
Brak
Naura yang begitu bersemangat ingin menemui temannya terhalang oleh sebuah dada bidang, wajahnya menghantam dengan sangat keras membuatnya meringis seraya mengusap hidung mancungnya. Dia mendongakkan kepala menatap sang pelaku, menghela nafas sekaligus bingung mengapa pria itu ada di depannya.
"Aku ingin kita bicara!" tegas pria itu.
Naura merogoh saku celana untuk melihat jam. "Maaf, aku sudah terlambat temu janji. Bicarakan nanti saja." Ucapnya yang hendak menerobos, tapi tangannya malah di cekal dan kembali berhadapan dengan pria itu.
"Aku ingin membicarakannya sekarang."
"Tolong mengertilah, aku tidak punya waktu sekarang dan akan terlambat. Lagipula kita satu kamar, bicarakan saja nanti." Tolak Naura yang mulai jengah dengan sikap pria itu yang tidak bisa di prediksi.
Arya sangat kesal, mengurung tubuh wanita itu dan tidak memberikan jarak. Kedua manik mata elangnya menatap sepasang bola mata indah dan terlihat jengkel akibat ulahnya.
"Dua menit."
__ADS_1
"Apa?"
"Waktu tersisa satu menit lima puluh detik."
"Aku tidak ingin kau pergi menemui teman pria mu itu." Tegas Arya menekan.
"Memangnya kau siapa yang mulai mengatur kehidupan privasiku? Kita hanya menikah karena kesepakatan saja, dan berakhir."
"Tapi kau masih menjadi tanggung jawabku."
Arya menatap kepergian Naura yang berhasil menerobosnya, hatinya masih tidak rela jika sang istri kontraknya akan bertemu dengan pria lain. Bergegas menghampiri, menggendong tubuh ramping itu seperti sekarung beras tanpa peduli bagaimana tatapan orang-orang yang melihat keributan itu.
"Hey, turunkan aku!" pekik Naura memukul punggung Arya.
Arya terus berjalan dengan tatapan lurus ke depan, menuju ke dalam mobil dan memaksa wanita itu masuk ke dalam. "Diamlah!"
__ADS_1
"Ada apa denganmu?" Naura memaksa untuk keluar, tubuh yang tidak seimbang di tambah lagi dengan Arya yang tidak siap membuat keduanya jatuh dalam posisi romantis. Tanpa sengaja kedua bibir mereka saling mengecup, terdiam seribu bahasa dengan kejadian yang tidak sengaja.
Naura mendorong tubuh Arya agar menjauh dari tubuhnya yang di tindih, mengusap bekas kecupan bibir basah menggunakan punggung tangannya. "Apa yang kau inginkan?" teriaknya jengkel.
"Aku ingin kau tidak menemui pria itu."
Perdebatan keduanya terhenti saat ponsel berdering, Naura hendak mengangkat telepon tapi langsung di sambar oleh pria itu dan melemparkannya masuk ke dalam selokan.
"ARYA!" pekik Naura histeris, privasinya kembali di lempar ke dalam selokan. Raut wajahnya yang panik dan segera mencari benda pipih yang ternyata sudah hanyut oleh air. Dia mendongakkan kepala sambil menghirup oksigen sebanyak mungkin, mengeluarkannya secara perlahan mengatur dan mengontrol emosi. "Kau sangat keter__." Belum sempat dia mengeluarkan uneg-unegnya, mulutnya di sambar dengan sebuah ciuman memaksa.
Arya mencium paksa bibir istrinya dan menjadi pusat perhatian, diam-diam beberapa orang mengambil momen itu dan membaginya lewat media sosial. Dalam sekejap menjadi trending topik dan tersebar luas di jejaringan sosial.
Naura ingin melepaskan ciuman itu, tapi tangan kekar yang melingkar di pinggangnya semakin menekan hingga dirinya pasrah dengan kondisi itu.
"Permisi…permisi, ada berita apa hingga kalian berkumpul?" tanya Lita menerobos orang-orang dan terkejut melihat momen romantis sang sahabat. "Ck, katanya tidak menyukai Arya. Apa ini? Mereka malah berciuman di hadapan publik, membuatku iri saja." Dumelnya merogoh ponsel dan ikut mengabadikannya.
__ADS_1