
Seseorang memperhatikan wanita paruh baya yang masih terlihat sangat romantis bersama seorang pria, dia cukup kagum melihat keserasian dan cinta penuh harmonis. Namun hal itu tidak bertahan lama saat dia mencibir keromantisan dua orang yang bahagia di atas penderitaan orang lain.
"Wow, ternyata mereka hidup damai. Kenapa aku merasa Tuhan tidak adil dengan sang korban?" Gumam pelan wanita itu yang bersembunyi di balik pohon.
Naura mendapatkan alamat ayahnya yang hidup bahagia bersama dengan wanita lain, dimana wanita perebut yang belum merasakan karmanya. Dia menurunkan topi hitam dan juga masker berwarna senada, penyamaran agar tidak di ketahui target.
"Ck, kenapa aku merasa Tuhan tidak adil padaku dan juga kembaranku? Dunia sungguh terbalik, dimana wanita perebut hak wanita lain merasakan hidup damai." Komentar Naura mendecih, memantau aktivitas dari dua orang. Memang sedikit sulit untuk mendapatkan alamat ayah kandungnya, beruntung dia memiliki kecerdasan dan ide keluar dengan sendirinya. Ya, dia memaksa sang ibu untuk menunjukkan foto ayahnya dan berpura-pura meminta minuman, di saat lengah dia mengambil kesempatan emas dan mengambil foto dan meminta jasa ahli IT.
"Ternyata Arya berguna juga," batin Naura tersenyum, mengambil sedikit keuntungan tidak masalah. Memanfaatkan uang yang di berikan oleh suaminya untuk membayar jasa seorang hacker.
Naura memperhatikan situasi dan kondisi di kediaman target, menganggukkan kepala saat salah seorang pria keluar dan masuk ke dalam mobil. "Bagus, dia sudah pergi." Lirihnya yang melintasi jalan untuk sampai ke seberang, menghampiri seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik.
Sementara di tempat lain, Arya tengah bekerja di kantor dan menerima sebuah notifikasi lewat ponselnya yang belum terbaca karena urusan mendesak di kantor. Setelah pekerjaan sedikit renggang, dia memutuskan untuk mengistirahatkan diri agar tidak bekerja bagai kuda.
"Aku terlalu sibuk bekerja sampai lupa mengecek ponsel, tapi notifikasi apa ini?" monolog Arya yang langsung membukanya, terlihat pengeluaran dari kartu yang di berikannya pada sang istri. "Untuk pertama kalinya dia menggunakan kartu yang aku berikan padanya, apa dia sedang berbelanja? Sepertinya begitu, mungkin saja dia membelikan sesuatu untukku juga." Tersenyum membayangkan dan berharap hubungan mereka semakin dekat, terus memikirkan hadiah apa yang akan di berikan Naura padanya.
Dua pasang bola mata saling bertautan seakan tak ingin melepaskannya, seorang wanita paruh baya seakan mengenal bola mata indah yang di suguhkan di hadapannya. "Kau siapa?" tanyanya menatap curiga, bagaimana tidak? penampilan wanita di hadapannya sangat mencolok menutupi wajah.
"Siapapun aku, anda tidak berhak tahu."
"Pertama kau menemuiku dan kedua kau menghalangi pintu." Wanita paruh baya itu melirik sebelah kaki Naura yang sengaja menghalangi pintu agar tetap terbuka.
"Sepertinya kau cukup pintar, akan aku tunjukkan wajahku." Naura sengaja membuka topi dan juga maskernya, memperlihatkan wajah cantik membuat wanita paruh baya di hadapannya sangat terkejut juga shock.
__ADS_1
"Bella." Lirih wanita itu, tatapan kesedihan tersirat begitu jelas, kerinduan mendalam yang padam kembali bersinar terang. Wanita itu meneteskan air mata sambil menutup mulut menggunakan sebelah tangannya, tidak menyangka jika seseorang yang sangat dia rindukan berada di depan mata. Tanpa menunggu waktu lagi, dia menghamburkan pelukan dengan sangat erat tak ingin melepaskannya.
Naura terdiam bagai patung, dia tak menghentikan aksi wanita itu.
"Bella, akhirnya kau kembali. Mama sangat merindukanmu," ujar wanita itu menangis di bahu Naura.
"Wanita seperti apa dia ini? Dia menganggapku Bella, apa dia tidak tahu jika aku kembaran dari anak sambungnya?" batin Naura mulai bertanya-tanya, kehidupan begitu berkelit dan sulit di tebak walau sudah berusaha keras. Dia tersadar dan sedikit mendorong tubuh wanita itu, pikirannya di penuhi keheranan juga rasa penasaran yang tinggi.
"Tidak perlu bersikap bodoh, baik kau maupun aku sudah tahu kalau Bella sudah tiada."
"Maafkan Mama yang selama ini mengatur dan menekan hidupmu, jangan berkata seperti itu Sayang." Wanita paruh baya yang masih terlihat sangat cantik itu menarik lengan Naura dan membawanya masuk, menjamu seperti seorang ibu kepada anak kandungnya.
"Ada apa ini? Kenapa dia seakan buta dengan kenyataan?" Naura sangat penasaran dengan sikap dari sang pelakor yang merebut ayahnya dan juga saudari kembarnya hingga ibunya menderita."
"Mama akan memasak makanan favoritmu," celetuk wanita itu yang hendak beranjak dari duduknya, sangat bersemangat ingin menjamu Naura.
"Jangan seperti itu, kau terlihat sangat kurus sekali, Mama akan menyiapkan makananmu."
"Bella sudah tiada." Tekan Naura menghentikan aksi wanita itu. "Aku bukan Bella, aku kembarannya. Naura."
"Kembaran?" wanita itu mengerutkan sebelah alisnya.
"Jangan berpura-pura tidak tahu, aku akan membahas masalah intinya."
__ADS_1
"Apa?"
"Melihat reaksi anda yang terkejut seperti itu kemungkinan memang tidak tahu mengenai kebenaran ini dan kedua berpura-pura tidak memahami situasinya." Naura mendekatkan wajahnya menatap setiap inci wajah wanita paruh baya di hadapannya tanpa celah. "Apa anda tidak tahu kalau Bella memiliki kembaran?" tanyanya yang mengintrogasi, di balas dengan gelengan kepala dari wanita itu. "Ck, berhentilah berpura-pura." Tukasnya kasar.
"Aku sungguh tidak tahu mengenai itu, suamiku mengatakan Bella di buang oleh ibunya di jalanan dan dia memungutnya. Pernikahan kami tidak memberikan keturunan dan aku merawat bayi itu sepenuh hati."
"Sungguh?" Sarkas Naura yang tidak bisa mempercayai wanita licik di hadapannya.
"Aku tidak berbohong."
"Oho, itu artinya suamimu berbohong." Naura menjauhkan wajahnya sambil melipat kedua tangan di depan dada.
"Suamiku tidak berbohong." Balas wanita itu membuat Naura menyeringai tipis.
"Raut wajah wanita ini memang tidak berbohong, apalagi tatapannya mengatakan hal sebenarnya." Batin Naura mencermati gestur tubuh. "Pria yang anda puji bak seorang malaikat itu adalah pria brengsek di dunia ini."
"Jaga ucapanmu."
"Suami yang anda puja sangatlah brengsek, aku berani mengatakan ini karena dia menyakitiku dan juga ibuku. Ririn dan Rian dulunya pasangan yang saling mencintai, semenjak kau datang dan merusak rumah impian mereka. Anda tahu mengapa sampai sekarang tidak memiliki anak kandung? Itu karena kalian bahagia di atas penderitaan ibuku. Suami mu menceraikan ibuku dan membawa kakak kembarku setelah di lahirkan, apa kau tidak memikirkan bagaimana hancurnya perasaan ibuku saat itu, heh?" Bentak Naura sambil menyeka air mata.
Wanita itu terdiam seribu bahasa, meneteskan air mata mengingat dirinya tidak mengingat apapun karena penyakit Alzheimer.
"Apa?"
__ADS_1
"Heh, kau terlalu naif menjadi seorang pelakor." Ketus Naura yang semakin menjadi, melampiaskan rasa sakit di hati.
Seorang pria berdiri di daun pintu, mendengar segalanya tanpa terlewatkan satu katapun. Pria itu diam membisu, dan segera berjalan menghampiri istrinya.