Ayo Menikah

Ayo Menikah
Bab 31


__ADS_3

Naura bergegas masuk ke dalam mobil menuju sebuah tempat yang tidak pernah dia datangi sebelumnya, sangat terburu-buru tanpa menghiraukan panggilan Arya dengan suara yang melengking. 


"Bawa saya ke alamat ini." Naura menunjukkan layar ponselnya, sang supir mengangguk setuju. 


Di sepanjang perjalanan hatinya begitu gelisah mengenai seorang wanita yang sangat mirip dengannya, pandangannya langsung tertuju pada wanita yang pernah dia pinjam rahim selama sembilan bulan lamanya. Dia menyingkirkan rambut yang menghalangi pandangannya, menatap sebuah kertas berisi foto. 


"Siapa wanita ini sebenarnya? Aku tidak pernah berpose sepertinya, tapi yang aku herankan kenapa wajahnya sangat mirip?" batinnya mengusap foto itu dan membalikkannya membaca nama yang tertera disana. 


Naura mengatur nafas dan juga perasaannya agar bisa terkontrol dan terkendali saat bertemu dengan seorang wanita yang pernah melahirkannya, sebuah pikiran berkecambuk menetap pada satu titik dimana dia harus mengeluarkannya sebelum menjadi beban dan masalah. 


Dengan keberanian yang terpaksa, Naura mengetuk pintu yang terbuat dari kayu jati, ukiran bunga menghiasi. Beberapa kali berusaha untuk menekan bel, demi sebuah keinginan untuk menghilangkan rasa penasarannya. 


Pintu terbuka lebar, seorang wanita paruh baya tampak shock dengan kehadiran dan melemparkan senyuman hangat. Reaksi yang di berikan oleh Naura jauh berbeda, dan hal itu mengurungkan niat sang empunya rumah memeluk wanita yang menjadi tamunya. 


"Kamu menemui Ibu?" ucapnya dengan sorot mata bahagia. 


"Ada sesuatu hal yang penting harus kita bicarakan." Jawab Naura dingin tanpa ekspresi. 


"Ayo masuk!" tawarnya yang mempersilahkan untuk masuk ke dalam rumahnya. 


Naura melangkahkan kakinya masuk kedalam dan pandangan mata mulai merayap di sekeliling, bentuk dan dekorasi seperti rumah kuno yang menyimpan cerita magis di sana. 


"Silahkan duduk," wanita itu teramat senang dengan keberadaan Naura untuk pertama kalinya, menyambut ramah untuk meninggalkan kesan baik di mata sang tamu. 


Wanita paruh baya itu bernama Ririn, seorang wanita yang menginginkan kembali cinta dari anaknya. Dia menyiapkan dan mengeluarkan semua makanan juga cemilan dan menyuguhkannya sehingga meja terisi penuh. "Minumlah!" ucapnya dengan penuh harap. 


Naura melirik makanan dan cemilan di atas meja yang terisi penuh, tidak ada keinginan untuk mencicipinya teringat bagaimana hubunganya dengan sang ibu. "Aku datang bukan untuk ku ini." 

__ADS_1


Ririn menunduk sedih, kembali menatap lawan bicaranya dengan tersenyum ramah. "Tidak masalah, aku sangat senang kau mengunjungi ibumu disini untuk pertama kalinya. Tapi, bagaimana kau mendapatkan alamat Ibu?" 


"Itu tidak penting, aku datang bukan untuk berbasa-basi." Naura langsung mengeluarkan sebuah foto dan memperlihatkannya langsung. "Siapa wanita yang mirip denganku?" tanyanya dengan tatapan penuh penyelidik bagai seorang polisi yang mengintrogasi. 


Dengan cepat Ririn memulihkan ekspresi wajah yang sedikit terkejut dan meraih foto itu. 


"Apa yang tidak aku ketahui?" 


"Darimana kau mendapatkan foto ini." Ririn menelan saliva dengan susah payah, rahasia yang selama ini di kubur hidup-hidup mulai terkuak. 


"Tidak penting bagaimana aku mendapatkannya, siapa wanita yang bersama Amar juga Arya. Aku ingin adanya kejujuran disini, itulah yang aku perlukan." 


Ririn menghirup oksigen sedalam mungkin dan mengeluarkannya secara perlahan, menatap anaknya seksama. "Dia Bella, kakak kembarmu."


"Jelaskan lebih detail!" pinta Naura yang sangat terkejut baru mengetahui kenyataan itu. 


Naura memicingkan kedua mata sambil menatap langit-langit ruangan itu, sejujurnya di terharu dengan kisah di masa lalu tapi keegoisan masih menyertainya.


"Rian merebut Bella dan lari bersama wanita lain yang menjadi istri keduanya, Tuhan memang adil karena tidak mengkaruniai seorang anakpun pada pelakor itu. Tapi aku yang menjadi korbannya dan terkena baby blues." 


Naura menghela nafas melihat butiran cairan bening di pelupuk mata wanita paruh baya di hadapannya. "Lali, dimana Bella?" 


"Bella sudah meninggal karena kasus bunuh diri, dia meninggalkan sepucuk surat mengenai kematiannya yang di sebabkan oleh kekasihnya." Ririn menunjuk foto pria yang menjadi dalangnya. "Pria itu kekasihnya!" sentaknya yang memendam amarah sambil menangis. 


Kedua pupil mata membesar saat wanita itu menunjuk foto Amar, dan mulai memahami penyebab tanpa harus di usut. Dia memang seorang gadis yang terlihat bodoh, tapi memiliki daya pikir yang cepat. 


"Karena pria kaparat itu sebagai casanova." 

__ADS_1


"Benar. Bella menuliskan surat jika Amar yang menjadi penyebabnya. Aku mendengar kau menikah dengan pria dari keturunan Atmaja, sangat terkejut dan ingin menghentikannya. Tapi, pemberitaan mengenai pernikahanmu dengan pria pengganti membuatku sedikit lega, walau pria itu masih satu darah dengan si brengsek." 


Naura mengepalkan kedua tangan menahan luapan emosi setelah mendengar kisah masa lalu, dendam di hati seperti racun yang menyebar dengan sangat cepat. 


"Bagaimana dengan Arya?" tentunya dia sangat penasaran, dan berharap jika terkaannya salah.


"Pria yang kau nikahi itu sangat mencintai Bella dan rela di sakiti, berkorban banyak tapi sayang cintanya tak terbalaskan." 


"Oho, pantas saja Arya memperlakukanku begitu aneh. Jadi, dia mengganggap ku sebagai pengganti dengan menghidupkan karakter Bella di dalam diriku." Batin Naura yang sangat marah dengan kejadian yang menimpanya, semua jawaban sudah di dapatkannya. 


"Ibu ingin kau menjauh dari keluarga Atmajaya, pria tua itu juga bersalah dalam hal ini karena melindungi cucu kesayangannya. Bella yang malang, tidak ada keadilan padanya." Ungkap Ririn yang kembali menangis. 


"Tidak perlu mengatur hidupku, urus saja dirimu sendiri." Naura berlalu pergi dengan raut wajah merah padam, dia mengerti semuanya sekarang. 


Ririn berteriak memanggil nama Naura tapi tak di gubris, menangis di ambang pintu dan terduduk meratapi nasibnya tanpa kasih sayang. Dia juga bersalah karena meninggalkan putri lainnya hanya karena bersedih atas kematian putri sulungnya. 


Setibanya di Mansion Atmajaya, Naura di sambut oleh Arya yang selalu bersikap manis dan penuh perhatian. 


"Kau dari mana saja?" Arya menghamburkan pelukan pada istrinya, Naura terdiam bagai batu dan tidak menjawab pertanyaan yang sangat tidak penting baginya. 


"Mulai sekarang kita akan tidur di kamar berbeda, aku tidak peduli bagaimana tanggapan orang." Putus Naura final berhasil membuat pelukan pada tubuhnya melonggar. 


"Aku tidak bisa mengabulkan permintaanmu." 


"Kenapa tidak bisa?" Naura menepis pria itu dan menoleh, tatapan tajam dan menusuk terarah begitu saja. 


Arya sedikit gugup melihat Naura yang menyimpan amarah padanya. "Karena kakek akan menginap di Mansion ini lagi, kondisinya sangat mengkhawatirkan dan ingin kita berdua bersamanya." Beruntung dia memiliki alasan yang menghentikan niat Naura. 

__ADS_1


__ADS_2