
Naura sangat puas dengan pembalasan yang menurutnya sangat setimpal dengan apa yang di lakukan oleh Lili padanya, sudah lama dia diam dan berusaha cuek dengan keadaan yang di perbuat oleh wanita yang pernah menjadi sahabatnya itu.
Kesenangannya berubah di saat seseorang memegang kerah leher baju yang sedang di pakai olehnya, menariknya seperti anak kucing. Secepat kilat dia menoleh dan melihat sang pelaku yang tak lain Arya, mendelik kesal karena itulah yang bisa dia lakukan sekarang.
"Hayo, apa yang kau lakukan?" Arya tersenyum melihat apa yang terjadi dengan sangat jelas, tentu saja dia berhasil menangkap mangsa dan membawa wanita itu menjauh. "Jadi itu rencanamu?"
"Itu akibatnya mengganggu orang sepertiku, dan kau mulailah untuk berhati-hati." Kecam Naura menunjuk wajah pria itu. "Lepaskan kerah bajuku!" tegasnya.
Arya tersenyum tipis dan melepaskan cengkramannya. "Wah…aku baru tahu ternyata kau licik juga."
"Bukan licik tapi pintar," ralat Naura.
"Ya, baiklah. Tapi aku penasaran kenapa Lili seperti itu."
Naura membenarkan bajunya. "Efek bubuk kecubung," jawabnya tanpa menoleh.
"Bubuk kecubung, apa itu?"
__ADS_1
"Sejenis tanaman yang seperti terong dan bunganya berbentuk terompet, jika kau mengkonsumsi itu maka kesadaranmu akan menghilang. Lebih tepatnya berhalusinasi selama beberapa hari, bisa tiga hari atau tujuh hari dan yang paling parah akan tetap seperti itu juga mengalami kematian." Jelas detail Naura, rasa kesal pada Lili karena ingin menjebaknya tak bisa di toleransi lagi.
"Kau tidak sepolos yang terlihat," goda Arya yang sangat menyukai kepribadian baru istrinya itu, dia mengira Naura wanita yang lemah dan mudah di tindas tapi diluar dugaannya.
"Aku akan diam sekali atau dua kali dia berbuat, untuk ketiga kalinya? Oh tidak." Jawab Naura sombong.
Arya tersenyum kagum dengan moto dari wanita itu dan mulai menjadi pengagum rahasia. "Dia sangat berbeda dengan Bella." Batinnya.
Naura menarik tangan Arya untuk melihat drama, berjalan menghampiri sepasang pengkhianat dengan senyuman manis.
"Ku harap kau menghentikan kebiasaan burukmu mulai sekarang, tidak tahu kapan kau kehabisa uang." Celetuk Arya tersenyum mengejek.
"Hah, jangan lupa bawa Lili ikut bersamamu. Sepertinya dia mulai gila," sambung Naura menahan tawa.
"Ck, aku tidak akan membawanya pergi." Amar berlalu pergi meninggalkan tempat itu, dia sudah muak melihat wajah Arya penuh kemenangan.
"Kekasih macam apa kau ini," pekik Naura terkekeh melihat punggung Amar yang menghilang di balik pintu, tapi tak di gubris.
__ADS_1
"Kita apakan wanita ini?" tanya Arya.
"Cepat kau telpon rumah sakit jiwa agar menjemput pasiennya."
Beberapa saat setelah nya, pihak rumah sakit jiwa membawa Lili untuk mendapatkan penanganan. Naura dan Arya tersenyum bangga berhasil menyingkirkan keduanya, bertos ria dengan pencapaian itu.
"Oke, mereka sudah tersingkirkan." Celetuk Naura.
"Ya, kau benar."
"Itu artinya perjanjian pranikah akan berakhir, aku sangat puas dengan rasa sakit hati ulah mereka."
"Ck, apa kau lupa kalau kita akan tetap seperti ini selama masa berakhir."
"Apa? Jadi sandiwara ini akan tetap di jalankan?"
"Tentu saja, kalau kau pergi sekarang maka kakek akan tahu dan membawa Amar kembali. Apa kau menginginkan usahamu sia-sia?"
__ADS_1
"Tidak." Jawab Naura cepat tak ingin itu menjadi kenyataan bagai momok menakutkan.
"Keputusan yang bijak." Arya berlalu pergi meninggalkan Naura, tersenyum sekilas. "Sepertinya aku mulai terbiasa dengannya." Lirihnya pelan.