Ayo Menikah

Ayo Menikah
Bab 56


__ADS_3

Setelah insiden itu terjadi Arya membawa Naura menjauh dari lokasi kejadian, dia sangat khawatir bahkan sempat beberapa kali menanyakan apakah ada yang terluka pada wanitanya. Pelukan yang semakin erat tak ingin di pisahkan, kecemasan berlebihan membuatnya hampir hilang akal. 


"Aku baik-baik saja, kau tidak perlu mencemaskan aku secara berlebihan." Ujar Naura antara terharu akan perhatian pria itu, tapi fakta yang mengungkapkan kalau Arya menganggapnya sebagai Bella. 


"Coba cek sekali lagi, mungkin ada yang terlewatkan." Pinta Arya keukeuh. 


Naura menghela nafas karena sudah ketiga kalinya dia mengecek apakah ada luka goresan atau tidak. "Jangan bersikap konyol, aku sudah melakukan seperti yang kau perintahkan itu sebanyak tiga kali. Kalau ada luka pasti aku merasakan sakit, tapi aku tidak merasakan apapun dan itu artinya aku baik-baik saja." 


Arya tersenyum kembali menghamburkan pelukan. "Kau tahu, aku sangat takut sekali."


Naura tersentuh pada sikap Arya yang mengkhawatirkannya, menepuk punggung pelan untuk memberikan kenyamanan agar berhenti mengkhawatirkannya. "Aku baik-baik saja, terima kasih sudah mengkhawatirkan aku." 


"Hem." 


Beberapa saat kemudian Naura tersadar berada di dalam pelukan suaminya, terasa sebuah desiran suatu gelombang yang tidak di ketahui sinyal apakah itu, suasana tiba-tiba saja menjadi canggung, secepat itu pula dia melepaskan pelukan. Detak jantung yang bekerja dua kali lipat, dimana sangat sulit untuk mengontrolnya. 


"Semoga dia tidak mendengar debaran jantungku, tapi apa yang terjadi padaku? Aku merasa sesuatu yang sangat berbeda saat dia memelukku." Ucapnya di dalam hati, pikiran berkecamuk tak tahu getaran apa yang sedang di landa nya. 


"Kita harus kembali." 


"Ya." Jawab Naura singkat tanpa menoleh. 


Sepanjang perjalanan keduanya hanya terdiam saja, suasana hening dan juga canggung sangatlah membosankan bagi keduanya. Diam-diam Arya melirik Naura yang duduk di sebelahnya, memutarkan lagu romantis membuat perjalanan terasa panjang. 


Dengan sengaja memperlambat laju mobilnya ingin menikmati perjalanan, langit mendukung dengan mendatangkan tetesan air hujan. Secepat itu pula jalanan menjadi basah, hujan yang turun dengan sangat deras membasahi bumi. 


Naura tersentak dari lamunannya, mobil yang tiba-tiba berhenti di jalanan yang tampak sepi di terangi oleh lampu di sepanjang jalan hingga suasana kian romantis. Kedua matanya langsung tertuju pada Arya tampak panik saat kembali mencoba untuk menyalakan mobilnya, beberapa kali dia mendengar pria itu mengumpat kesal. 

__ADS_1


"Ada apa?" tanyanya penasaran sambil menatap wajah tampan di sebelahnya. 


"Mobilnya mogok." Jawab singkat Arya yang langsung membuka pintu, menerobos tetesan air hujan membasahi tubuh. 


Naura bisa merasakan sejuknya udara setelah pintu itu terbuka, dia menariknya sedikit agar udara tidak masuk ke dalam. Memeluk tubuhnya sendiri memberikan rasa hangat, tapi rasa cemasnya pada Arya yang belum juga kembali membuatnya khawatir. 


"Kenapa dia lama sekali, aku harus membantunya." Dengan memutuskan pilihan akhirnya, dia memilih untuk membantu suaminya, tidak peduli selebat apapun hujan. 


"Kau bisa sakit nanti, kembalilah." Pekik Arya yang melawan suara air hujan yang memekakkan telinga. 


"Tidak, biar aku membantumu." Keukeuhnya yang tak peduli, tidak adil rasanya jika pria itu sendirian saja tanpa di bantu. 


Lima belas menit kemudian, Naura menguji coba mobil dan berhasil. Keduanya memutuskan kembali masuk ke dalam mobil dalam kondisi tubuh basah kuyup. 


"Kau wanita keras kepala." Arya menggelengkan kepala seraya tersenyum. 


Senyum Arya berganti dengan rasa khawatir, mengemudikan mobil dengan sangat cepat berharap mereka sampai ke sebuah penginapan atau hotel terdekat. Pandangannya tak lepas dari Naura yang memejamkan kedua mata, kecemasan mulai semakin besar tidak sabar ingin segera sampai. 


"Ya Tuhan…sepertinya dia demam." Gumam Arya setelah meletakkan telapak tangan untuk mengecek suhu tubuh wanita di sebelahnya. 


Tak lama mobil berhenti di sebuah hotel, secepat mungkin Arya bertindak dengan menggendong tubuh Naura ke kamar yang sudah di pesan olehnya. Tak lupa dia memesan pakaian ganti, mana mungkin pakaian basah itu di kenakan sepanjang malam. Dia membaringkan tubuh basah Naura di sofa, sangat panik namun berusaha untuk berpikir jernih agar tahu apa yang akan di lakukan selanjutnya. 


"Kenapa jasa pengantar pakaian datangnya sangat lama." Umpat Arya setelah menyelimuti tubuh Naura untuk memberikan kehangatan dalam penanganan pertama. Suara ketukan pintu membuatnya beralih ke asal suara dan tersenyum lega saat mendapatkan pakaian ganti untuknya dan juga sang istri. 


"Ini Tuan pakaiannya," serah wanita yang memberikan pakaian ganti pesanan Arya. 


"Kau boleh pergi!" usir Arya yang menutup pintu dengan kasar setelah membayar jasa pengantar. "Ini pakaianmu, pakailah!" ucapnya yang terlihat bodoh, beberapa detik dia menyadari kalau Naura masih memejamkan kedua mata. "Hah, aku lupa." 

__ADS_1


Arya berjalan mondar-mandir dan melupakan kalau pakaiannya sangat basah, tapi dia berpikir bagaimana mengganti pakaian di tubuh Naura. Memang dia pernah melihat kemolekan tubuh seputih susu tanpa busana, bukan berarti dia akan mengambil kesempatan. "Apa aku harus mengganti pakaiannya?" gumamnya bimbang. "Dia akan semakin sakit jika tidur masih mengenakan pakaian basah." 


Mau tidak mau Arya mengganti pakaian Naura satu persatu, tentu saja itu membuat jakunnya naik turun menahan sesuatu setelah melihat barang bagus di hadapan matanya. Tidak ingin dia khilaf, kedua mata di tutup walau sesekali mengintip untuk melihat apakah pakaiannya itu sudah pas pada jalurnya. 


"Ya Tuhan, kenapa wanita pengantar pakaian itu memberikan segitiga berwarna merah menyala? Dan kacamata kuda ini juga berwarna senada." Arya mengumpat saat tantangan terbesarnya kembali di uji, pakaian penutup bagian dalam wanita semakin menantangnya.  


Tidak punya pilihan lain, menguatkan misinya untuk melepas semua pakaian di tubuh Naura. Dia menelan saliva yang tersangkut di tenggorokan dan dengan cepat kembali memejamkan kedua mata. "Jangan sampai mataku melihatnya atau Bobby bisa mengamuk nanti dan aku berharap tanganku bisa khilaf," ucapnya yang terus berperang batin melawan n*fsu, terkekeh membayangkan wajah merah istrinya itu jika mengetahui hal ini.  


Setelah cukup lama mengganti pakaian, Arya mengangkat tubuh Naura dan membaringkannya di atas tempat tidur. Kini saatnya dia mengganti pakaiannya yang basah, sesuatu di bawah sana terus menegang membuatnya sangat jengkel. 


"Dia sedang sakit, kau harus bersabar dan jangan nakal." Kecam Arya yang memberikan peringatan, sedikit menyentil kepala si Bobby. 


Setelah drama yang begitu tegang, Arya kembali mengecek suhu tubuh Naura yang semakin panas. Segera dia mengompresnya dan berjaga sepanjang malam tanpa menghiraukan dirinya. 


"Cepat sembuh, aku tidak suka bila kau sakit." Dia mengecup kening sang istri dengan sangat lembut, dan tak lupa pula menciumnya di bagian bibir. Ya, setidaknya dia mengambil sedikit bagiannya sebagai tanda terima kasih. 


*


*


Di pagi hari, seseorang membuka matanya secara perlahan, melihat sekeliling yang sangat asing. Dia mengucek kedua mata seraya menguap, hingga dia menyadari seseorang tertidur di sebelah sambil memeluknya. 


"Arya?" Naura hendak menendang tubuh pria itu agar pelukan terlepas, tak sengaja menyentuh lengan sang suami. "Ya Tuhan, dia demam." Serunya yang sangat terkejut. 


Perlahan Naura melepaskan pelukan itu dan melihat sebuah handuk kecil terjatuh dari dahinya, mengingat apa yang terjadi semalam. "Semalam aku demam dan dia menjagaku sepanjang malam?" terka nya setelah mulai memahaminya. Hatinya tiba-tiba luluh dengan pengorbanan yang di berikan Arya yang sangat perhatian padanya, jika saja pria itu memikirkan diri sendiri mungkin dia akan tetap demam. 


 

__ADS_1


__ADS_2