
Amar mengemasi semua barangnya dan keperluan untuk meninggalkan Mansion Atmajaya, tak masalah baginya mengalah sementara waktu. Dia memahami karakter dari sang kakek yang tidak akan marah dan hanya membutuhkan sedikit waktu longgar.
"Hah, aku hanya perlu mengemasi beberapa pakaian saja." Monolog Amar yang tidak menganggap kemarahan sang kakek sebagai riwayat dari akhir hidupnya. "Terserah bagaimana pria tua itu mengusirku, hanya dengan merubah sikap dan menunjukkan kalau aku benar-benar berubah maka semuanya akan seperti semula. Kau boleh bersenang-senang Arya, tunggu aku beberapa bulan lagi dan merebut hak ku." Gumamnya di dalam hati seraya tersenyum miring.
Pintu terketuk membuatnya sedikit kaget, dia menoleh dan melihat salah satu pelayan berdiri di ambang pintu. "Maaf, menganggu Tuan."
"Hem, ada apa?"
"Seseorang mengantarkan nona Lili dan sepertinya terkena gangguan mental."
"Ck, gangguan mental apanya? Semalam dia sehat." Amar menganggap remeh perkataan dari sang pelayan.
"Anda bisa melihatnya sendiri." Jawab sang pelayan sedikit membungkukan tubuh sebagai penghormatan pada majikan.
__ADS_1
"Hah, baiklah." Dengan malas Amar meninggalkan aktivitas dan terpaksa menunda demi menyelesaikan permasalahan sang kekasih.
Satu persatu anak tangga di lewati Amar, memicingkan kedua mata saat melihat seorang wanita dari kejauhan. "Kemana dia semalam? Aku harus menanyainya." Bergegas menghampiri dan menatap penampilan sang kekasih yang berantakan.
"Berhenti disana, selangkah kau maju maka aku akan membunuhmu. Sialan." Pekik Lili sambil menunjuk wajah Amar. Penampilan yang sangat-sangat berantakan, mulai dari dandanan dan juga gaunnya yang sedikit robek.
"Kau tampak buruk."
Sontak Lili meletakkan jari telunjuknya di bibir Amar, menandakan kalau pria itu tidak boleh bersuara. "Kau tahu apa yang aku lakukan?" ucapnya bersemangat.
"Mendekatlah," bisik Lili yang dengan bodohnya di patuhi Amar. "Aku bergoyang seperti ikan terdampar. Plu…plu…plu," teriaknya spontan membuat pria malang itu merasa gendang telinga seperti meledak.
Lili tertawa bahagia seraya menggoyangkan tubuhnya seperti sebuah ikan yang menggelepar di atas darat, mulut yang seperti mulut bebek dan kedua mata dikedipkan. "Plu…plu…plu." Ujarnya tak jelas di iring goyang ikan kehabisan air.
__ADS_1
"Eh, pantas saja pelayan itu mengatakan dia gila. Apa Lili mabuk?" gumam Amar yang mendekatkan wajahnya untuk memastikan apakah wanita itu mengkonsumsi alkohol.
Plak
Niat Amar tertahan di iringi dengan tamparan keras di wajah, menatap sang pelaku yang terus menjadi seekor ikan terdampar di darat. "Kenapa kau menamparku?" pekiknya seraya mengelus pipi yang sedikit memerah, hari yang begitu sial mendapatkan sebuah hadiah tiga tamparan.
"Aku ikan, kau tidak boleh menciumku."
Amar sangat kesal dan memastikan kalau wanita itu mengkonsumsi alkohol, kembali mendekatkan wajahnya. "Aku tidak mencium alkohol, tapi baunya tidak terasa asing, tapi apa? Ya Tuhan…aku baru ingat jika aroma di mulutnya itu bau sp*rma." Kedua matanya terbelalak kaget dan menatap dalam Lili penuh penyelidik. Dia mencengkram bahu wanita itu erat hendak mengajukan banyak pertanyaan. "Kau habis tidur dengan siapa? Berani sekali kau mengkhianati aku." Geramnya.
"Tidak ada yang bicara dengan ikan, apa kau juga ikan?" tanya Lili melantur, bukan di sebabkan oleh alkohol melainkan bubuk kecubung yang di konsumsi saat selesai berhubungan intim dengan pria gigolo bayaran.
Ya, Lili sudah merasakan efek dari bubuk kecubung itu dan terus saja seperti ikan yang kehabisan air. Sementara Amar sangat bingung dan juga marah bercampur menjadi satu, tidak tahu apa yang menyebabkan kekasihnya bisa seperti itu dan parahnya usai berhubungan dengan pria lain. Lain halnya pada seseorang yang mengintip di balik tirai, terkekeh melihat efek bubuk kecubung buatannya mulai bekerja.
__ADS_1
"Rasakan kamu, ulat bulu." Umpat kesal Naura sembari terkekeh geli.