Ayo Menikah

Ayo Menikah
Bab 39


__ADS_3

Naura mengurus semua keperluan suaminya di rumah sakit dengan meninggalkan pekerjaan rumah, beruntung mempunyai rekan kerja seperti Lita yang langsung memahami situasinya saat ini. Sementara Arya merasa kalau dia sangat beruntung dan diam-diam meminta dokter memonopoli hati perawatan disana. Ya, karena kekuasaan yang dimiliki olehnya mampu membuat dokter dan pihak rumah sakit bungkam, seharusnya dia sudah pulang saat ini namun akan di pulangkan besok. 


Entah apa yang merasuki Arya saat ini, diam-diam meminta pihak rumah sakit memindahkannya ke ruangan yang lebih sempit tanpa sofa dan hanya tersisa brankar lebar yang muat untuk dua orang saja. Tersenyum kemenangan saat melihat Naura kebingungan akan tidur dimana malam ini, mencari kesempatan dalam kesempitan dia memanglah ahlinya. 


"Kenapa kau harus pusing, tidurlah di sebelahku!" ucap Arya yang langsung menawarkan dan menggeser tubuhnya memastikan ada lahan kosong yang bisa di akusisi oleh wanita itu. 


Naura menatap sisi kosong brankar sambil menggigit jari, ragu apakah dia harus tidur di sebelah pria itu atau tidak. "Sepertinya ide yang buruk." 


"Ayolah! Apa kamu melihat ada tempat tidur selain disini? Tidak mungkin kau memilih tidur di lantai yang sangat dingin bahkan menusuk ke tulang itu." 


Naura menatap Arya penuh penyelidik, menolak pinggang karena mau saja menuruti permintaan konyol pria tampan itu. "Sebaiknya aku pulang saja." 


"Apa kau tega meninggalkanku sendirian disini? Apa kau tidak mendengar bagaimana dokter mengatakan kalau aku baru bisa kembali besok." 


"Kau sangat merepotkan sekali." Dumel Naura yang terpaksa naik ke atas brankar san membaringkan tubuhnya di sana, jika bukan karena dokter dia juga tak ingin menemani pria itu. Sayang sekali dia tidak tahu permainan pria itu yang nekat demi melancarkan aksi pendekatan mereka, tapi dia tetap tidak peduli dan tidur dalam posisi membelakangi sang suami menumpukan tangan sebagai bantal. 


Lagi dan lagi dua sudut bibir kembali terangkat ke atas, menatap punggung tanpa jarak membuatnya sangat bahagia apalagi setelah memastikan perasaannya. Hendak meletakkan sebelah tangan untuk memeluk, namun suara ketegasan wanita itu mulai menghantuinya. 


"Jangan memelukku," ucap Naura memperingati tanpa menoleh. 


"Ya Tuhan…sangat susah membuat wanita ini tunduk." Batin Arya tersenyum kecut, tapi itu tak bertahan lama dan berangsur tersenyum cerah. "Maaf, tapi lengan ku sangat sakit dan butuh tumpuan." Kembali sebuah alasan begitu lancar di sebutkan olehnya, meletakkan tangan kanan di atas tubuh wanita itu dengan dalih kesehatannya. 


"Kau sangat merepotkan sekali," protes Naura. 


"Apa kau pikir aku ingin seperti ini? Kecelakaan itu merenggut rutinitasku untuk beberapa hari ke depan sampai lengan ku membaik." 

__ADS_1


"Benar-benar menyebalkan," umpat Naura kesal dan berusaha untuk tidak peduli, memejamkan mata dan beberapa saat terlelap. 


Arya sangat menyukai aroma tubuh Naura yang membuatnya sangat candu, menggeser tubuhnya agar bisa merasakan kedekatan yang hangat dan nyaman itu. Terdengar dengkuran halus di telinga, mengambil kesempatan merubah posisi hingga mereka berhadapan satu sama lain, tak masalah jika tangan kirinya menjadi ganjalan kepala seperti bantal. 


"Kau sangat cantik saat tertidur," gumam Arya sambil memberikan kecupan lembut di dahi Naura dan perlahan menyingkirkan rambut penghalang, memperhatikan wajah itu dengan seksama. "Bahkan perasaanku padamu lebih besar daripada saat bersama Bella, aku baru menyadari kalau dulu hanya obsesi dengan kembaranmu." Ungkapnya di dalam hati. 


Lama Arya menatap kagum dan memuja wanita dalam dekapannya, berharap jika waktu terhenti dengan membiarkan apa yang terjadi. Hembusan nafas yang sangat kental terasa dan dengkuran halus itu menjadi alunan berirama, perlahan kedua matanya mengatup dan terlelap dalam posisi berpelukan. "Semoga mimpi indah," lirih pelannya.


Di pagi hari yang indah, sinar mentari berhasil lolos menembus jendela kaca hingga masuk ke dalam ruangan, menyentuh pori-pori kulit yang langsung di respon dengan sangat baik. 


Naura membuka matanya perlahan dan sangat terkejut dengan posisi saat ini, menjauhkan tangan suami kontraknya. 


"Pantas saja aku merasa sesak, bagaimana aku bisa di peluk?" ucap pelan Naura seraya berpikir kelogisan, apakah dia yang bersalah atau Arya. "Hei, bagunlah!" cetusnya menggoyangkan tubuh pria itu. 


"Hem, ada apa?" tanya seseorang yang tidur sangat pulas sekali, menatap wajah Naura sekilas dan kembali dengan posisi awal mereka. Suara khas bangun tidur dan mengacuhkan membuat seseorang kesal. 


"Berhentilah membual, kau bahkan tidak tahu bagaimana sakitnya lengan kiriku di jadikan bantal semalaman." Ujar Arya dengan suara serak di pagi hari terdengar seksi. 


"Benarkah? Mungkin saja kau mengambil kesempatan saat tidur." Tuduh Naura yang ingin membela diri dengan menjaga sedikit jarak di antara mereka.


"Aku? Aku tidak cukup bodoh mengorbankan lengan kiriku, dan kedua tanganku ini tak bisa di gerakkan." 


"Itu kesemutan dan sebentar lagi pulih, tidak perlu dramatis." Naura hendak beringsut dari atas brankar, tapi sangat terkejut saat tangannya di tarik dan jatuh ke atas dada bidang Arya juga tak sengaja menyentuh perut kotak-kotak pria itu.


Arya menang banyak dengan kecerdasan otak yang dimiliki, kembali tidak ada jarak di antara mereka dan mengambil kesempatan emas sebaik mungkin. 

__ADS_1


Cup


Satu kecupan singkat dan lembut, Naura bahkan tidak bisa memprediksi ulah Arya yang kembali mencari keuntungan dari kepolosannya, tanpa di sadari jika dia memiliki kekurangan. 


"Berani sekali kau menciumku." Protes Naura yang menghapusnya menggunakan tangan, tatapan membunuh terarah pada pria itu. 


"Aku ingin mengatur posisi ku agar nyaman tapi tak sengaja mencium bibirmu. Ah, itu tidak bisa di sebut ciuman tapi kecupan." 


"Kau menarik tanganku." 


"Karena air mineral ada di sebelahmu, kau terburu-buru membuatku terpaksa menariknya." Arya begitu pintar beralasan, diam-diam tersenyum sangat tipis terukir di bibirnya. "Aku haus," ucapnya lagi yang kali ini menatap Naura dengan wajah penuh iba. 


"Hanya karena itu kau menciumku?" balas Naura menyelidik. 


"Tidak. Aku tak akan menjelaskan dua kali," ujar Arya sambil memegang tenggorokan yang terasa kering. "Kau selalu saja berdebat denganku, setidaknya biarkan aku minum." 


Naura menghela nafas panjang menuangkan segelas air dan menyerahkannya. "Ambillah." 


"Hei, apa kau tidak lihat kondisi kedua tanganku sekarang?" 


"Kau tidak mengalami patah tulang." 


"Tadinya aku bisa menggunakan tangan kiriku," Arya memberikan kode agar Naura membantunya untuk minum. 


Naura kembali menghela nafas jengah, merasakan dirinya telah di permainkan. Namun sayang, Arya yang terlalu pintar beralasan logis membuatnya harus mengalah demi kewarasannya menghadapi suami kontraknya. "Kau sangat cerewet." Cibirnya. 

__ADS_1


Arya membalasnya dengan senyuman, tidak peduli seberapa jengkelnya Naura dan terpenting dia mengetahui perasaan yang sebenarnya dan mencuri beberapa kesempatan menaklukkan wanita itu. 


"Ayo Arya, tunjukkan kehebatanmu dalam menaklukkan singa betina." Batinnya menyemangati diri sendiri. 


__ADS_2