
Perayaan di kantor akan di adakan setahun sekali dan bertepatan besok, Arya dan Amar harus bekerja sama untuk membuat acara berjalan lancar sesuai dengan perintah sang kakek.
Inilah saat yang ditunggu-tunggu oleh Lili, dimana dia sudah menyiapkan sebuah rencana matang untuk membalas dendam pada Naura dengan merebut suami dari mantan sahabatnya sendiri. Yap, pikiran picik juga licik menyelimuti isi otaknya yang terlampau di penuhi kedengkian dan rasa cemburu dengan kesuksesan orang lain.
"Bagaimana persiapan acaranya?" tanya Lili bersemangat, mengalungkan kedua tangannya di leher sang kekasih dan tak lupa memberikan kecupan lembut di pipi pria itu.
"Hampir selesai." Jawab singkat Amar yang sebenarnya tidak ingin mengatur acara bersama dengan Arya, karena sebelumnya posisi dia lebih tinggi dan merasa terhina saat menjadi wakil.
"Eh, biasanya kau bersemangat dengan acara tahunan."
"Tentu saja, tapi situasinya sangatlah berbeda."
Lili membalasnya dengan senyuman, jauh di lubuk hati yang merendahkan pencapaian Amar saat ini. "Pria tidak berguna, kau akan aku campakkan." Ucapnya di dalam hati.
__ADS_1
Amar sangat pusing dengan acara yang menurutnya sangat membosankan, semenjak pernikahannya batal, semua orang perlahan menjauh dan mengejeknya. Pikiran bagai benang yang kusut, segera menarik tangan Lili dan mendongakkan kepala penuh harap. "Hanya kau yang bisa menyembuhkan masalahku." Ungkapnya mengecup halus jemari lentik itu.
Lili menolaknya secara halus, tahu kemana arah pembicaraan selanjutnya yang berujung pada adegan ranjang. "Maaf, aku sepertinya tidak bisa melayanimu sekarang." Perlahan dia menarik tangannya sambil tersenyum paksa.
"Ayolah, aku menginginkanmu."
"Aku harap kau mengerti."
Amar menghela nafas jengah, hasrat yang tak terpenuhi semakin menyulut emosi. "Apa gunanya wanita ini jika hasratku saja tak di penuhi, lebih baik aku menghubungi wanita malam yang lebih seksi darinya."
Angin berhembus menerpa wajahnya yang cantik, menyingkirkan rambut coklat yang di sangat mengganggu, Naura merutuki dirinya sendiri, betapa bodohnya dia menandatangani perjanjian pranikah tanpa berpikir panjang juga. Dia termenung mengingat dirinya yang ceroboh malah terjebak dalam permainan mantan calon adik iparnya, namun pikirannya teralihkan pada sebuah gudang saat pertama kali menginjakkan kaki ke Mansion Atmajaya.
"Aku sampai lupa untuk menyelidiki gudang." Monolognya yang pernah melihat sekelebat bayangan hitam.
__ADS_1
"Aku sudah menyiapkan gaun untuk besok, apa kau sudah mencobanya?" ucap seseorang memecahkan lamunan Naura.
Naura menoleh ke sumber suara sekilas dan mendelik, keberadaan Arya membuat suasana hatinya semakin berantakan. "Heh, apa aku harus menuruti setiap perkataan dna keinginanmu? Mengapa aku merasa kalau kau menganggapku sebuah boneka mainan yang bisa kau atur." Ujarnya yang protes, reaksi diam sejenak tergambar di wajah pria di sebelahnya.
"Kau melantur, aku hanya berusaha menjadi suami yang baik agar semua orang percaya kalau kita pasangan serasi juga romantis."
"Dengan menjadikan aku boneka mainan? Apa kau tidak sadar bagaimana sikapmu yang mulai mengatur juga mengekangku?" Naura sudah muak dengan sikap Arya.
"Itu hanya perasaanmu saja."
"Itu dua hal yang berbeda, dan sesekali aku pernah mendengarmu mengigau."
Arya mengangkat sebelah alisnya menatap istri kontraknya. "Mengigau?"
__ADS_1
"Ya. Setiap kau mengigau selalu memanggil nama Bella, siapa wanita itu? Apa itu yang menjadi alasan mengenai sikapmu yang semakin aneh?" tukas Naura, sejujurnya dia sangat penasaran dengan masa lalu pria itu yang pernah beberapa kali mengigau dengan menyebutkan nama seorang wanita yang sama. Bisa saja sikap dari alam bawah sadar masih tertinggal dan mempengaruhi masa depan.
Arya terdiam untuk waktu yang cukup lama, wajah sang istri sangat mirip dengan wanita di cintainya dari masa lalu. Tak bisa di pungkiri, jika kehadiran Naura mengganti hari-harinya yang kelam dengan penuh warna. Kebersamaan itulah terselip sebuah rasa yang tidak bisa dia pecahkan, apakah dia mencintai Naura karena wajahnya yang mirip Bella atau menganggapnya sebagai pengganti?