Ayo Menikah

Ayo Menikah
Bab 38


__ADS_3

Seorang pria yang berbaring lemas di atas brankar rumah sakit, drama yang dimainkan cukup berkesan baginya. Apalagi kondisi Arya hanya tergores sedikit saja dan tidak mencapai masalah serius, namun akting di perlihatkan begitu epik. 


Naura berdecih mengalihkan pandangan ke arah lain, akting yang begitu sempurna di mainkan Arya. Dia melipat kedua tangan seraya melirik jam yang terpajang di dinding, semakin jenuh dengan suasana yang terasa jelas. 


"Mau sampai kapan kau memejamkan mata seperti orang mau mati?" cibir Naura yang tidak bersimpati sedikitpun, berawal saat Arya merintih kesakitan dan membuat kehebohan di rumah sakit. 


Ya, saat mereka dalam perjalanan rumah sakit, Arya membuat sebuah drama yang begitu menegangkan juga heboh. 


"Kau hanya tergores saja, jangan dramatis." Ulang Naura yang sudah jengah dengan kepura-puraan Arya. 


"Ya Tuhan, bahkan kondisiku seperti ini dia tidak bersimpati dan tetap dingin." Batin Arya seperti mengelus dadanya melihat sikap ketus dari wanita itu, sudah hampir kehabisan cara yang membuatnya terlihat bodoh. 


"Dalam hitungan ketiga jika kau belum membuka mata, maka aku akan pergi dari sini dan tidak menghiraukan mu karena hanya membuang waktuku." Naura hendak pergi tapi terhenti di saat tangannya di tahan seseorang, dengan cepat dia menoleh menatap tajam sang pelaku yang menatapnya penuh harap. 


"Jangan pergi." Arya terpaksa mengakhiri dramanya dan menurunkan ego demi mendapatkan simpati dari wanita cantik yang masih terikat dengannya. "Tolong jangan pergi, kumohon!" bujuknya menggunakan tatapan merayu. 


"Dokter mengatakan kalau kau hanya tergores…hanya tergores saja." Tekan Naura di akhir kalimatnya. 


"Maaf, aku hanya ingin kau ada di sampingku." 


"Aku akan di sampingmu saat malaikat mencabut nyawa dan menyaksikan kematianmu." Cetus Naura dingin. 


"Kau tega sekali, apa kebersamaan kita tidak memberimu kesan? Aku ini masih suamimu dan berempati walau sedikit saja." 


Naura mendudukkan dirinya dan menjaga pria itu, selama masih terikat kontrak dia tetaplah istri sah dari Arya Atmajaya. 


Arya menyunggingkan senyuman tipis yang tidak di ketahui siapapun, diam-diam melirik wanita cantik di sebelahnya. "Aku sangat bahagia jika Naura di sampingku, aku harus memastikan perasaan ini." Ucapnya di dalam hati. 


Pintu di ketuk mengalihkan perhatian mereka, terlihat seorang suster membawa nampan yang berisi makanan untuk pasien. Dimana saat itulah Arya merasa jika dirinya terjebak di antara makanan yang paling di bencinya, yaitu hidangan rumah sakit yang selalu di cap buruk. 

__ADS_1


"Maaf mengganggu, ini makanan untuk pasien dan juga obatnya." Suster meletakkan nampan di atas nakas, sedangkan Naura mengangguk pelan mengerti. 


"Terima kasih." 


"Sama-sama." 


Arya menatap punggung suster yang menghilang di balik pintu, menelan saliva saat membayangkan makanan rumah sakit yang di cap buruk. Naura memperhatikan ekspresi wajah suami kontraknya dengan seksama dan mencibir. 


"Aku merasa kau akan memuntahkan makanan yang di bawa suster itu," ejek Naura.


"Kenapa kau merasa seperti itu?" 


"Terlihat jelas tergambar di wajahmu yang sangat tampan itu." 


Mendengar pujian dari Naura menumbuhkan semangat baru, jati dirinya kembali memulih. "Heh, kau tidak bisa membaca raut wajahku dengan benar." Balasnya sombong. 


"Kalau begitu kau habiskan makanan ini dan baru aku bisa percaya ucapanmu." Tantang Naura tersenyum mengejek. 


"Aku mengawasimu." 


Baru saja Arya memegang sendok dia tiba-tiba meringis kesakitan sambil memegang lengan nya yang sedikit terkilir. 


"Arghh." 


"Kau kenapa?" 


"Lengan ku sangat sakit, sepertinya tidak bisa menyuapi makanan itu. Sebaiknya kau singkirkan saja, aku akan memakan nya nanti." Ujar Arya beralasan, beruntung ide keluar saat dia membutuhkannya dalam keadaan terdesak. 


Naura meraih nampan yang berisi makanan dan mengambil alih, perlahan dia menyuapi Arya yang memaksanya untuk menghabiskan makanan dan minum obat setelah itu. "Buka mulut mu!" cetusnya.

__ADS_1


Arya sedikit terkejut dengan tindakan Naura yang ingin menyuapinya, spontan mulutnya terbuka lebar sembari menatap wajah cantik sang istri. Debaran detak jantung yang bekerja dua kali lipat, dimana jarak mereka sangatlah dekat. Tiupan sebelum makanan itu masuk ke dalam mulut menjadikan sebagai mantra dan bumbu penyedap hingga dirinya merasakan makanan yang sangat nikmat. 


Perhatian Arya terus tertuju pada Naura yang fokus menyuapinya, sangat terharu dengan sikap simpati dari wanita itu. Perlahan senyumnya mengembang merasakan sesuatu di dalam sana bergetar dengan hebat, pandangannya tak pernah lepas dari wanita itu. 


Naura begitu telaten menyuapi Arya dan memastikan suaminya itu sembuh agar tidak menyusahkannya lagi, bolak-balik sangatlah membosankan dan berharap sang suami bisa di rawat jalan. Suapan terakhir dan menyadari kalau seseorang menatapnya, membalasnya dengan lirikan menyelidik. 


"Jangan salah paham dengan tindakan ku, aku terpaksa menyuapimu untuk memastikan kau segera sembuh dan tidak menunjukkan drama konyol lagi." Ucap Naura tegas. "Minumlah obatmu," sambil menyerahkan beberapa butir obat yang berlainan bentuk dan warna. 


"Terima kasih." Ucap Arya tulus, mengambil obat di tangan Naura dan menelannya. "Suapan nya sangat dahsyat seperti ada mantra di tangannya," ucap Arya di dalam hati, hatinya menghangat dengan sikap sang istri. 


"Sekarang beristirahatlah." Naura menyelimuti Arya dan hendak berlalu pergi, lagi dan lagi langkahnya tertahan. "Kau butuh sesuatu?" tanyanya. 


Arya menganggukkan kepala dengan tatapan penuh harap, berharap sang istri menemaninya di sana. "Tidak bisakah kau di sini dan menemaniku." Bujuknya.


"Aku masih memiliki pekerjaan." 


"Disini tidak menyenangkan dan membuatku bosan, temani aku!" 


"Baiklah." Naura terpaksa mengabulkan keinginan dari suami kontraknya, dia juga tidak tega meninggalkan pria itu. 


Secepat kilat Arya meraih sebelah tangan Naura dan memeluknya, suasana canggung di rasakan oleh sang empunya tangan.


"Apa yang kau lakukan? Lepaskan tanganku!" 


"Sebentar saja," lirih pelan Arya yang keukeuh memeluk tangan itu, kembali merasakan jantung yang berdetak dua kali lebih cepat. "Pertanda apa ini? Apa aku mulai jatuh cinta padanya? Perasaan ini hampir sama saat pertama kali aku mendekati Bella, apa ini getaran cinta?" gumamnya di dalam hati, perlahan dua sudut bibir di tarik ke atas dan terlihat sangat manis. Dia baru menyadari jika perasaannya telah teralihkan pada Naura yang berhasil mendebarkan jantungnya, setelah memastikannya dia tidak akan pernah melepaskan wanitanya untuk kedua kalinya.


"Dia kenapa?" batin Naura merasa aneh. 


"Aku mencintai Naura dan akan mengejarnya sampai dapat, aku tidak akan melepaskannya." Batin Arya yang belajar dari kegagalan masa lalunya. 

__ADS_1


Tanpa di sadari jika seseorang mengintip di balik daun pintu yang terdapat sebuah celah tengah mengepalkan tangan melihat keromantisan dua insan di depannya, dia segera berlalu pergi meninggalkan tempat itu demi emosi yang sudah tak terbendung lagi.


"Sial." Umpatnya kesal.


__ADS_2