Ayo Menikah

Ayo Menikah
Bab 27


__ADS_3

Semua orang telah berkumpul di Mansion Atmajaya, dimana sang pemilik tempat itu ikut serta. Beno tak melepaskan siapapun dan berada di bawah tatapannya yang sangat serius, langkah kakinya menghampiri setelah mendapatkan kabar yang kurang mengenakan. 


Amar menghampiri sang kakek dengan semangat membara mendapatkan perhatian dan juga kekuasaan yang seharusnya menjadi miliknya, melupakan bagaimana perbuatannya saat pesta tahunan di kantor. 


"Kakek disini? Kenapa sangat tiba-tiba sekali?" sambut Amar tersenyum ramah, pria tua berambut perak membalasnya tatapan sarkas. 


"Apa yang kau lakukan?" 


"Aku menyiapkan acara tahunan kantor seperti tahun-tahun sebelumnya." 


Plak


Suara nyaring yang memenuhi ruangan menggema dengan begitu syahdu, tamparan yang mengenai pipi Amar hingga terlihat bekas memerah di sana. 


"Apa salahku?" protes Amar yang muak dirinya di tampar tanpa sebab. 

__ADS_1


Plak


Ya, untuk kedua kalinya Beno menampar di pipi yang sama tak kalah kerasnya dan sedikit membengkak. Jangan salah, walaupun usianya sudah lanjut tapi tenaganya di saat memendam kemarahan sangatlah dahsyat. 


"Hentikan ini! Kenapa aku di tampar." Amar menaikkan intonasinya sebagai bentuk rasa protes mengenai tindakan sang kakek yang menamparnya dihadapan semua orang. 


"Kau pantas menerimanya. Sekali saja kau memikirkan aku dan juga reputasiku, tapi kau seakan tidak peduli dengan semua itu dan melakukan sesuai apa yang diinginkan oleh hatimu.  Awalnya aku menganggap dan mengira kalau kau itu adalah cucuku yang bisa dibanggakan, tapi ternyata aku salah." Tukas Beno. 


"Aku rasa tidak berubah salah lalu kenapa kaki tiba-tiba menamparku?" 


"Turunkan pandanganmu dan jangan menatapku seperti itu, aku tidak akan menghukum seseorang jika tidak berbuat kesalahan." 


"Ck, kau seperti bajingan sejati." Beno tidak menyangka jika Amar benar-benar mempermalukan dirinya seseorang membawakan sebuah bukti. Dia mengambil bukti itu dan melemparnya membuat semua orang terlonjak kaget kecuali Arya, semua ini terjadi karena ulahnya. "Ini sebuah bukti atas seberapa brengseknya KAU." Tekannya. 


Amar sangat penasaran dan melihat bukti yang ada di hadapannya, sontak kedua pupil mata membesar dan hampir tidak mempercayai jika perbuatannya saat di malam pesta terlihat dengan sangat jelas bersama seorang wanita dan menghabiskan waktu bersenang-senang. "Astaga…dari mana kakek mendapatkan bukti ini? Pasti Arya yang menyebarkannya hanya untuk membuat dirinya dipandang berharga." Ucapnya di dalam hati. 

__ADS_1


"Aku benar-benar malu dengan semua ini, kau begitu banyak mencoreng namaku dan sudah aku putuskan untukmu. Kau tidak akan pernah menginjakkan kaki di Mansion ini lagi dan juga di kantor, mulai sekarang kau aku coret dari kartu keluarga dan ahli waris." 


"APA?" jantung seakan berpacu dua kali lebih cepat mendengar penuturan dari sang kakek yang menghanguskan harta warisannya, bagaimanapun kesenangannya itu dirusak oleh Arya dan membuatnya semakin membenci adik tirinya. 


"Aku tidak akan mengulangi perkataanku sebanyak dua kali, ku masih semua barangmu dan bawa wanita jal*ng itu pergi dari sini!" ucap Beno dengan tegas, suara lantang menggema di ruangan itu. 


Sebelum melangkahkan kaki untuk bersiap-siap Amar lebih dulu menatap tajam pada sosok laki-laki yang tersenyum kemenangan melihat dirinya yang kalah, semua harta Atmajaya sudah jatuh kepada Arya.


"Aku akan membalasmu nanti, lihat saja." Batin Amar. 


Beno mengusap dadanya yang terasa sakit karena ulah dari cucu sulungnya, menandakan dirinya gagal dalam mendidik. Dia menatap kepergian Amar yang akan mengemasi barang dan angkat kaki dari tempat itu, keputusan yang cukup sulit baginya namun harus dilakukan untuk mendisiplinkan Amar yang memiliki tabiat buruk pada wanita. 


"Kakek tidak apa-apa?" Arya berlari menahan tubuh pria tua itu agar tidak terjatuh ke atas lantai, sangat khawatir dengan kondisi sang kakek walau bagaimanapun dia juga salah dalam hal ini. 


"Aku tidak apa-apa." Lirih Beno yang merasakan dadanya sesak hingga kedua matanya terpejam. 

__ADS_1


Naura tidak tinggal diam dan meminta Arya untuk melarikan sang kakek ke rumah sakit terdekat untuk melakukan penanganan pertama. 


Muncullah rasa penyesalan di hati Arya karena ambisius nya yang ingin menguasai harta malah berakibat fatal. 


__ADS_2