
Saat mendongakkan kepala, pandangan menjadi gelap dan terasa suram , terdengar suara-suara aneh membuat bulu kuduknya meremang. Arya mengelus tengkuk seraya menelan saliva dengan susah payah, tingginya pohon semakin meningkatkan kecemasannya di tambah jantung berdetak lebih cepat dari biasanya. Udara sejuk di malam hari semakin terasa menusuk dan masuk ke dalam pori-pori kulit, tapi tak lebih parah saat trauma menjalar ke seluruh pikiran.
"Astaga, jika aku jatuh itu semua kesalahan kakek. Aku pernah memintanya untuk menebang pohon sialan itu, dan sekarang harga diriku di pertanyakan." Umpat kesal Arya seraya berbalik badan dan melambaikan tangan, tersenyum menunjukkan kalau dia akan memulai memanjat pohon.
Naura sudah tidak sabar dan menyemangati suaminya dari kejauhan seraya mengelus perut yang masih rata, air liurnya hampir menetes saat membayangkan sebentar lagi akan mencicipi rujak mangga muda. "Arya terlihat meragukan, apa dia bisa memanjat?" pikirnya tampak ragu.
Sebelum bereaksi, Arya kembali menatap dahan-dahan tinggi, kembali menelan salivanya dengan susah payah. "Demi calon anakku," ucapnya menyangatkan diri sendiri dan mulai memanjat.
Andai saja Naura memintanya mengambil buah mangga menggunakan galah atau meminta bantuan pelayan itu pastinya sangatlah mudah tanpa harus memanjat, harga dirinya sekarang tengah di pertanyakan. Dia mulai memanjat pohon dari dahan ke dahan, berusaha menjangkau buah mangga muda semampunya.
"Sial. Untuk apa kakek membiarkan pohon mangga yang tinggi ini tetap hidup?" Arya terus saja membual berceloteh bagai burung beo, memantapkan keyakinannya. "Sayang, aku sudah di atas," pekiknya tersenyum lebar melambaikan tangan telah berhasil sampai ke atas.
"Semangat Sayang, kau pasti bisa!" balas Naura berteriak.
Arya menjangkau buah mangga muda dan mendapatkannya, kembali meraih beberapa buah lagi untuk cadangannya. "Aku akan meminta bayarannya," gumamnya tersenyum bangga, memikirkan dirinya mendapatkan jatah sebagai bayarannya.
Perlahan Arya menginjak dahan-dahan yang terlihat kokoh untuk turun, pikiran yang sudah tidak sabar ingin bercinta membuatnya tidak fokus. Salah satu kakinya terpeleset saat menginjak dahan, tubuh yang melayang melawan gravitasi bumi dan terjatuh.
"Pantatku," Arya mengusap bagian yang lebih dulu mencium tanah, rasa sakit menjalar membuat sang istri menghampirinya.
"Mengapa kau bisa jatuh?" tanya Naura khawatir dan membantu suaminya berdiri, membawanya duduk di kursi.
"Aku menginjak dahan yang rapuh," bohong Arya, mana mungkin dia mengatakan semua hal sebenarnya.
"Pasti sangat sakit, aku akan memijatmu nanti." Ujar Naura dengan tatapan iba.
Arya tersenyum menyukai ekspresi yang di tunjukkan. "Tak apa yang terpenting aku mendapatkan buah mangga muda untukmu," ucapnya sambil menyerahkan beberapa mangga muda, demi calon anaknya.
Naura sangat antusias dengan mangga-manga itu dan melupakan suaminya, seketika wajah Arya berubah cemberut.
"Apa mangga itu lebih menarik di bandingkan aku?"
"Apa kau cemburu?" Naura menyerngitkan dahi.
__ADS_1
"Aku pikir ada pencuri yang menyusup. Bagaimana kau bisa jatuh?" ucap seseorang yang berjalan menghampiri mereka, kebetulan dia berada tak jauh dari sana dan dapat mendengar jelas.
"Kakek belum tidur?" tanya Arya yang menatap sumber suara.
"Aku tidak bisa tidur dan mencoba untuk jalan-jalan," jelas Beno yang tersenyum mengejek. "Kau pasti berkhayal meminta upah bayaran membuatmu tidak fokus dan jatuh, mengapa aku bisa mempunyai cucu sepertimu."
Arya memasang raut wajah masam, pikiran kotornya terbaca oleh sang kakek. "Bagaimana kentut tua itu bisa di sini? Apa yang di pikirkan Naura. Ini sangat memalukan." Ucapnya yang tak mungkin di sampaikan selain memendamnya dan menerimanya di dalam hati.
"Kau selalu saja begitu." Naura memukul pelan suaminya.
"Lanjutkan saja, aku pergi dulu." Beno terkekeh dan pergi dari tempat itu,
"Mengapa di usianya sekarang suka sekali mengejekku, dasar kentut tua!" kesal Arya yang langsung mendapat cubitan di lengannya.
"Siapa yang kau sebut kentut tua?" tanyanya menyelidik.
Arya tidak menjawab dan menarik tangan istrinya untuk menjauh dari halaman belakang Mansion, cuaca yang semakin dingin menusuk kulit sampai ke tulang dia tak ingin Naura dan calon buah hatinya bermasalah.
Di kamar, kedua mata Naura berbinar cerah dan ingin seklai melahap mangga muda. "Wah…ini terlihat sangat enak." Gumamnya dan mengambil potongan buah itu yang sudah di bersihkan dan mengigitnya. "Ini luar biasa."
"Hem, terima kasih Sayang." Naura memasang wajah imutnya dan terlihat menggemaskan.
"Sama-sama." Arya mulai tersenyum nakal dan hal itu di perhatikan oleh Naura yang langsung bergidik ngeri.
"Aku merasakan ada hal yang salah."
"Aku ingin bayaranku."
"Jadi kau menolongku tampa pamrih? Oho, kau mulai perhitungan padaku." Tuduh Naura yang menyipitkan kedua matanya.
Arya menghela nafas. "Aku hanya ingin bagianku!"
"Ya ampun, setiap kali aku meminta sesuatu dia pasti memanfaatkannya, pantas saja kakek mengatakan itu tadi." Batin Naura yang jengkel.
__ADS_1
Arya mulai melakukan aksinya dengan membelai lengan dan wajah Naura, memberikan sensasi untuk mencapai keinginannya. "Hanya sekali saja."
"Sepertinya kau lupa, tidak boleh terlalu sering. Kau ingin membahayakan calon anak kita?" ucap Naura melankolis.
"Aku menginginkannya, tapi kau selalu menyinggung hal itu." Arya kecewa dan berjalan menuju kamar mandi, sedangkan Naura tak peduli karena saat ini rujak mangga mudanya lebih menggoda. "Raja drama." Ujarnya yang menggelengkan kepala setelah suaminya menghilang di balik pintu kamar mandi.
*
*
Clarissa melempar semua berang yang berada di jangkauannya, melampiaskan emosi yang tersulut saat mendengarkan kenyataan mengenai nasibnya. Dia berteriak menarik perhatian tim medis yang langsung menghampiri, Anton buru-buru memeluk anaknya memberikan kenyamanan dan menenangkan.
"Kendalikam dirimu!"
"Aarghh, lepaskan aku Ayah."
"Sudah cukup melakukan hal konyol!" sentak Anton dengan nada cukup tinggi, Clarissa terdiam dan menangis kencang.
"Ayah, aku tidak ingin cacat!" Clarissa membalas pelukan ayahnya dengan erat, hatinya rapuh karena belum menerima kondisinya yang tidak bisa berjalan normal.
"Kau masih beruntung karena di beri kesempatan untuk hidup."
"Untuk apa aku hidup jika kakiku pincang, Ayah."
Anton sangat sedih dengan kondisi putri sulungnya. "Ayah tahu itu cukup sulit, berhentilah mengejar Arya karena pria itu suami dari adik tirimu." Dia tahu alasan di balik kecelakaan itu.
"Tapi aku mencintainya, Ayah." Clarissa menangis dan memperdalam pelukannya.
"Kita mulai semuanya dengan membuka lembaran baru."
Clarissa menangis tak berdaya, kesombongan dan sikap arogannya mendadak menghilang karena tak bisa berjalan normal. Dia memang cantik, tapi siapa pria yang mau dengan wanita pincang? Kehidupan berubah total akibat perbuatan dan niat buruknya selama ini.
"Bawa aku pergi dari sini, Ayah."
__ADS_1
Anton sangat sedih mendengar perkataan dari anaknya, bagaimana dia bisa meninggalkan wanita yang di cintainya juga Naura tengah hamil cucunya, pasti sangat sulit. Tiba-tiba hatinya masuk dalam dilema, namun saat ini Clarissa lebih membutuhkannya.