Ayo Menikah

Ayo Menikah
Bab 30


__ADS_3

Semakin hari berada di Mansion Atmajaya Naura selalu terbebani dengan keberadaan Arya yang seakan menguasainya dalam berbagai aspek, dia tak tahu dan hampir kehilangan kewarasan menghadapi pria yang masih menjadi suami kontraknya. 


Naura menghela nafas dengan jengah, dia sangat bosan berada di dalam kamar tanpa melakukan aktivitas apapun. "Demi kewarasan tetap terjaga, persetan dengan semua peraturan yang di buat Arya." Sekilas terlintas pikirannya mengenai gudang. "Aku melupakan nya lagi," keluhnya.


Naura mengintip di balik pintu yang tidak terkunci, memperhatikan beberapa titik CCTV tanpa diketahui. Dengan menggerakkan kedua bola mata menghitung keseluruhan kamera tersembunyi, yakin jika Arya mengawasinya setelah dia keluar kamar tanpa pintu terkunci.


"Ya Tuhan, kenapa aku tidak memperhatikan ini sebelumnya? Eh, tunggu dulu…awal aku datang tidak sebanyak itu, kapan pria gila itu memasangnya?" batin Naura yang sedikit menggelengkan kepala. "Fix, ternyata aku benar kalau pria itu gila." 


Naura kembali masuk ke dalam kamarnya dan mulai menjalankan rencana untuk menyelinap ke gudang yang menyimpan teka-teki yang harus dia pecahkan. Sedangkan seseorang yang mengawasi di balik layar ponsel mengerutkan dahi dan kembali melanjutkan pekerjaannya. 


Beberapa saat kemudian, Naura sudah berdiri di depan gudang setelah bersusah payah menyelinap menghilang dari pengawasan CCTV. Sorot matanya  menatap kagum dengan tempat itu, jemarinya bergerak ke gagang pintu yang ternyata di kunci. "Bahkan pintu ini tak akan bisa menghalangiku dari rasa penasaran yang tinggi." Lirihnya pelan tersenyum meremehkan, dia sudah menyiapkan persiapan untuk melangkah. 


Kedua tungkai kakinya masuk ke dalam gudang yang sangat berdebu, kembali menutup pintu agar tidak menimbulkan kecurigaan semua orang. Kedua tangan bergerak menghalau debu pengganggu, menyorot benda-benda di sana menggunakan senter flash di ponsel. Perlahan tapi pasti, dengan cermat Naura menelaah setiap sudut dan inci berharap menemukan sesuatu yang mengobati rasa keingintahuan. 


Siku tangan yang kurang waspada menjatuhkan sesuatu yang sangat berdebu, dia menoleh dan berjongkok memberesi tapi perhatiannya malah teralihkan pada sebuah album foto yang terlihat bagus. 

__ADS_1


Dengan pasti satu persatu lembaran kaku itu di buka dan tersenyum melihat penampilan Arya. "Ck, ternyata fotonya jaman dulu benar-benar model kuno." Ejeknya menertawakan style suami kontraknya yang culun. 


Saat lembaran kaku berikutnya, dia sangat terkejut melihat seorang wanita yang wajahnya sangat mirip dengannya. 


Dia mundur perlahan dan tak sengaja menjatuhkan berkas lama yang sedang, terduduk akibat rasa shock yang menyelimuti pikiran nya saat ini. 


"Siapa wanita ini? Dan dia sangat mirip denganku?" Begitu banyak tanda tanya di kepalanya saat ini, tidak mungkin dia bertanya langsung pada Arya. Yang lebih mengejutkannya adalah Amar juga berada di sebelah wanita yang sangat mirip dengannya, tiga orang dalam satu foto. 


"Aku tidak merasa berfoto dengan mereka dan juga cara berpakaian wanita ini berbanding terbalik denganku." Ucapnya di dalam hati. 


Naura mengambil foto itu dari album dan membaliknya, perlahan pertanyaannya terjawab saat ada nota di sana. "Arya, Bella, dan Amar." Lirihnya, seketika itu pula ingatan muncul pernah mendengar suami kontraknya mengigau menyebut nama wanita yang ada di dalam foto. 


Arya membuka pintu kamar dan tersenyum melihat seorang wanita yang begitu merindukannya, memberikan kecupan di pucuk kepala Naura lembut. Dia merasa aneh saat tak mendapatkan penolakan seperti yang sudah-sudah, duduk di sebelah istrinya dan menatapnya dengan seksama. 


"Kau tidak apa-apa?" 

__ADS_1


"Aku baik, tak perlu mencemaskan aku." 


"Tapi kau tidak terlihat begitu." 


"Apa hubungan di antara kita? Jangan memberikan perhatian, itu akan membuatku sulit membedakan dan bisa salah paham dengan sikapmu padaku."


"Aku bertanggung jawab padamu sampai masa kontrak selesai." 


"Tidak ada orang disini selain kita dan pekerja Mansion, hal semacam kecupan itu tidak di perlukan di dalam kamar." 


Arya terdiam karena dia juga spontan melakukan itu. 


"Berhentilah bersikap seolah kau itu suamiku yang penuh cinta, sebaiknya kita menjauh."


"A-apa?" 

__ADS_1


"Ya dalam istilah menjaga jarak, tidak perlu mengurungku seperti ini. Aku bersekolah tinggi untuk mengejar karir dan membuat namaku sendiri bukan menjadi istri kontrak yang terkurung dalam sangkar emas." Naura berlalu pergi meninggalkan tempat itu, dia ingin menuntaskan rasa penasaran dengan menemui seseorang yang tepat. "Aku harus menanyakan ini pada wanita itu," monolognya. 


"Dia aneh sekali, tiba-tiba dia menyuruhku menjauh." Gumam Arya menggelengkan kepala, menggaruk kepalanya yang tidak gatal. 


__ADS_2