
Ririn sangat tersentuh hatinya melihat pembelaan dari putrinya yang selama ini menjauh darinya, kematian dari Bella membuatnya lupa memiliki putri lainnya yang membutuhkan kasih sayang. Kesalahan terbesarnya adalah ketika beranggapan jika anak bungsunya sangat tangguh, kematian dari salah satu putrinya membuat putri yang lain tidak mendapatkan perhatiannya.
"Akhirnya kau disini." Rian tersenyum mengembang dan menarik tangan Naura hendak membawanya pergi.
Naura melirik tangannya yang di cekal oleh pria itu dengan sinis. "Jangan melewati batasan anda!" tekannya.
"Ayo ikut Ayah, Nak." Bujuk Rian bermulut manis semakin membuat Naura ilfil.
"Kau bicara seperti itu karena ingin mengabulkan keinginan istri tercinta mu, tapi sayangnya aku tidak sebaik itu."
"Apa yang kau harapkan pada ibumu yang bahkan tidak becus mengurus mu, aku tahu hubungan kalian tidak sedekat itu." Jelas Rian penuh percaya diri.
Naura tersenyum miring, kehidupan miris begitu membuatnya mengasihani dirinya sendiri, menganggukkan kepala seraya mengusap wajahnya kasar. "Apa kau merasa lebih baik darinya? Setidaknya dia mengurusku sewaktu kecil, dan pertengkaran ibu dan anak itu biasa."
"Apa yang kau harapkan dari wanita gila itu?" cetus Rian menyulut emosi Naura.
"Kaulah yang menjadi penyebabnya, kau bawalah istri penyakitan mu itu pergi dan jangan mencoba menunjukkan wajahmu lagi." Naura meninggikan suara tak peduli jika tatapan semua orang terarah padanya.
Rian manggut-manggutkan kepala, dia sangat kesal saat harga dirinya ternodai dan di injak oleh anaknya sendiri. "Ayo Diana, kita pergi dari sini." Ucapnya sambil menarik tangan sang istri.
Diana menoleh dengan guratan kesedihan, kasih sayangnya sebagai ibu sambung pada Bella memang luar biasa dan hal itu pula lah menguatkan tekadnya untuk mendapatkan Naura.
Keduanya menatap kepergian sepasang suami istri, Ririn menghela nafas seakan tak percaya dengan permintaan konyol dari mantan suaminya yang menginginkan anaknya yang tersisa. Sorot mata kagum saat di bela oleh anak yang pernah di lahirkan, semakin merasa bersalah karena pernah menelantarkannya.
Setelah tidak memiliki urusan lagi, Naura berlalu pergi untuk kembali ke butik. Tapi pergelangan tangannya di genggam oleh Ririn, membuatnya langsung menoleh.
"Maafkan Ibu, Nak." Kedua sorot mata penuh harap, ingin sekali hubungan ibu dan anak kembali membaik. "Ibu tidak mengatakan kebenarannya padamu, alasan yang membuatku pergi meninggalkanmu."
"Aku tahu, kau melakukan itu karena kehilangan Bella." Sela Naura yang memahaminya.
"Aku tidak adil padamu, tolong maafkan aku. Sungguh, aku tidak bermaksud meninggalkanmu." Ririn menyatukan kedua tangannya sambil menangis, deraian air mata menjadi saksi dikala bibir tak mampu berucap, seakan menjelaskan sebuah penyesalan di masa lalu.
Hati Naura tersentuh dengan apa yang di alami oleh wanita paruh baya di hadapannya, sungguh berat melalui hari-hari tanpa seorang pun. "Aku butuh waktu." Ucapnya seraya pergi tanpa peduli jika tangisan Ririn semakin pecah.
Naura berjalan masuk ke dalam butik, pikirannya berkecamuk saat semuanya sangat jelas. Di saat kecil dia pernah bertanya pada ibunya mengenai keberadaan ayahnya tapi sang ibu malah mengalihkan topik pembicaraan atau memarahinya, sekarang dia tahu mengapa ibunya tak ingin mengungkit masa lalu padanya.
Keluarganya hancur setelah dia di lahirkan, apa yang lebih buruk daripada itu?
__ADS_1
Tanpa sengaja Naura menabrak seorang pengunjung dan membuyarkan lamunannya, dia segera membantu setelah itu meminta maaf. "Maaf, aku tidak melihatmu tadi."
"Lain kali hati-hati," cetus wanita itu yang masih kesal.
Naura duduk lemas di sofa ruangan kerja sang sahabat, tidak ada gairah untuk melakukan apapun.
"Kau kerasukan setan dimana?" ledek Lita merasa Naura sedikit berbeda.
Naura tak langsung menjawab, menarik nafas dalam dan mengeluarkannya secara perlahan. Kemudian dia mulai menceritakan apa yang terjadi baru saja, tak tahu keputusan akhir yang akan di ambilnya.
"Jadi begitu? Ayahmu sangat egois sekali, dia hanya peduli dengan permintaan istrinya."
"Pria itu bahkan tidak menginginkanku, dunianya terkurung pada wanita perebut itu. Aku sangat benci penghianat…sangat membencinya." Naura mengepalkan kedua tangannya teringat pengkhianatan dari Amar dan juga Lili.
"Aku rasa kau sudah bertindak benar dengan membela ibumu, ibumu tidak bersalah dalam kasus ini. Aku akui jika dia pernah mengabaikanmu, tapi mentalnya terganggu saat kematian dari saudara kembarmu."
"Hem, kau benar. Tetap saja hatiku belum bisa menerimanya," lirih Naura setuju.
"Tidak ada yang instan, perlahan kau pasti bisa memaafkan kesalahan ibumu. Kau tidak tahu apa yang di laluinya, selalu ingin bertemu denganmu tapi kau selalu memutus kontak dengannya." Liki tahu karena Ririn selalu menanyakan Naura padanya, tidak ada ibu yang tidak peduli pada anaknya.
Setelah telepon selesai, Arya memeriksa semua informasi itu. Salah satu sudut bibirnya melengkung ke atas, menatap salah satu foto yang menjadi target Naura.
"Pria yang egois, aku akan menenggelamkannya." Ucap Arya di dalam hati.
*
*
"Kau tahu apa ini?" Arya mengangkat sebuah berkas ke udara.
"Itu perjanjian pranikah," jawab Naura yang lesu dan tidak bersemangat.
"Aku tahu kau masih belum bisa mempercayaiku, dan mengatakan aku terobsesi pada Bella."
"Lalu?"
"Kau dengarkan aku dulu, aku ingin menantangmu dan hadiahnya adalah berkas ini."
__ADS_1
Naura sedikit tertarik dengan sebuah tantangan dan menatap Arya dengan seksama. "Apa itu?"
Arya tersenyum tipis setelah dia mengetahui semua yang ada pada istrinya itu, perlahan dia mulai memahaminya. "Kau akan mendapatkan surat perjanjian pranikah yang asli setelah satu bulan."
"Satu bulan?" Naura sangat tertarik dan itu bisa mempersingkat waktunya. "Apa yang harus aku lakukan selama satu bulan, jangan katakan kau menginginkan permintaan aneh." Ujarnya dengan penuh kecurigaan.
"Beri aku satu kesempatan untuk membuatmu jatuh cinta padaku dalam satu bulan."
Naura tersenyum mengejek. "Kau bercanda? Apa niatmu sebenarnya?" tanyanya penuh penyelidikan dan menusuk.
"Aku menyadari perasaanku yang sebenarnya, yang kau katakan sebagai obsesi itulah adalah cinta. Ya Naura, aku mencintaimu dan beri aku satu kesempatan membuktikan ucapanku."
Seketika tawa Naura pecah, mana mungkin dia bisa percaya dengan perkataan pria licik juga payah itu? Sialnya pria itu masih suaminya. "Kau bercanda ya?"
Arya tampak serius kali ini, dia ingin wanita itu tahu mengenai dirinya. "Tidak. Aku serius."
Naura mendekatkan wajahnya menyusuri setiap inci wajah tampan di hadapannya sembari melipat kedua tangan di depan dadanya, mencari kebohongan di mata pria itu.
"Aku tahu kalau aku tampan, tidak perlu menatapku seperti itu."
Naura menghela nafas jengah mendengar kesombongan pria itu. "Ck, dia mulai lagi."
"Jadi bagaimana? Yes or no?"
"Aku belum bisa menjawabnya sekarang, ini sangat aneh."
"Aneh bagaimana?" Arya mengangkat sebelah alisnya penasaran.
"Tiba-tiba kau mengatakan pembuktian cinta, apa sebenarnya niatmu?"
"Mau bagaimana lagi? Makan malam romantis itu gagal total, hanya ini caraku."
"Ck, sangat tidak romantis." Naura berlalu pergi meninggalkan pria itu tanpa memberikan kepastian.
"Jadi bagaimana keputusan mu?" pekik Arya menatap punggung wanita itu yang mulai menjauh darinya.
"Aku belum bisa memutuskannya." Balas Naura. "Ini sangat mendadak. Dia ingin membuktikan cinta? Ck, omong kosong. Pria sepertinya hanya tahu obsesi saja," gumamnya.
__ADS_1