Ayo Menikah

Ayo Menikah
Bab 73


__ADS_3

Anton menenangkan Clarissa yang masih trauma atas kejadian yang baru saja menimpa, hal itu membuatnya sangat marah atas perbuatan Amar yang sudah terlewat batas. 


"Kau aman." 


Clarissa menangis dan langsung di peluk oleh ayahnya, entah apa yang akan terjadi padanya jika terlambat semenit saja. "Ayah, aku…aku." Suara tercekat tak sanggup keluar, hanya air mata yang menemaninya. 


"Jangan menangis lagi, Ayah pastikan untuk membalaskan ketakutannya." 


Clarissa menangis tersedu-sedu, mengingat dirinya yang hanya memiliki seorang ayah. "Pergilah Ayah, biarkan aku sendirian." Usirnya saat pikiran terngiang mengenai ucapan kejujuran dan kebenaran dari Anton mengenai wanita lain sekaligus buah hasil keegoisan dari ayahnya itu. 


"Tapi Nak." 


"Tolonglah," lirih Clarissa membuat Anton menganggukkan kepala dan pergi. 


Clarissa menangis sejadi-jadinya melampiaskan dan mengeluarkan semua kesedihan yang menjadi beban di hatinya, menarik rambutnya erat seraya bersandar. "Kenapa ini terjadi padaku, mengapa aku di lahirkan jika terus mendapatkan masalah silih berganti." Pekiknya sambil menjangkau vas bunga dan melemparinya tepat mengenai cermin besar, suara yang terdengar sangat keras dan dapat di dengar oleh Anton yang juga tahu penyebab kesedihan dari putrinya. 


"Maafkan aku, semua sudah terjadi." Gumam Anton yang pergi meninggalkan tempat itu, dia menyeka air mata dengan cepat dan bergegas pergi. "Aku harus menyelesaikan ini." 


Di markas utama kepemimpinan Mafia, Anton berjalan masuk ke dalam dan di sambut oleh orang-orangnya. Seorang pria kepercayaannya datang menghampiri dan memberikan penghormatan, dia hanya membalas dengan sedikit menganggukkan kepala. Fokusnya kini tercurahkan dan tersenyum devil melihat sekaligus mendengar erangan, dia menyukainya dan menambah siksaan dua kali lipat. "Hanya cambuk biasa saja?" ucapnya menghentikan aktivitas bawahan yang menyiksa Amar. 


"Hukuman apa yang ingin Tuan berikan pada si brengsek itu?" 


"Dia menggigit tubuh Clarissa, bahkan aku sendiri tidak pernah membiarkan putriku tergores saja, menyiksanya dengan cambuk biasa itu tak sebanding." Anton berjalan mendekat setelah menjangkau cambuk yang dilapisi duri besi, mendesain khusus untuk mengoyak tubuh mangsanya hanya sekali cambukan. 


"Arrghh…sakit." Rintih Amar yang merasa ingin cepat mati daripada menanggung siksaan dari Anton yang semakin mencambuknya, banyak darah segar yang mengalir dan erangannya tak di gubris selain menggila untuk menyiksanya. 


"Ini cambukan karena kau menjadi penyebab kematian Bella." Anton kembali melayangkan cambukan berdurinya, sekali hentakan meninggalkan bekas dan teramat menyiksa. Dia tak peduli bagaimana Amar memohon untuk di bunuh, penyiksaan itu benar-benar membuat mangsanya tak berkutik. 


"Sakit, bunuh saja aku!" pekik Amar yang sudah tidak tahan akan penyiksaan. 


"Tidak semudah itu." Anton kembali mengayunkan cambukannya hingga kulit terkelupas semakin parah. "Yang itu karena kau mempermainkan Naura." 


"Aku sudah tidak sanggup lagi, habisi aku sekarang juga." Amar berteriak memohon. 


"Kau tidak sabar sekali ingin bertemu malaikat maut, tidak semudah itu kau mati." Anton kembali melayangkan cambukannya hingga Amar berada dalam setengah kesadaran. "Terakhir itu karena kau melecehkan Clarissa dan menyakitinya." 


"Ampun…ampun, aku tidak akan melakukannya dan kau bisa membunuhku sekarang." 


Anton menarik sudut bibirnya. "Baiklah, jika itu keinginanmu." Ucapnya tegas seraya mengeluarkan pistol dan langsung mengenai jantung mangsanya hingga tewas dalam keadaan mengenaskan. "Balas dendam ku terbalaskan." 

__ADS_1


"Apa perlu mayatnya kita jadikan pakan buaya?" celetuk sang asisten yang mengerti seberapa kemarahan dari atasannya. 


"Itu tidak perlu, kau kirimkan mayatnya di kediaman Atmajaya. Aku ingin tahu bagaimana reaksi dari Beno Atmajaya," ungkap Anton. 


"Tapi Tuan, itu hanya akan memperburuk keadaan." 


"Aku tahu, kau lakukan saja tugasmu." 


"Baik Tuan."


*


*


Naura memasak untuk suaminya dan membawakan bekal, dia tersenyum saat melihat makanan yang telah di masaknya tersusun rapi di dalam kotak makan siang. "Wah, sempurna." Ucapnya bersemangat. Dia bersemangat keluar dari Mansion menuju kantor, senyum manis selalu menghiasi wajahnya. 


"Kau mau kemana Cu?" tanya Beno penasaran. 


"Mengantarkan makanan untuk Arya," jawab Naura menoleh. 


"Baiklah, hati-hati." 


Beno sangat terkejut dan hampir pingsan, beruntung Naura disana dan langsung menangkap tubuh tua rentah agar tetap seimbang. 


"A-Amar…itu Amar." Lirih Beno dengan suara yang tercekat, tubuhnya gemetaran menyaksikan jasad dari cucunya. 


"Bagaimana dengan hadiahku?" 


Terdengar suara bariton mengalihkan perhatian mereka, Naura sangat terkejut melihat kehadiran Anton dan sudah di pastikan jika pria itulah yang menjadi dalangnya. 


"Maaf, aku tidak melakukan apapun tapi si brengsek itulah yang memintaku untuk menghabisi nyawanya sendiri." Sambung Anton tak merasa bersalah. 


"Kenapa kau membunuh cucuku?" 


"Itu karena kesalahannya, dia merusak dan menyakiti ketiga putriku. Bahkan kematian saja belum cukup untuk membalas perbuatannya selama ini, dan jika anda ingin menghukumku maka silahkan saja." 


Beno menatap tubuh tak bernyawa dan menangis melihat nasib tragis kematian cucunya, tapi tak bisa di elakkan mengenai fakta yang ada. "Maafkan aku yang selalu memanjakanmu, ini semua kesalahanku." Ucapnya merasa bersalah. 


Naura memberikan kekuatan dan menenangkan pria tua di sebelahnya, diam-diam dia menghubungi Arya karena dia yakin jika kedatangan Anton mempunyai niat yang buruk. 

__ADS_1


"Aku sudah menuntaskan akar permasalahan nya." 


"Lalu, bagaimana dengan dirimu?" sarkas Naura. 


"Apa kau masih marah pada Ayahmu?" 


"Aku tidak marah padamu, tapi pada takdirku yang sangat buruk."


Anton merasa sedih karena tindakannya tetap salah dimata Naura, padahal niatnya sangat baik walau caranya yang terbilang sadis dalam menghukum biang masalah. 


Arya yang mendapatkan pesan langsung pulang dan melepas pekerjaannya, dia sangat khawatir mengenai istri dan juga kakeknya. "Aku harus cepat." Gumamnya sambil mengemudikan mobil kecepatan tinggi. 


Betapa terkejutnya saat dia sudah sampai di Mansion, pemandangan yang sangat mengerikan.


Arya berlari menghampiri Naura dan langsung memeluknya, menyembunyikan sang istri di belakang punggung. "Apa maksud dari semua ini?" 


"Aku menghukumnya karena berani menyentuh putri-putri ku." 


"Apa itu semacam plot twist?" Ary menatap mata Anton tanpa rasa takut sedikitpun, jika pria paruh baya itu mengambil nyawanya dia sudah siap hanya demi menolong Naura. 


"Tidak, aku datang untuk menawarkan perdamaian tapi di pandang sebelah mata." Ucap Anton melirik Naura sekilas. 


Arya mengerutkan kening karena tak mengerti, entah kebaikan apa yang membuat pria paruh baya itu mengubah sikap dan situasinya. 


"Kau terkejut?"


"Sangat terkejut." 


"Kau pasti terkejut dan ini baru awalnya." 


"Jangan berbelit-belit Tuan Anton." 


"Kau saja yang bodoh menyimpulkan." Anton tersenyum dan berlalu pergi, membuat semua orang menatapnya bingung. 


"Apa maksudnya itu?" gumam Arya menatap kepergian Anton menghilang di balik pintu utama. 


"Dia tidak akan mengganggu hubunganmu, hanya memberikan hukuman pada Amar." Jelas Beno yang bersedih, akibat didikan nya yang memanjakan seorang cucu mendapatkan pelajaran baru di masa tuanya. "Aku merelakan kematiannya, sekarang urus pemakamannya!" 


"Baik Kek." 

__ADS_1


__ADS_2