
Seorang wanita paruh baya menatap sendu, berjalan perlahan menghampiri berharap bisa memberikan kenyamanan. Memberanikan diri membelai lembut wajah yang terlihat pucat itu, tapi tangannya di tepis secara kasar.
"Tidak perlu menjadi protagonis di sini!" ketus Naura tanpa memandang wajah lawan bicaranya.
"Ibu datang untuk menjelaskan segalanya." Ucap pelan Ririn yang ingin menjelaskan keseluruhan masa lalunya.
"Menjelaskan apa?" sentak Naura yang langsung menatap ibunya tajam, semua sudah di perlihatkan jelas oleh pria yang mengaku sebagai ayah kandungnya.
"Kau harus tahu mengenai kisahku."
Naura menyeringai tipis sambil mengalihkan perhatian, sangat muak pada situasi yang sedang dia hadapi. Lagi dan lagi takdir seperti mempermainkan seakan semua itu adalah cemoohan untuk dirinya.
"Ibu mohon, tolong mengertilah walau sedikit saja." Bujuk Ririn yang ingin mendapatkan kesempatan.
Naura menyeringai tipis dan tertawa sepuasnya sambil bertepuk tangan dengan permainan takdir yanh begitu rumit. "Andai aku bisa memilih, pasti aku memilih untuk tidak di lahirkan. Aku memang tidak menyukai pria yang bersama si pelakor itu, tapi sungguh di luar perkiraanku kalau Ibu juga berkhianat."
"Ibu tahu kau marah, berikan sedikit waktu untuk menjelaskannya."
"Baiklah, dan setelah itu pergilah dari sini." Tukas Naura yang mencoba untuk mendengarkan sisi lain dan berulah bisa mengambil sebuah langkah juga keputusan setelah semuanya jelas.
"Kau tahu kalau pernikahanku dari awal sudah tidak sehat, Rian sudah menyakitiku dan membawa wanita lain. Aku sangat marah, kesal, dan benci melihat kemesraan mereka hampir setiap harinya. Setelah kedatangan Anton hidupku yang hampa mulai terisi, tapi sayangnya aku baru mengetahui jika dia pria beristri dan juga mempunyai seorang anak. Ibu menjauh dan menjaga jarak pada pria itu, tapi Anton tak mau hingga dia melakukan hal yang nekat dengan memperk*saku." Jelas Ririn menarik nafas, beban itu terasa sangatlah berat.
"Cukup." Ucap Naura yang tak ingin mendengar kelanjutan setelah mengetahuinya, mengangkat kelima jari ke udara. "Mengapa Ibu membiarkan mantan suami dan wanita lain mengambil salah satu anakmu?"
"Aku sudah berusaha keras, tapi aksesku selalu di gagalkan oleh mereka."
"Aku senang jika darah pria itu tidak mengalir di dalam nadiku, tapi aku juga tidak menyukai selingkuhan Ibu itu." Putus Naura.
"Percayalah Sayang, Ibu sangat menyayangimu, jangan berikan tembok yang dapat memisahkan kita." Ririn berusaha untuk meyakinkan anaknya.
"Entahlah, sebaiknya Ibu pergi dari sini."
"Tapi Sayang__." Belum sempat Ririn menyelesaikan perkataannya, Naura memunggunginya. Menghela nafas seraya melangkah pergi, setidaknya dia sudah berusaha untuk memperbaiki.
__ADS_1
Langkahnya terhenti saat seorang pria yang masih tampan di usianya mencegahnya, seseorang yang sangat tidak dia ingin lihat untuk saat ini. "Jalannya masih luas, kau bisa memilih yang lain tapi berhentilah menghalangi jalanku." Ucapnya yang memberikan peringatan.
"Aku ingin bicara."
Sontak Ririn menatap mata pria itu tajam. "Tidak ada yang perlu di bicarakan lagi."
"Ada." Pria itu menggenggam tangan Ririn dengan sangat lembut, kedua matanya penuh harap.
"Apa?" ketus Ririn.
"Maaf, bukan maksudku membuat hubunganmu dan putri kita menjauh, aku mengungkap semua itu agar mantan suamimu tahu diri."
"Ya, dan kau yang sangat hebat. Begitukah? Sudahlah, untuk saat ini aku tidak ingin di ganggu." Ririn berjalan menjauh dengan langkah tergesa-gesa, tidak menggubris seseorang terus memanggil namanya.
"Hubunganku bahkan tidak serumit ini, aku yakin ini karma dari pria itu yang membuatku hampir menikahi Amar si brengsek itu." Gerutu Naura kesal jika mengingat mantan calon suaminya yang berselingkuh dengan sahabatnya sendiri. "Aku haus sekali," lirihnya memegang lehernya, mencoba meraih segelas air yang cukup jauh bahkan dia tak sanggup menjangkaunya, hingga keseimbangan tubuhnya goyah.
Dia memicingkan kedua mata berpikir akan rasa sakit saat terjatuh, namun merasakan tangan yang menahan tubuhnya agar tetap seimbang.
"Kau tidak apa-apa?" tanya dari pria yang tidak ingin di temuinya.
"Bertemu dengan putriku."
"Aku bukan putrimu."
"Tapi itu kenyataannya walau kau terus menolaknya, bagaimana keadaanmu?" tanya Anton membelai rambut Naura lembut, menarik dua sudut bibirnya ke atas saat pertama kali melakukan itu.
"Seperti yang kau lihat." Naura sangat malas jika berbagi oksigen dalam ruangan yang sama, mengumpati suaminya yang belum datang menjenguk.
"Mulai sekarang kau tidak perlu cemas lagi, Ayah ada di sini dan mengurus segalanya." Perlakuan dan ucapan yang manis pada anak kandungnya dari wanita yang sangat dia cintai.
Seketika Naura menepis tangan pria paruh baya itu dan menatapnya malas. "Tadi ibuku dan sekarang kau, bisa berikan aku waktu sendiri saja?"
"Aku selalu melakukan apapun sesuai dengan keinginanku."
__ADS_1
"Dan aku tidak peduli pada prinsipmu itu, segera pergilah dari sini!"
Dengan terpaksa Anton pergi dari ruangan itu, sifat keras kepala Naura memang mewarisinya. "Baiklah, jaga dirimu." Ucapnya seraya berlalu pergi. Tak sengaja dia dan Arya berselisih, suasana yang canggung malah membuat keduanya tidak bertegur sapa.
Naura melihat punggung pria itu yang menghilang dari balik pintu dan beberapa detik kemudian melihat sang suami yang terlihat ragu-ragu untuk masuk ke dalam ruangan. "Kau di sini," ucapnya seraya melipat kedua tangan di depan dadanya, berpura-pura lupa kalau dia sendirilah yang meminta pria itu datang.
Menarik nafas dalam dan mengeluarkannya secara perlahan, Arya mulai memberanikan diri setelah suasana terkendali. Wajah cantik yang tersuguh di hadapannya, juga kemarahan yang sedikit menghilang di wajah Naura. "Maaf," ucapnya sembari mengemasi semua barang-barang milik istrinya itu.
"Eit, mau kau apakan semua barang-barang ku?"
"Aku sudah berbicara pada dokter dan mengizinkanmu di rawat jalan, kita akan pulang ke Mansion Atmajaya." Jelas Arya.
"Apa?"
"Kita akan pulang." Ulang Arya. "Lagipula suasana di sini tidak baik untuk kesehatanmu."
"Kau mengatakan itu seakan tidak memiliki beban saja. Kenapa kau tidak membicarakan ini dulu padaku sebelum mengambil keputusan?" protes Naura.
"Apa kau ingin jika mereka mengganggumu?" jawab Arya yang menatap mata Naura seksama.
"Ya, kau benar juga. Aku tidak ingin bertemu dengan ibu maupun pria itu." Pikir Naura yang setuju, teringat sesuatu yang mengganjal di hatinya. "Apa aku boleh bertanya sesuatu?"
"Tanyakan saja, ada apa?" sahut Arya selesai mengemasi semua barang dan fokus menatap lawan bicaranya.
"Tatapan pria itu dan kau memiliki artian lain, apa kalian saling mengenal?"
Arya terdiam untuk beberapa saat kemudian mengangguk. "Dia yang menolongku saat di masa sulit, dan wanita seksi yang pernah bertemu denganmu adalah Clarissa, anak kandungnya."
"Apa? Jadi ulat bulu itu kakak tiriku?" Naura sangat terkejut, ibunya tadi menjelaskan mengenai Anton yang memiliki istri dan seorang anak. "Ya Tuhan…bagaimana aku bisa memiliki kakak tiri sepertinya, pasti kehidupanku ke depannya sangatlah sulit." Lirih pelannya.
"Ulat bulu?" Arya mengerutkan dahi tak mengerti istilah itu.
"Apa kau tidak lihat bagaimana dia agresif padamu, ulat bulu di identik dengan gatal." Ucap Naura yang tidak suka jika membahas mengenai Clarissa.
__ADS_1
Diam-diam Arya tersenyum mengartikan raut wajah Naura yang sepertinya cemburu. "Dia cemburu," batinya yang bersorak riang.