Ayo Menikah

Ayo Menikah
Bab 42


__ADS_3

Naura bukan tipe wanita seperti itu, memang dia berencana mengambil keuntungan dari Arya tapi tak akan berlaku serakah. "Tidak, aku dan Lita sudah membangun usaha bersama. Biarkan aku menyelesaikan ini berdua dengannya dan kau tidak perlu ikut campur."


"Apa kau yakin tidak tertarik dengan penawaran ku?" Arya mengangkat sebelah alisnya, tidak menduga mendapatkan penolakan mentah-mentah. 


"Hasil jerih payah kami berdua, jatuh bangun dalam menjalani bisnis. Memang aku ingin mempunyai butik sendiri tapi hanya melalui keringatku, tak masalah mengumpulkan uang sedikit demi sedikit." 


Arya tertegun dengan kalimat Naura yang ternyata tidak mata duitan seperti kebanyakan wanita dekat dengannya, rasa hormat perlahan kembali dan hanya membalasnya dengan senyuman. "Jika berubah pikiran kau bisa menghubungiku." 


"Akan aku pertahankan konsep ku." Jawab Naura membalas tantangan dari pria itu. 


Beno tersenyum melihat kedekatan Naura dan Arya. "Kalian sudah pulang? Duduklah dan temani pria tua ini sebentar saja." 


"Baik Kek." Jawab Arya yang menarik tangan istrinya, melakukan sandiwara sesuai kesepakatan yang masih berlaku. 


Walaupun di hati Beno sangat sedih berpisah dengan Amar, sudah cukup selama ini dia menjadi pelindung sekaligus perisai dari cucu sulungnya itu. Kasih sayang kepada cucu bungsu semakin menguat, dia percaya jika di dalam keluarganya pasti bahagia. 


"Kalian tampak mesra sekali." Ucapnya kagum. 


Arya tersenyum melirik Naura sekilas, mengecup punggung tangan dari jemari lentik itu dengan lembut. "Tentu saja, dia wanita dan istriku terbaik." Pujinya yang menoleh menyaksikan keindahan dunia sesungguhnya. 


Naura sangat risih dengan perlakuan Arya, memanfaatkan situasi untuk mengambil keuntungan darinya. "Dia begitu menikmati drama ini," geramnya di dalam hati, tersenyum paksa mendengar perkataan Beno.


"Jadi__." Beno menatap keduanya dengan sangat serius, mendekatkan wajahnya penuh akan sebuah harapan dan berharap menjadi kenyataan. "Jadi…kapan kalian memberikan ku cicit?"


Arya yang baru saja meneguk air di dalam gelas tak jauh dari jangkauan, tiba-tiba merasa terkejut dan tak sengaja kembali membuang air di dalam mulutnya ke lantai. Dia mengkode Naura menepuk punggungnya, karena saat ini lebih penting menghilangkan rasa tersedak ketimbang seorang cucu. 


Naura langsung memahami dan memberikan penanganan pertama untuk orang tersedak, setelah rasa menyiksa itu menghilang barulah bertanya. "Apa sudah mendingan?" tanyanya sedikit khawatir, bukan mengenai Arya yang tersedak air tapi mengenai perkataan dari pria tua yang berharap lebih dengan hubungan mereka. 


"Terima kasih, sekarang sudah baikan." Arya memulihkan situasinya sambil menatap sang kakek, berpura-pura tersenyum namun tidak menjawab perkataan itu tanpa komando terlebih dahulu. 


"Hah, syukurlah. Aku pikir kau akan mati dan aku menjadi janda di usia masih muda." 

__ADS_1


Arya tertawa di ikuti oleh Naura, kalimat sindiran yang menginginkan dia mati. "Jangan dianggap serius Kek, dia hanya bercanda saja." Jelasnya. 


"Aku tidak peduli dengan itu, jangan mencoba mengalihkan pembahasan kita kali ini." Tutur Beno tak mau tahu. "Kapan kalian memberiku cicit? Aku sangat bosan dengan Mansion yang sepi seperti pemakaman." Keluhnya dengan raut wajah yang sedih. 


Arya melirik Naura sama sekali tidak membantunya dalam berpikir malah menyerahkan jawaban sepenuhnya padanya. "Ya Tuhan…dia hanya melirik ku tanpa membantuku." Batinnya yang meringis. 


"Kenapa tiba-tiba pria tua itu memberikan pertanyaan menjebak? Apa dia mengira terjadi sesuatu kepada kami?" pikir Naura tak berkutik, dia hanya bisa melimpahkan kesalahan penuh kepada suaminya yang membuat kesepakatan tetap berjalan. 


"Kenapa kalian diam saja?" Beno menatap sepasang suami istri itu secara bergantian. 


Arya menggaruk kepala yang tidak gatal. "Kami belum memikirkannya dan fokus dengan karir masing-masing." 


"Karir bisa di kejar beriringan, atau setelah kalian mempunyai anak." 


"Maaf Kek, kami belum siap menjadi orang tua." Ucap Arya mengecewakan sang kakek. 


"Aku ingin kalian berdua memikirkannya sekali lagi." 


Arya dan Naura menatap kepergian Beno tampan sedih, mereka tidak tahu harus bagaimana. 


"Aku sudah bilang ini tidak akan berhasil, sebaiknya kita bongkar saja sandiwara ini dan selesai." Bisik Naura yang menekan pria itu. 


"Tidak semudah itu." 


"Kau sendirilah yang mempersulitnya, sekarang kau tangani kakek karena aku tidak ingin ikut campur." Naura hendak melangkah tapi di cegat Arya. "Apa lagi? Aku sangat lelah." 


Perlahan genggaman tangan Arya melemah dan membiarkan wanita itu pergi, terus menatap punggung yang perlahan menjauh dari pandangan. Dia menghela nafas, hubungan yang begitu rumit. Andai saja sang istri mau berkompromi, mungkin dia akan menemukan solusinya. 


Naura menghempaskan tubuh lelahnya di atas tempat tidur empuk, menatap langit-langit kamar kembali merenungi beberapa masalah yang belum juga dia selesaikan. 


"Tidak Naura, bukan saatnya kau mengurusi masalah keluarga Atmajaya, menjadi tujuanmu saat ini adalah keluargamu dan keadilan untuk Bella." Monolognya menguatkan mental. 

__ADS_1


Terdengar suara ketukan pintu, dengan cepat Naura menoleh saat pintu sudah terbuka dan memperlihatkan seorang pria tampan. "Kenapa kau kesini?" 


"Ada hal yang ingin aku beritahu padamu." 


"Apa itu penting?" 


"Ya, sangat-sangat penting. Tapi sebelum itu…apa kau setuju untuk makan malam denganku?" Arya berbicara dengan hati-hati takut jika wanita cantik itu menolaknya dan sangat menyakitkan bagi seorang pria pada umumnya. 


"Baiklah." 


Arya tersenyum melihat ekspresi yang di tunjukkan sang istri, sebuah anggukan kepala plus tersenyum padanya. "Aku pergi dulu." Dia terlihat salah tingkah mendengar persetujuan, dia akan menyiapkan segalanya dengan baik. Membicarakan mengenai kelanjutan hubungan mereka, tidak peduli apakah penolakan atau tidak. 


Arya sangat senang dengan hati yang berbunga-bunga, kegembiraan seperti remaja yang jatuh cinta. "Aku akan merencanakan makan malam romantis dan mengatakan perasaanku padanya," gumamnya bersemangat mencari pakaian yang akan di pakai. 


Naura menggelengkan kepala melihat sisi konyol Arya, berangsur dari tempat tidur dan merih handuk untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu, keringat setelah beraktivitas sangatlah tidak nyaman dan terasa lengket. 


*


*


Penampilan Naura yang sangat cantik membuat kedua bola mata Arya gak berani berkedip, memandang kecantikan alami tersuguh dengan sangat jelas.


"Kau sangat cantik." Puji Arya tersenyum jatuh cinta untuk sekian kalinya. 


"Kau hanya akan menatapku dan menunda makan malam?" tutur Naura menepuk bahu pria itu agar tersadar dari lamunan. 


"Maaf, aku terpesona melihat kecantikanmu." 


Naura tersenyum hangat siapa yang mengira di dalam hatinya mengejek pria yang telah sah menjadi suaminya, dengan sengaja dia berpenampilan seperti Bella untuk memancing Arya. Ya, dia bermaksud melihat kesungguhan dari pria itu yang benar-benar mencintai kembarannya dan tidak terlibat dalam kasus kematian beberapa tahun lalu. 


Keduanya masuk ke dalam mobil, Arya mulai mengemudikan mobilnya dan berjalan keluar dari halaman luas Mansion Atmajaya. Sementara di sisi lain, seseorang mengikuti mobil mereka tanpa di sadari. 

__ADS_1


"Kalian tidak akan selamat," gumam orang itu yang menambah kecepatan laju mobil yang di kendarainya, tersenyum licik melancarkan aksi. 


__ADS_2