Ayo Menikah

Ayo Menikah
Bab 58


__ADS_3

Arya memanfaatkan situasi itu dengan sebaik mungkin, keduanya hanyut dalam perasaan masing-masing, cukup lama pelukan itu terjadi dan salah satunya melepaskan pelukan. 


"Kau masih marah?" tanya Naura memelankan suaranya, dan berharap pria itu tidak tersinggung. 


Dengan cepat Arya menggelengkan kepala, hubungan yang semakin berkembang itu akan segera menjadi cinta. "Aku tidak marah. Apa kau baik-baik saja?" tanyanya dengan lembut sembari menyelipkan rambut yang menghalangi wajah cantik di hadapannya.


"Aku baik, dan kau?" 


"Aku juga baik." 


Lama keduanya terdiam, Naura memutuskan untuk membersihkan tubuhnya dan terlihat sangat kikuk dan juga canggung. Hal itu terlihat jelas di mata Arya yang bukan kesalahannya, keadaanlah yang begitu terdesak. 


"Naura." Panggil Arya menghentikan langkah wanita itu. 


"Ya." Sahutnya yang menoleh. 


"Bukan apa-apa, lanjutkan saja." 


"Oh baiklah." 


Arya menatap punggung Naura yang menghilang di balik pintu kamar mandi, mengusap rambutnya kasar dan merutuki kebodohannya yang tidak jadi bertanya. "Sial, padahal sedikit lagi. Tapi mengapa lidah ku terasa keluh, andai saja aku mengungkapkan perasaanku padanya." 


Naura tersenyum membayangkan kejadian konyol itu, kemarahan yang langsung menghilang seketika dari benaknya. "Eh, kenapa aku mulai memikirkan Arya?" segera dia menepisnya dan melanjutkan ritual mandinya. 


*


*


Seorang wanita cantik nan seksi berjalan dengan berlenggak-lenggok, pakaian yang super ketat itu cukup jelas mencetak isi di dalamnya. Dengan penuh percaya diri dia tersenyum sombong dan meremehkan semua orang, masuk tanpa peduli larangan dari penjaga. 


"Nona, anda tidak di perbolehkan masuk ke dalam tanpa membuat janji terlebih dahulu." Tegas resepsionis yang mengejar-ngejar wanita seksi, dia tidak ingin kehilangan pekerjaannya. 


"Hanya karyawan rendahan saja berani melarangku!" sarkas wanita seksi yang menatap sang resepsionis sinis. 


"Itu sudah peraturannya." 


"Karena kau belum tahu siapa aku, cepat panggilkan bos mu!" ucapnya memerintah. 


Dua penjaga datang dan memegang tangan wanita seksi, hendak menariknya. "Jangan membuat keributan di sini." 


"Dasar penjaga sialan! Kalian akan menyesal setelah tau dengan siapa kalian berurusan." 


Arya yang berusaha keluar dari ruang rapat mendengar sebuah keributan, mengundangnya untuk mencari tahu penyebab. "Ada apa ini?" perkataannya berhasil membuat semua orang terdiam dan menunduk hormat. 

__ADS_1


Wanita seksi yang tadinya sangat kesal sekarang tersenyum mengembang, berlari dan menghamburkan pelukannya. Sementara resepsionis dan dua penjaga menunduk takut akan kehilangan pekerjaan. 


"Arya, syukurlah kau datang. Mereka sangat menyulitkan aku," keluh wanita itu dengan manja. 


"Maaf Tuan, kami tidak tahu apapun." 


"Kembalilah bekerja!" tegas Arya tanpa ekspresi. 


"Baik Tuan." Jawab ketiganya serempak. 


Arya menghela nafas. "Lepaskan pelukanmu!" titahnya dingin tanpa ekspresi, dia sangat tidak menyukai kehadiran dari wanita itu yang selalu menyulitkannya. 


"Kau masih sama seperti dulu, selalu saja dingin." 


"Kenapa kau kemari?" 


Wanita itu tersenyum seraya bergelayutan manja dan berhasil membuat semua orang yang melihat salah paham. "Aku sangat merindukanmu, kau sangat susah di hubungi jadi aku memutuskan untuk datang ke kantormu." 


Arya tidak peduli dengan wanita itu dan lebih memutuskan untuk masuk ke dalam ruangannya, perut yang terasa kosong berharap seseorang mengantarkan makan siangnya. "Kemana Naura? Dia belum mengantarkan makan siang." Keluhnya di dalam hati sambil melirik jam yang bertengger di lengannya. 


Naura sangat jengkel mendapatkan teror pesan singkat dari suaminya, padahal dia sudah berupaya datang secepat mungkin dan sialnya malah terjebak macet. 


"Berapa lama lagi?" tanyanya yang sudah bosan, dengan sengaja dia mematikan ponselnya. 


"Lima sampai sepuluh menit lagi kita akan sampai ke kantor tuan Arya, Nyonya." 


Semenjak hari itu hubungan mereka semakin dekat, perlahan Naura mulai menerima Arya sebagai suaminya sampai masa kontrak selesai. Tapi dia tidak akan melupakan mencari keadilan bagi Bella dan akan berhenti setelah Amar berada di balik sel penjara. 


Sesampainya di kantor, Naura langsung masuk ke dalam menuju ruangan suaminya. Tidak ada yang menghalangi jalannya karena tahu posisinya sebagai istri dari bos mereka, malahan mereka menyambut kedatangannya dengan ramah tamah. 


"Apa Arya ada di ruangannya?" tanya Naura tanpa berbasa-basi. 


"Tuan ada di ruangannya." 


"Terima kasih." 


Naura tersenyum pada wanita itu dan berjalan sambil membawa bekal makan siang, dia tak ingin menyiksa dirinya seperti berjalan cepat atau berlari. "Biarkan saja dia marah, memangnya aku ini pelayannya. Masih untung aku memasak makan siang untuknya," gumamnya seraya menarik nafas dalam dan membuka pintu. 


Kedua pupil matanya membesar saat melihat suaminya dan seorang wanita seksi di ruangan yang sama, hatinya terasa sakit menyaksikan bagaimana kedekatan mereka yang terpampang jelas. Sontak hal itu mengejutkan bagi Arya yang langsung berkontak mata, mendorong tubuh wanita seksi itu untuk menjauh darinya dan menghampiri sang istri. 


"Akhirnya kau datang." Ucap Arya tersenyum membuat wanita seksi menautkan alis saat pertama kali melihat senyuman dari pria itu. 


"Mengapa? Kau tidak ingin aku datang terlambat?" tanya menatap tajam Arya dan melirik wanita seksi yang datang menghampiri. 

__ADS_1


"Apa dia pengantar makanan?" tanya wanita seksi yang melingkarkan tangan di lengan Arya. 


Segera Arya menepisnya kasar tak mau Naura salah paham padanya, bingung mau menjelaskannya. "Bukan begitu, aku__." 


"Kenapa kau sangat gugup?" tanya wanita itu tersenyum miring dengan reaksi berlebihan dari Arya. 


"Ini makan siangmu." Naura memberikan bekal makan siang ke tangan Arya tanpa ekspresi, pergi dari tempat itu secepat mungkin. 


"Naura, tunggu!" Arya hendak menyusul tapi di tahan oleh wanita seksi. 


Naura sangat jengkel dengan apa yang baru saja di lihatnya, Arya bersama wanita lain yang bahkan sangat cantik dan juga seksi. Hatinya terasa sakit, tapi belum juga mengetahui artinya. "Kenapa aku sangat marah dan tidak menyukai pemandangan itu? Apa yang terjadi padaku?" monolognya yang berhenti di sebuah kursi sambil menghentakkan kaki. 


"Arya sialan, dia sebelas duabelas dengan Amar. Dasar kadal cap kapak." Umpat Naura kesal, mencoba melihat ke belakang berharap ada yang menyusulnya dan semakin membuatnya sedih. Dia tahu jika kebersamaan dan juga statusnya hanyalah sebuah kontrak saja, apa yang dia harapkan dengan hubungan itu. 


Sementara di sisi lain Arya membentak wanita seksi yang ikut campur dalam urusannya. "Kau datang hanya menciptakan masalah." 


"Kenapa kau marah begitu, aku hanya rindu padamu." Jawab wanita itu dengan santai. 


"Hentikan ini!" ucap Arya tegas. "Sebaiknya kau kembali dan jangan mengangguku lagi." 


"Berani sekali kau mengatakan itu padaku." 


"Ya, aku berani mengatakan itu. Lalu kau mau apa?" Arya segera berlari menyusul Naura, tidak ingin kalau istrinya salah paham yang berakibat mereka menjauh, sangat sulit untuk sampai ke tingkat ini. 


"Siapa wanita itu dan wajahnya tidak asing? Mengapa Arya begitu peduli padanya?" pikir wanita itu seraya mengangkat telepon yang sedari tadi berdering. 


Arya berharap kalau Naura tidak salah paham padanya, dia akan menceritakan siapa wanita itu setelah mereka bertemu. Rasa cemas yang hampir meledak hampir saja menguasainya, kelegaan di hati saat melihat sang istri ada di kursi tak jauh darinya berada. 


Dengan sengaja dia ingin melihat reaksi wanita itu dan juga mengetahui seberapa cemburunya Naura. "Sepertinya dia cemburu, terbukti dengan sikapnya yang tiba-tiba pergi." Gumamnya pelan, menjadi pria besar kepala. 


"Kau cemburu itu bagus." Arya duduk di sebelah Naura dan memperhatikan wanita itu menyembunyikan wajahnya. 


"Aku tidak cemburu." Elak Naura yang gengsi mengatakan perasaanya. 


Arya menyeringai tipis melihat cara bicara dan juga sikap saling bertolak belakang dari Naura yang menganggukkan kepala. "Kau mengatakan tidak cemburu tapi menganggukkan kepala." 


Naura segera mengumpati kecerobohanya dan merasa malu. "Tadi aku ingin menggeleng." 


"Biar aku tebak, kau tidak menggeleng karena lehermu sakit. Begitukan alasanmu." 


"Ya begitulah." Jawab Naura gugup semakin membuat Arya tertawa menyukai ekspresi yang sangat menggemaskan di matanya. 


Arya meletakkan kepala wanita itu untuk bersandar di bahunya, mengusap rambut panjang yang tergerai indah. "Ayo kita makan bersama!" 

__ADS_1


"Tidak, kau saja. Aku akan pergi ke butik," tolak Naura. 


"Dia sudah pergi." Seakan Arya mengerti mengapa istri kontraknya itu menolak untuk masuk ke dalam ruangan, beruntung dia sudah menyuruh orang lain untuk mengusir si wanita seksi dari ruangannya. 


__ADS_2