
Seorang pria yang sangat berambisi dalam mencapai apapun sudah menjadi kebiasaannya dan juga karakter yang melekat padanya, pandangan fokus menatap layar komputer dan jari jemari begitu lihai menekan keyboard. Dengan cermat juga teliti dalam mengerjakan pekerjaan, hal itu juga mengalihkan perhatian selama ini menahan dirinya untuk tidak menemui orang-orang yang sangat di cintai.
Suara ketukan pintu berhasil mengalihkan perhatiannya sejenak, kembali fokus pada layar komputer dan menyelesaikan pekerjaannya.
"Mengapa kau berdiri di luar, masuklah!" ucapnya tanpa menoleh.
Lampu hijau dari atasan segera membangun keyakinan, berjalan menghampiri seraya menelan saliva beberapa kali. "Ada berita yang harus aku sampaikan Tuan." Celetuk sang asisten yang terdengar ragu untuk membicarakannya.
"Katakan, itu berita bagus atau buruk?"
"Kali ini berita buruk." Jawab sang asisten yang memundurkan sedikit langkahnya.
Sontak pria itu menghentikan pekerjaannya, menatap penuh penyelidik di wajah sang asisten untuk mencari pembenaran. Kursi kebanggaan yang sedang dia duduki segera beranjak dari sana, menyusuri pandangan dari atas hingga bawah.
"Sepertinya ini masalah serius."
"Nona Clarissa mengalami kecelakaan dan sekarang berada di rumah sakit X." Ungkap sang asisten.
Deg
Anton terdiam beberapa saat dan segera berlari keluar dari tempat itu, tidak peduli bagaimana sang asisten memanggilnya. Saat ini dia sangat cemas, masuk ke dalam mobil dan mengemudi dengan sangat kencang, menerobos beberapa kendaraan yang menghalangi jalannya.
Mobil berhenti setelah dia memarkirkannya, berlari masuk tergesa-gesa tak sabar ingin melihat kondisi dari putrinya. Kecemasan semakin meningkat saat menemukan ruang di mana Clarissa di tangani oleh dokter, hal yang paling di takuti menghantuinya sepanjang waktu.
"Ya Tuhan, tolong selamatkan putriku." Untuk kesekian kalinya Anton berdoa, dia tidak mempercayai adanya keajaiban dari tangan Tuhan dan di anggap semu belaka, tapi sekarang dia ingin mencoba seberapa besar kekuatan dari sebuah doa seorang ayah untuk anaknya sendiri.
Tubuh yang bersimbah darah tengah di tangani oleh dokter juga sustee, di balik dinding kaca Anton melihat semua itu. Dia memejamkan mata beberapa detik kemudian membukanya perlahan, cairan bening menumpuk di pelupuk mata segera di seka agar tak terlihat lemah.
Jarum jam terus berdetak, waktu terus berjalan tapi dokter tak kunjung keluar dari ruangan itu semakin membuatnya cemas dan khawatir. Perasaannya sebagai seorang ayah sangat hancur, anak sulungnya tengah melawan kematian.
Beberapa lama menunggu, pintu akhirnya terbuka. Anton langsung mengerubungi sang dokter yang keluar setelah menangani anaknya.
"Bagaimana keadaan dari anakku, Dok? Apa dia baik-baik saja?" tanya Anton yang mendesak.
"Kecelakaan membuat kondisinya sangat parah, ada beberapa tulang yang patah dan membuatnya tak bisa berjalan dengan normal. Beruntung pasien segera di bawa ke rumah sakit, jika terlambat maka nyawanya bisa melayang."
__ADS_1
Anton memundurkan langkahnya, sangat shock mendengar penuturan dokter. "Separah itu?"
"Benar, kecelakaan terjadi sangat parah dan untuk sementara pasien tak bisa menggerakkan tubuhnya ataupun berbicara." Jelas sang dokter menghela nafas. "Tubuhnya mengalami lumpuh sementara, dalam beberapa bulan ke depan barulah pasien bisa menggerakkan tubuhnya setelah terapi. Seperti perkataanku, setelah sembuh pasien tak bisa berjalan normal."
"Apa?" lirih Anton yang sedih mengetahui kondisi putrinya.
"Aku permisi."
Anton bersandar sambil menatap kepergian sang dokter, saat ini dia sangat hancur berkeping-keping. "Kenapa ini terjadi padaku?" monolognya seraya memutuskan untuk masuk ke dalam ruangan, perannya sangat di perlukan.
*
*
Semua orang sangat bahagia mengetahui kehamilan Naura, merayakannya dengan mengadakan pesta sederhana. Bergembira bersama, mengadakan permainan untuk mengisi waktu.
"Kau masih muda tapi sangat lemah dan juga payah." Ejek Beno pada cucunya membuat semua orang tertawa.
"Kakek selalu saja mencari celah untuk mengejek ku," keluh Arya cemberut.
"Kakek, jangan mengejek suamiku." Bela Naura menahan senyum.
"Apa ini? Kau membelaku tapi tertawa juga? Permainan konyol ini segera kita hentikan, perut tidak akan kenyang jika kita tidak mengisinya." Celoteh Arya sambil memegang perutnya.
"Ayo kita makan! Atau suamiku yang manja itu selalu mengeluh." Naura membawa semua orang menuju meja makan dan menikmati hidangan, melihat beberapa masakan yang tersaji di atas pirinh di susun rapi di meja makan sangat menggugah selera. "Wow, makanannya terlihat lezat."
"Ayo kita makan."
Naura sangat bersemangat menikmati makanan, tanpa di sadari jika dia telah menjadi pusat perhatian karena porsi makan yang tidak biasa. Arya sedikit terkejut melihat bagaimana istrinya sangat lahap, dia tersenyum.
"Aku sangat yakin jika anakku begitu tampan."
"Tampan? Usianya baru beberapa minggu dan jenis kelaminnya belum terlihat." Ungkap Ririn yang menggelengkan kepala, mendengar celotehan sang menantu di luar nalar, hampir tipis dengan kebodohan.
Beno tertawa dan menjitak cucunya. "Hey, kau jangan mencoreng namaku, dasar bodoh!"
__ADS_1
"Aku tidak pernah salah memahaminya, lihat saja porsi makan istriku itu, seperti tiga hari tak pernah makan." Ujar Arya bangga.
Naura menghentikan suapan di mulutnya, dia berdiri menghampiri suaminya sambil memegang dua buah anggur. "Lihatnya situasi sebelum kau bicara." Tegasnya yang langsung memasukkan dua buah anggur ke dalam mulut Arya, sementara yang lain tertawa.
Di malam hari, semua orang terlelap begitu bahagia. Naura memegang perutnya seraya menatap ke samping, melihat wajah sang suami.
"Sayang, bangunlah!" jujur saja Naura sangat kasihan membangunkan suaminya, apalagi jarum jam saat ini menunjukkan pukul dua dini hari. Dia sudah mencoba untuk menahannya, tapi apalah daya dia tak bisa menahannya sampai pagi. "Arya, bangunlah!" ucapnya sekali lagi menggoyangkan tubuh sang suami.
Pria itu menggeliat tanpa berniat membuka matanya. "Ada apa? Sebaiknya kita tidur saja dan bicara besok pagi." Ucap Arya dengan suara serak.
"Dengarkan aku sekali saja!" sentak Naura kesal.
Arya terpaksa membuka kedua matanya yang sangat berat, lebih baik dia mengorbankan waktu tidurnya di bandingkan mendapat kemarahan dari sang istri yang lebih mengerikan di bandingkan singa betina.
"Ada apa?"
"Aku lapar." Naura tersenyum sambil memegang perutnya.
"Kalau begitu kau makanlah, tinggal perintahkan pelayan."
"Aku tahu itu, tapi aku hanya ingin makan rujak mangga muda."
"Mangga muda? Di jam dua dini hari?" Arya sedikit terkejut dengan permintaan aneh istrinya.
"Ya, aku ingin rujak mangga muda."
"Baiklah, aku akan menyuruh pelayan mengambilkan mangga muda yang berbuah di halaman belakang Mansion." Arya tersenyum sembari beranjak dari tempat tidur untuk memberikan perintah pada pelayan.
"Tapi aku ingin kau yang mengambilkan untukku!" kesal Naura.
"Kau mengidam?" tanya Arya yang di angguki kepala oleh Naura sebagai kebenaran.
"Aku ingin memakannya sekarang juga!"
Arya menelan saliva saat kenangan buruk masa lalu, ada beberapa pohon mangga tapi sayangnya sangat tinggi dan harus memanjatnya. Ya, dia pernah mengalami trauma karena jatuh saat memanjat pohon. "Ya Tuhan, permintaan dari anakku bisa saja membuatku malu." Batinnya
__ADS_1