Ayo Menikah

Ayo Menikah
Bab 57


__ADS_3

Naura sangat khawatir mengenai kondisi Arya, berganti posisi dan melakukan penanganan pertama. Bergegas dia mengompres kening suaminya dan melakukannya lembut, sesekali dia melirik jam yang sudah sangat terlambat. 


"Ini sudah sangat terlambat, ini semua salahku sampai dia tidak memperhatikan kesehatannya sendiri." Naura menghubungi sekretaris suaminya dan mengatakan kondisi Arya yang tidak memungkinkan untuk datang ke kantor. "Maaf, kau demam karena aku." Lirihnya sambil menatap sayu. 


Naura memperhatikan Arya semakin menggigil tidak tahan dengan udara sejuk dari AC, secepat mungkin menyelimutinya. 


"Jangan pergi!" 


Dia sangat terkejut saat pria itu memeluk tubuhnya, mengigau dan memintanya untuk tidak meninggalkan. Pria tampan di bawah tatapan sayu semakin tidak mengerti apa yang terjadi pada dirinya. Debaran dan detak jantung berpacu tidak berirama seperti ikut dalam perlombaan, hati tak karuan mengenai yang di rasakannya. 


"Ada apa denganku? Aku merasa berbeda setiap kali Arya memelukku." Batinnya mulai bertanya-tanya, perlahan dia melepaskan pelukan yang kian erat dan tak mungkin terlepas. 


"Tolong jangan pergi lagi," Arya tersenyum membelai rambut indah nan wangi. 


"Siapa yang dia maksud? Apa itu untuk Bella?" pikir Naura yang merasa sedih. 


Arya kembali tidur memeluk tubuh ramping, aroma tubuh menenangkan pikiran yang membuatnya bisa terlelap dengan sangat cepat. Semakin menenggelamkan kepalanya ke leher Naura, hembusan nafas yang terasa begitu jelas. 


Naura semakin berdebar, posisi pria itu membuatnya tak dapat berkutik. "Ya ampun, mengapa dia semakin memelukku? Apa dia sengaja melakukan ini? Andai saja aku lupa kalau dia sedang demam, mungkin sudah memberinya pelajaran." Kesalnya. 


Beberapa lama kemudian, perlahan dia membuka mata dan tersenyum bahagia saat pertama kali yang di lihat adalah wajah tampan dari istrinya. "Aku tersanjung ternyata diam-diam kau memelukku," ucapnya di setengah kesadaran. 


"Sebelum bicara pulihkan dulu kesadaranku, lihatlah siapa yang memelukku sekarang." Balas Naura kesal.


Arya sedikit sedih dengan faktanya bahwa dia sendirilah yang memeluk wanita itu. "Tapi mengapa kau ada di sini?" 


"Apa otakmu konslet terkena air hujan semalam? Kau sangat ceroboh karena tidak memikirkam dirimu sendiri." Cetus Naura menjauhkan diri dan mengambil jarak. 


Arya cengengesan seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Terima kasih kau sudah membantuku." 

__ADS_1


"Bukan kau tapi akulah yang harus berterima kasih, kau menjagaku dan merawatku semalaman." Ucap Naura melembut, biar bagaimana pun Arya tetaplah yang menyelamatkannya. 


"Sudah kewajibanku, kau masih istriku yang sah." 


Naura memahami sisi baik dari Arya yang begitu perhatian padanya menjadikan nilai plus dimata, namun dia tidak tahu mengenai apa yang di inginkan hatinya dan apakah pria itu mencintainya dengan sungguh-sungguh atau dia hanya di anggap sebagai pengganti kembarannya. 


Hingga dia menyadari sesuatu yang salah, dan bodohnya baru menyadari sebuah perubahan kecil namun sangat besar baginya. Kedua mata terbelalak, menyadari pakaiannya sudah berganti dan juga…dia memeriksa bagian dadanya dari sela leher, dan benar saja. 


"Ya ampun, aku memakai dalaman berwarna hitam, tapi mengapa berubah berwarna merah menyala?" Naura sangat shock bahkan tak bisa menutup mulutnya yang menganga tak percaya. 


"Itu karena aku yang menggantinya." Sahut Arya santai. "Pakaianmu basah kuyup sampai ke dalam, jadi aku menukarnya." Sambungnya tanpa beban. Bagaimana tidak? Dia sedikit sedih karena tidak bisa menikmati pemandangan itu secara keseluruhan, tapi berhasil sedikit mengambil kesempatan dengan mengintipnya. 


Bugh


Sebuah lemparan bantal tepat mengenai wajah tampan itu, serangan mendadak tak sempat dia elakkan, khayalan sebagai pria normal seketika buyar, raut wajahnya berubah manyun. "Kau tahu? Tindakanmu ini bisa aku laporkan dalam kasus tindakan kekerasan dalam rumah tangga." 


"Dan aku melaporkanmu atas kasus pelecehan." Luapan amarah saat tahu pria yang sebagai suaminya itu telah mengganti pakaiannya luar dan dalam. 


Sontak Naura tak terima kalau pria itu mengganti pakaiannya, bisa saja Arya mengambil kesempatan dan mengambil keuntungan darinya. "Enteng sekali kau berbicara, aku di lecehkan disini." 


"Yang melecehkanmu siapa? Aku tidak tega kalau kau semakin sakit tidur sbil mengenakan pakaian basah." Ungkap Arya yang jujur membuat Naura luluh dan perlahan meredakan emosinya. 


"Bagaimana caramu mengganti pakaianku?" 


"Dengan menutup mata, sesekali aku mengintipnya juga." Jawab Arya polos dan terlewat jujur. 


"APA?" tentu saja Naura sangat terkejut hingga bersiap-siap untuk melemparkan bantal serangan kedua. 


"Apa dayaku? Bagaimana aku memasangnya secara terbalik? Itu hanya akan menguntungkanku. Lupakan saja, lagipula aku sudah pernah melihat tubuhmu yang polos sebelumnya, bahkan masih ingat bentuknya sampai sekarang." 

__ADS_1


Bugh


"Auh, kau kasar sekali." Ringis Arya yang berpura-pura kesakitan tapi menikmatinya, dirinya di untungkan berkali-kali lipat. 


"Kau pria mesum yang aku temui, jika sekali lagi kau melakukan itu? Maka kau aku gantung di pohon!" sarkas Naura yang menahan malu, lagi dan lagi tubuhnya terlihat jelas dan polos di hadapan pria itu, harga dirinya seakan jatuh. 


Arya mengatur nafasnya naik turun dan ikut berdiri, memandang wanita itu dengan keberanian penuh dan melakukan aksi protes karena di salahkan sepenuhnya. "Kau menyalahkan aku, begitu? Biar aku tunjukkan bagaimana reka ulang dari zadegan caraku mengganti pakaianmu." 


Seketika itu pula nyali Naura menciut, bersikap waspada dengan memundurkan langkah saat Arya berjalan mendekat. "Ka-kau mau apa?" 


"Kau tuli? Aku akan melakukam reka ulang, agar kau tidak salah paham padaku." 


"Kau tidak bisa melakukannya reka adegan ulang kembali." Tegas Naura yang sejujurnya sangat takut melihat kemarahan dari pria itu, persis seperti hantu. Sangat cemas saat tubuhnya terpojok ke dinding dan tidak bisa mundur lagi, dia ingin menghindar tapi dua tangan kekar satu persatu mengurungnya. "Terkadang emosi keluar dengan sendirinya, jangan di ambil hati." Ucapnya tersenyum kikuk. 


"Tadi kau begitu berani memukul wajahku, kemana bantal itu? Ayo pukul aku lagi." 


Naura menelan saliva saat menyentuk tubuh atletis suaminya, perut kotak-kotak terasa sangat jelas yang membuatnya berkeringat dingin. "Aku rasa ini terlalu dekat." 


"Harusnya kau terbiasa dengan suamimu yang mesum ini." 


"Ha tidak, aku tadi hanya bercanda." 


"Sungguh? Ayo pukul aku lagi." Arya semakin menggertak wanita itu, jauh di lubuk hatinya yang tertawa lepas melihat reaksi yang di tunjukkan oleh Naura. 


Naura semakin gemetar ketakutan, keringat dingin mengalir melewati pelipisnya. "Dia tersinggung, bagaimana ini. Aku dalam masalah besar, ya Tuhan tolong bantu aku." Ucapnya di dalam hati sembari berdoa. 


Raut wajah Arya yang terlihat menakutkam benar-benar menghancurkan nyali Naura, ketakutan sampai-sampai tubuh wanita itu bergetar ketakutan. 


"Ayo pukul aku lagi." Tantang Arya dengan suara tegasnya. 

__ADS_1


"Tidak akan aku lakukan, maafkan aku." Pekik Naura seraya memeluk tubuh Arya menghindari amukan kemarahan pria itu, memejamkan kedua mata karena sangat takut. 


Arya terdiam menikmati pelukan hangat itu, kedua sudut bibirnya melengkung dengan sempurna. 


__ADS_2