mengedipkan mata, kagum dengan kecantikan istrinya sendiri.
"Kau sangat cantik." Sambut Arya memperlakukan Naura bak ratu.
"Terima kasih, kau juga sangat tampan."
Keduanya terlihat sangat romantis dan juga serasi, Beno yang tak sengaja lewat di sana juga tersenyum dan berharap jika dirinya segera mendapatkan cicit.
"Aku mengerti, pasti mereka ingin terlihat romantis tanpa gangguan." Beno segera pergi seraya mengangkat telepon yang sedari tadi berdering, dimana senyum itu menghilang di ganti kecemasan.
Makan malam di restoran mewah, tadinya senyum mengembang seketika berubah kecut. Bagaimana tidak? Jika rekan bisnis nya selalu memandangi Naura, hatinya terbakar api cemburu dan sikap posesif mulai menyambarnya.
Lain hal dengan Naura dan pria yang menjadi rekan bisnis suaminya, mereka tampak akrab dan bahkan sangat akrab, tertawa bersama menceritakan masa lalu saat mereka satu sekolah menengah pertama.
"Aku tidak menyangka jika si tomboy berubah feminim setelah menikah." Guyonan pria itu.
"Aku masih seperti dulu, sesekali aku berdandan." Jawab Naura tertawa.
"Apa maksudnya itu? Rona di wajahnya memerah dan terlihat malu-malu," batin Arya yang diam saja sedari tadi sambil menyaksikan interaksi istrinya bersama rekan bisnis, dan sialnya pria itu adalah teman satu sekolahan Naura.
"Kau terlihat cantik seperti itu."
"Apa kau hanya memuji kecantikan istriku saja?" Cetus Arya bersuara, kepulan asap di atas kepala sangat geram dengan pria yang ada di hadapannya.
"Kau ini kenapa?" bisik Naura yang menyenggol suaminya. "Dia temanku di sekolahku dulu."
"Aku tidak peduli."
"Ada apa dengannya?" lirih pelan Naura yang terdengar samar.
"Maaf, ini kali pertamanya aku bertemu dengan Naura dan aku baru tahu kalau dia istrimu."
"Berhentilah berbasa-basi, kita bukan membicarakan istriku tapi fokuslah pada pekerjaan."
"Baiklah." Jawab pria itu dengan santai, mendekatkan wajahnya ke arah Naura dan berbisik. "Sepertinya suamimu cemburu padaku."
"Apa kau bilang?" Arya menggebrak meja, menatap tajam pria itu yang masih memancing emosinya. "Kerja sama antara kita batal." Ucapnya tegas seraya menarik tangan Naura menjauh dari pria yang sedari tadi menggoda istrinya.
"Dia tidak bisa di ajak bercanda, aku hanya menggoda Naura saja, apa itu salah? Lagipula aku sudah mempunyai istri." Monolog pria itu sembari tersenyum menatap foto sang istri tercinta di ponselnya.
__ADS_1
"Kau ini kenapa? Marah tidak jelas begitu dan pergi setelah membatalkan kerjasama." Naura menautkan kedua alisnya.
"Kau tanya aku kenapa?" Arya memblokir jalan Naura menggunakan kedua tangannya ke dinding, menatapnya dalam dan menyelidik. "Aku tidak peduli dengan kerjasama itu," pekiknya melampiaskan kemarahan.
"Kau hanya membuang-buang waktuku saja." Naura hendak pergi tapi tangannya di tahan.
"Kau tidak boleh pergi sebelum menyelesaikan ini."
"Sudahlah, aku tidak ingin berdebat denganmu."
"Apa kau sadar, kau telah membuat kesalahan." Arya tetap tak peduli dan menahan wanita itu, dia tidak rela jika senyuman Naura di arahkan pada pria lain.
Naura mendorong tubuh Arya agar menjauh dan memberinya sedikit ruang, dia tak mengerti mengapa suaminya itu sangatlah berlebihan dalam bersikap. "Kau cemburu?" ucapnya yang menekan kalimat itu.
"Ya, aku cemburu." Sarkas Arya mengakui perasaannya sekali lagi.
Naura menghela nafas seraya tertawa mendengar perkataan Arya yang terdengar lucu. "Ada kesalahpahaman yang harus di luruskan di sini."
"Apa?" Arya masih tak sabar, emosinya yang tidak stabil mengingat interaksi dari wanita nya dengan pria lain.
"Pria yang ku cemburui itu sudah memiliki istri."
"Berarti dia playboy gadungan."
"Ck, kau kan rekan bisnisnya masa tidak tahu dengan status rekan mu sendiri."
"Untuk apa juga aku memeriksa statusnya, kurang kerjaan saja."
Naura menepuk keningnya, sikap Arya yang tiba-tiba marah tapi tak ingin di salahkan. "Dia memiliki seorang istri yang juga temanku, cinta mereka sangat kuat dan tak akan terpisahkan. Novan hanya menggodamu saja, itu saja kau tidak mengerti. Dasar payah." Ejeknya.
"Hey, sudah cukup kau memberiku gelar."
"Kau bersikap posesif sekali tanpa berpikir jernih, lupakan itu dan kembalilah. Aku tahu kerjasama ini begitu kau nantikan, aku akan membantumu mendapatkannya." Ucap Naura tersenyum seraya mencubit kedua pipi Arya.
Arya yang sempat marah itu akhirnya mengikuti perkataan Naura, selalu menatap wajah cantik di sebelahnya dan tersenyum.
"Aku sangat mencintaimu," ungkapnya menghentikan langkah Naura. "Apa kau tidak mencintaiku walau sedetik saja?"
Naura terdiam, perasaannya yang masih terasa samar belum mampu menjawab pertanyaan itu. "Entahlah, aku juga tidak tahu dengan perasaanku." Jawabnya ragu, kedua matanya tak sanggup memandang wajah tampan itu.
"Apakah kau membenciku?" Arya kembali mengajukan pertanyaan yang sulit di jawab.
"Tidak. Tapi aku sangat nyaman denganmu, kau pria menyebalkan yang membuatku tersenyum." Jawab Naura jujur, dia menyukai keberadaan Arya yang membuat hari-hari nya lebih berwarna.
__ADS_1
Telinga Arya mengembang mendengar perkataan Naura, itu artinya usahanya mulai melihatkan hasil.
"Wah Arya, tampaknya kau berhasil menaklukkan singa betina. Tunggu sebentar lagi dan kau bisa meraih cintanya," ucapnya di dalam hati dan bersemangat. Jangan lupakan pikirannya yang mesum, telah menyiapkan gaya apa saja untuk malam pertama mereka nantinya.