Ayo Menikah

Ayo Menikah
Bab 37


__ADS_3

Di sepanjang malam Naura tidak bisa tidur, banyak yang harus di pikirkan dan sangat meresahkannya. Walau Arya sudah berada di dalam kendalinya bukan berarti dia bisa bersantai dengan bebas, masalah keluarga dan juga keadilan untuk Bella harus di perjuangkan. Ketukan pintu mengalihkan perhatiannya, mendengar suara di balik itu yang sangat di kenal. 


"Naura, apa kau sudah tidur?" tanya seseorang di balik pintu. 


Naura tak menjawab dan membiarkan saja, berurusan dengan Arya hanya akan menghambat rencananya. "Dia terdengar sangat miris sekali, biarkan sajalah." Lirih pelannya seraya memejamkan mata.


"Mungkin dia sudah tidur," lirih pelan Arya dan memutuskan untuk pergi dari depan pintu kamarnya, berjalan menuju ke arah kamar tamu. Pandangannya tak sengaja melihat sebuah gudang yang sudah lama tidak di singgahi, berbalik arah dan masuk ke dalam ruangan penuh debu.


Arya yang mengingat tatanan dari tempat itu sedikit terkejut ada beberapa barang yang tidak berada di tempatnya, meraih sebuah album dan melihatnya. Sontak kedua pupil matanya melebar saat mengetahui ada salah satu lembaran foto yang hilang, dan tahu darimana Naura mengetahui masa lalunya. 


"Apa Naura mencari tahu mengenai Bella? Pantas saja sikapnya sangat berbeda padaku." Pikir Arya yang segera keluar dari tempat berdebu itu. 


Arya sangat dilema dengan perasaannya, apakah dia mencintai Naura atau tidak. Tapi hatinya begitu tidak rela jika wanita itu menjauh darinya, ada rasa yang kurang bagai sayur tanpa garam dan terasa hambar di lidah. 


Dia mengeluarkan minuman mahal yang terpajang di etalase indah, menuangkannya ke dalam gelas dan sekali meneguknya hingga habis. Minuman alkohol begitu menenangkan pikirannya untuk saat ini, terbebas dari jeratan yang mencekik lehernya. 


"Kenapa Bella dan Naura bisa memiliki wajah yang sangat mirip tapi kepribadian mereka sangat bertolak belakang, dan bodohnya aku mengetahui mantan calon kakak iparku saat mereka akan menikah. Darimana Amar bisa mengenalnya? Hanya Tuhan yang tahu." Monolog Arya yang kembali menuang minuman memabukkan itu ke dalam gelas kecil dan menghabiskan dalam sekali tegukan. 


Arya masih sangat sedih atas kehilangan Bella, wanita yang menjadi cinta pertamanya. Kehadiran Naura kembali membangunkan tujuannya yang telah lama mati, kebencian kepada Amar akibat menjadi penyebab kematian wanitanya. Tapi sialnya sang kakak tiri hampir saja menikah dengan wanita yang wajahnya sangat mirip. 


"Apa mereka kembar? Selama aku mengenal Bella, dia tidak memiliki saudara kembar. Apa ini hanya kebetulan saja?" 


Hembusan angin malam yang menerpa kulit dan terasa menusuk hingga ke tulang, Arya yang sudah mabuk mendongakkan kepala menatap langit yang sebentar lagi hujan akan turun. "Heh, bahkan semesta pun ikut merasakan apa yang aku rasakan saat ini." Ucapnya yang meringis. "Aku harus menemui paman Rian dan bertanya, mungkin saja aku menemukan jawabannya." 


*


*


Dua pandangan mata yang saling berkontak tertuju dengan seksama, hubungan yang sudah lama terjadi tapi mereka tidak pernah bertemu setelah kematian Bella. 


Rian menatap pemuda di depannya, mengangkat sebelah alisnya penasaran dengan tujuan dari pria itu. 

__ADS_1


"Bagaimana kabar Paman?" 


"Aku baik, tumben kau datang ke sini. Semenjak kematian Bella kau tidak pernah mengunjungi kami lagi," tutur Rian memperlihatkan kesedihan.


"Maaf soal itu Paman, aku hanya ingin menata hidupku." 


"Dengan menikah?" sela Rian, dia sudah tahu mengenai kabar pernikahan dari pria yang tersohor di kota. Di hati kecilnya masih tidak terima dengan pernikahan Arya bersama wanita lain. 


Arya menundukkan kepala. "Aku harus melanjutkan hidupku, bagaimana kesehatan bibi?" 


Rian menghela nafas lemah, kondisi istrinya semakin memburuk. "Tidak ada perubahan dan malah semakin parah." 


"Aku turut prihatin dengan kondisi bibi, maafkan aku yang baru tahu." Ada guratan kesedihan di mata Arya, kesibukannya juga melupakannya untuk berkunjung. Menyusuri pandangannya di sekitar dan merasa nyaman saat tak ada seorang pun. "Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan, Paman." 


"Mengenai apa?" 


"Apakah Bella memiliki saudara kembar?" tanya Arya perlahan takut jika pria itu tersinggung, tapi rasa keingintahuannya semakin membesar.


Deg


"Kenapa tiba-tiba kau menanyakan hal itu?" 


"Iya atau tidak." 


Rian beranjak dari duduknya dan membelakangi pemuda itu, menghela nafas lemas dan mengangguk perlahan. "Ya, Bella memiliki saudara kembar." 


"Jadi…jadi itu benar? Naura saudara kembar Bella. Apa Amar sudah mengetahuinya lebih dulu?" ucap Arya di dalam hati, dia tak mengira jika hal ini terjadi. 


Rian menganggukkan kepala memberikan keyakinan pada pemuda itu jika apa yang di katakan olehnya benar. "Bella memiliki saudari kembar yang di asuh oleh mantan istri pertamaku. Aku pernah mencari tahu mengenai putriku yang lain tapi Ririn selalu berpindah tempat hingga menyulitkanku mencari keberadaan mereka." Jelasnya penuh keyakinan. 


"Naura, dia istriku sekaligus kembaran Bella." 

__ADS_1


"Hem." Rian tidak tahu harus berekspresi seperti apa, kenyataan begitu rumit untuk di pahami olehnya. 


Setelah berbincang cukup lama dan Arya mendapatkan jawabannya, dia memutuskan untuk pergi. 


Di dalam perjalanan pikiran Arya mulai melayang membuatnya tidak fokus dalam mengemudi. "Jadi ini alasan sikap Naura sangat dingin?" gumamnya di dalam hati hingga pikiran itu buyar saat mendengar klakson mobil di depannya. Dengan gerakan cepat berusaha untuk mengendalikan mobil agar tidak bertabrakan dengan lawan, membanting stir hingga tak terkendali dan keluar jalur demi menghindari tabrakan itu. 


Mobil yang di tumpangi Arya keluar jalur dan menabrak sebuah pohon besar, kepulan asap terlihat di depannya. Dia segera membuka mata perlahan, merasakan kepala yang sangat berat setelah terantuk di stir mobil. 


"Sial." Umpat Arya seraya meraih ponsel menghubungi seseorang untuk meminta pertolongan. 


Sementara di tempat lain, Naura mendapatkan panggilan masuk berulang kali dan melihat nama Arya tertera di ponselnya. 


"Ada apa?" 


"Kau dimana?" 


"Butik, ada perlu apa kau menghubungiku?" 


"Aku mengalami kecelakaan, bisakah kau kesini?" 


Naura menghela nafas dan tidak terkejut. "Apa tulangmu ada yang patah?"


"Apa maksudmu mengatakan itu?" 


"Kalau tidak parah untuk apa kau menghubungiku." 


"Kau tega sekali." 


"Katakan kau ada di mana sekarang?" 


"Masih di lokasi kejadian, aku akan men-share lokasi ku." 

__ADS_1


"Baiklah." Naura memutuskan sambungan telepon dengan sepihak, terpaksa bergegas pergi meninggalkan pekerjaan penting. "Dasar ceroboh, dia selalu mengatakan itu padaku, sangat menyusahkan." 


"Bahkan di saat kondisiku seperti ini dia tidak berempati sama sekali? Astaga…apa aku harus patah tulang baru dia cemas?" ucap pelan Arya yang memutuskan untuk keluar dari dalam mobil. 


__ADS_2