Ayo Menikah

Ayo Menikah
Bab 45


__ADS_3

Selepas kejadian memalukan itu, Arya tak berani menunjukkan wajahnya di hadapan semua orang terutama Naura. Harkat dan martabatnya jatih sebagai seorang laki-laki tangguh, tadinya dia ingin menunjukkan kebolehannya dalam misi penyelamatan, tapi yang terjadi malah sebaliknya. 


Brak


Arya melempar bantal mengenai lemari pakaian, menarik nafas dalam dan mengeluarkannya perlahan. Apa yang harus di lakukannya untuk mendapatkan kembali citra sebagai seorang laki-laki? Kerugian yang di dapat begitu berlipat ganda, sudah jatuh tertimpa tangga. Ya, sepertinya kalimat itu sangat cocok untuknya, apalagi seorang Arya Atmajaya yang tersohor menjadi begitu kecil di depan Naura. 


"Sial. Harusnya aku yang melakukan aksi heroik itu, bukannya pingsan setelah menerima sendal melayang." Umpat nya kesal, kesalahan yang pastinya akan teringat seumur hidup apalagi menyangkut harga dirinya yang di permalukan. 


"Berhentilah menyalahkan dirimu, ayo turun dan sarapan bersama." Ucap seseorang yang berdiri di depan pintu, senyum tipisnya terukir dengan sangat jelas semakin membuat nyali Arya menciut. Dia hendak berlalu pergi namun menoleh ke belakang karena ada suatu hal yang ingin di sampaikan. "Kita lupakan mengenai kejadian itu," tuturnya dan melangkah pergi, tersenyum melihat kesombongan sang suami luntur seketika. 


"Sombong sekali dia," lirih nya. "Aku tidak se-payah yang kau pikirkan." Pekiknya berharap Naura bisa mendengarkan ucapannya. 


Di meja makan, dua pasang mata terus tertuju pada Arya. Keduanya menahan tawa apalagi bekas terkena lemparan sepatu masih tersisa, menjadi bukti hal yang sangat memalukan. 


"Berhentilah menatapku seperti itu." Cetus Arya tanpa menoleh, lebih tertarik pada sarapannya tapi yang sebenarnya terjadi ialah menutupi sikap gugupnya. 


"Kau tidak perlu malu, Kakek bisa memakluminya." Celetuk Beno. 


Seketika itu juga Arya mendongakkan kepala. "Aku tidak malu." 


"Benarkah? Lalu mengapa kau tampak menghindar?" sela Naura sambil mengolesi selai di atas roti. 


"Itu…itu karena A-aku letih saja." 


"Sangat jelas terlihat, kau berbohong. Kita lupakan saja lagipula aku tidak tertarik dengan kepayahanmu." 


Ingin rasanya Arya mengumpat, tapi dia tidak boleh menunjukkan emosi atau mereka akan berpikir demikian, bisa-bisa harga dirinya sebagai seorang pria ternodai. 


Beno tersenyum melihat cucu dan cucu menantunya yang sangat dekat. "Berhentilah bersikap kekanakan, kapan kalian akan memberiku cicit?" 


"Uhuk." Naura sangat terkejut mendengar ucapan keramat itu, rasa lapar melandanya sirna lebih cepat. Dia segera meraih gelas yang berisi segelas air mineral dan beberapa kali meneguknya. 


"Kakek bercanda? Aku dan Naura tidak ingin memiliki bayi." Jawab Arya menengahi. 


"Lalu, untuk apa kau hidup." Kesal Beno mendapatkan penolakan secara langsung. 

__ADS_1


"Kakek menyumpahiku mati?" protes Arya tak terima, dia juga tak berselera untuk sarapan. "Sudahlah, ada rapat penting yang harus aku selesaikan. Naura, ayo!" 


Namanya yang di sebutkan itu segera beranjak dari kursi tanpa menyelesaikan sarapan, menghindar adalah hal yang sangat tepat kali ini. Sedangkan Beno menatap punggung sepasang suami istri itu heran, apa yang salah membahas mengenai keturunan dari keluarga Atmajaya? Entahlah, dia juga tidak tahu namun merasakan sebuah kejanggalan. 


"Kenapa mereka menghindar? Ada sesuatu yang tidak beres di sini, aku harus menyelidikinya." 


Sementara di dalam mobil, Naura mengatur nafasnya setelah mengikuti langkah pria itu, tampak kesal setelah memikirkan perbuatan Arya. 


"Kau lihat itu! Kakek mengira hubungan kita sangat dekat dan dia menginginkan seorang cicit."


"Lalu?" ucap Arya dengan santai. 


"Lalu? Kau mengatakan itu sangat santai? Oh Tuhan, permainan apa ini." Geram Naura tak bisa berpikir jernih, dirinya bisa terjebak dengan pria bodoh seperti Arya. 


"Memangnya aku harus apa? Kakek akan selalu mengatakan itu sampai dia mendapatkan keinginannya." 


"Dan sayangnya itu tidak akan terjadi." Sela Naura. 


"Itu sebabnya aku menghindar." 


Seorang wanita terkejut dengan lemparan tas yang hampir mengenainya, melihat sang pelaku yang tampak kesal. "Kau kenapa?" tanyanya menautkan kedua alisnya. 


"Aku sedang kesal, kau tidak lihat?" jawab Naura menghempaskan bokongnya di sofa empuk. 


"Ck, aku tahu kau kesal, tapi apa yang menjadi penyebabnya?" 


"Sejujurnya saja aku tidak sanggup berada dalam sangkar emas itu dan terikat pada Arya Atmajaya, tapi apa aku punya pilihan lain?" 


"Memangnya apa?" tanya Lita yang belum memahaminya. 


"Menyewa seseorang itu biayanya tidak sedikit, aku memerlukan harta si payah itu untuk kepentinganku." 


"Sejak kapan kau menjadi wanita serakah?" 


"Keadaanlah yang membuatku begini, tidak perlu memberi ku ceramah." Naura mengipasi tubuhnya agar rasa kesal itu perlahan memudar. "Tolong pesankan aku minuman dingin!" pintanya tanoa menoleh. 

__ADS_1


"Aku bukan pelayanmu." 


"Kau perhitungan sekali, aku sedang meminta tolong." 


"Kau pesan saja sendiri." 


Akhirnya Naura terpaksa pergi ke sebuah cafe terdekat untuk memesan minuman dingin, tak sengaja dia melihat tiga orang yang sangat di kenalnya. "Itu mereka." Lirihnya menyipitkan kedua mata, berjalan mendekat dan menunda pesanannya. 


"Berani sekali kau membawa putriku pergi dariku!" sarkas seorang pria yang menggenggam lengan wanita di depannya. 


"Kau pikir apa hah? Setelah merebut Bella dariku dan kau juga ingin membawa Naura?" Ririn menatap wanita yang bergelayutan manja di lengan mantan suaminya, memandangnya sinis. "Dan kenapa kau membawa wanita ular ini?" 


"Diam! Kau tidak berhak mengatakan hal buruk mengenai istriku." 


Ririn sangat terluka saat melihat sang mantan suami yang pernah menorehkan luka padanya, kini pria itu ingin meminta putrinya yang lain? Bagaimana bisa dia menyetujui permintaan konyol apalagi hanya beralasan demi kesembuhan penyakit wanita perusak rumah tangganya dulu. 


"Lepaskan aku!" Naura menghempaskan tangan pria itu dan menatapnya tajam, menunjuk wajah Rian yang sedari tadi memancing kemarahannya. 


"Kau tidak mengurus Naura dan lebih memikirkan dirimu sendiri, setidaknya putrimu akan mendapatkan kebahagiaan dengan tinggal bersama kami." Ujar Diana melembut. Ya, begitulah caranya dia mendapatkan hak wanita lain, membuat dirinya lemah dan mendapatkan simpati. 


"Kau wanita yang sangat menyedihkan, mengemis anak yang aku lahirkan dengan perjuangan seorang diri dan ketika besar kalian ingin merampasnya dariku? Tidak akan aku serahkan Naura, dia anakku." 


"Tapi dia juga anakku." Tegas Rian tak mengalah, keributan yang semakin besar menjadi tontonan beberapa orang lewat. 


"Minta saja istri tercinta mu melahirkan seorang anak atau mengadopsinya." Ide Ririn. 


"Aku tidak sudi merawat anak orang lain dan Diana tidak akan__." Perkataan Rian tertahan, tak sanggup mengatakan kebenaran pahit itu. 


"Tidak akan hamil? Itu karma yang harus di terima untuk seorang perebut sepertinya." 


"RIRIN," tekan Rian yang hampir melayangkan tangannya hendak menampar pipi sang mantan istri, namun seseorang malah menghalanginya. 


Semua orang mengalihkan pandangan saat kedatangan Naura yang menjadi keributan dari tiga orang, menatap dengan sinis. 


"Jangan pernah kau menampar ibuku." Ancam Naura yang tak main-main, aura yang di keluarkan sangatlah berbeda ketika dia marah. 

__ADS_1


__ADS_2