
Seorang pria membuka kulkas, menghela nafas saat makanan sudah menipis, keuangan yang ikut merosot karena tak memiliki pendapatan yang memadai. Dia terlihat sangat gusar, mengusap wajah sekaligus memegang perutnya yang sangat lapar.
Suara yang begitu nyaring terdengar, seorang pria yang di kenal akan kejayaannya sekarang memegang perut kelaparan karena sisa makanan tinggal sedikit. Semua kartunya telah di blokir semakin menambah kesialan pria itu, dia mendengus kesal tapi apa boleh buat selain mengumpat satu nama seseorang yaitu Arya.
"Awas kau Arya, kau bertanggung jawab dengan kondisiku yang kelaparan ini."
"Uhuk!" seseorang yang baru saja makan tak sengaja tersedak makanan, beruntung ada sang kakek yang membantunya.
"Ada apa denganmu?" tanya Beno mengerutkan kening.
"Entahlah Kek, aku tiba-tiba tersedak."
"Itu artinya ada orang yang mengumpatku," jawab Beno yang menjawab rasa penasaran Arya.
"Siapa yang mengumpatku?" pikir Arya yang segera menepis perkataannya dna melanjutkan menghabiskan makanan yang tersisa di piringnya.
Keduanya makan dengan begitu khidmat, sengaja memilih tempat yang cukup dekat di kantor. Arya memperhatikan raut wajah pesu dari sang kakek, rasa penasaran membuatnya ingin bertanya. "Ada apa Kek?"
"Aku kepikiran Amar, apa aku terlalu kejam padanya?"
Arya menarik nafas dan mengeluarkannya kasar. "Dia sudah dewasa dan pastinya baik-baik saja, jadi Kakek tidak perlu mencemaskannya."
"Ya, kau benar." Beno berusaha untuk menepis pikiran buruknya, tapi Amar tetaplah cucunya.
"Kenapa Kakek repot-repot menemuiku, ada apa?" tanya Arya yang menyudahi untuk makan.
Beno menatap cucunya intens di bawah tatapannya. "Apa yang kau sembunyikan dariku?"
"Aku tidak mengerti," Arya mengalihkan pandangannya ke samping berpura-pura tidak mengetahui apapun.
"Aku tahu kau menyembunyikan sesuatu. Aku curiga dengan hubunganmu dan Naura," selidik Beno.
Sontak Arya tertawa kaku menutupi kebohongannya, sedikit terkejut karena kakeknya mulai mencium aroma sandiwara yang dia mulai. "Kakek terlalu banyak memikirkan Amar, itu sebabnya selalu mencurigaiku." Dia tidak ingin mengatakan sebenarnya, penyakit jantung yang di derita Beno terpaksa membuatnya ikut berbohong.
Beno tetap menaruh curiga, tapi tak ingin mengatakan apapun lagi. "Aku sudah selesai." Ucapnya beranjak dari kursinya.
"Eh, Kakek pergi secepat itu?"
"Ada urusan lain yang ingin aku selesaikan."
__ADS_1
Setidaknya Arya bisa bernafas lega melihat kepergian dari kakeknya. "Aku harus waspada pada kakek, sepertinya dia mulai curiga dengan hubunganku. Ya Tuhan…andai saja Naura menyetujui penawaran ku."
Seorang pria yang mengenakan Hoodie berwarna biru langit tersenyum bila mendapatkan seceecah harapan untuk bertahan hidup, sudah lama dia menunggu kesempatan ini tapi ada saja yang menjadi penghalang untuk bertemu.
"Itu kakek." Amar tersenyum mengembang dan menemui pria tua yang duduk sendirian di Mansion, wlaupun aksesnya di putus untuk masuk ke dalam tapi tidak ada kata tidak mungkin di dalam kamusnya.
Amar memperhatikan penjagaan yang semakin ketat, sekali lagi dia mengumpati Arya karena sangat yakin pria itu yang mengetatkan keamanan Mansion sehingga cukup sulit untuk menebusnya.
"Dasar bodoh, apa anak haram itu berpikir aku tidak bisa masuk ke dalam?" Amar tersenyum miring, tidak ada apa-apa baginya. Dia menerobos penjagaan setelah menarik perhatian, menyelinap masuk ke dalam Mansion dan menemui sang kakek yang sedang bersantai.
"Kek." Lirih Amar dengan sendu.
Pria tua tersentak kaget mendengar suara seseorang yang selalu dia pikirkan setiap saat, segera menoleh dan menatap ke sumber suara. "Amar."
"Kek, aku sangat merindukanmu."
Beno melihat penampilan dari cucunya yang terlihat kurus, apa dia begitu tega melihat kondisi pemuda itu akibat hukuman darinya. "Kau sangat memprihatinkan, pergilah dari Mansionku."
Tanpa di duga pria tua itu malah mengusirnya, namun dia tak akan berputus asa dengan cepat. "Maafkan aku Kek, aku mohon berikan aku kesempatan terakhir untuk memperbaiki kesalahanku." Amar langsung bersimpuh di hati kakeknya dan memohon maaf, tapi salah satu sudut bibirnya tertarik ke atas. Dia tahu kalau kakek pasti memaafkannya, suka ataupun tidak dia masih tetap cucu kesayangan.
Beno berdiri tak berkutik dan penuh kesombongan, berusaha untuk menutup mata mengingat perlakuan dari Amar tak bisa di toleransi lagi. "Kau sudah tahu jawabannya, pergilah!" usirnya dengan lantang.
"Omong kosong, kau pasti datang karena tak memiliki uang." Beno merogoh saku dan melemparkan segepok uang berwarna merah. "Ambil itu untukmu bertahan hidup."
Amar sangat kesal dan tidak terima jika di hina serendah itu, meraih uang yang bernilai sepuluh juta sambil meremasnya geram. "Apa ini Kek?"
"Itu uang untukmu."
Amar tidak mengira jika dia mendapatkan uang hanya sepuluh juta, bahkan satu detik saja bisa habis olehnya. "Aku kesini bukan untuk meminta sumbangan, ambil ini." Ucapnya lantang sambil melemparkan uang itu, dia amat menyesal telah menemui Beno dengan bersusah payah.
Amar melangkah pergi tapi sebelum itu berhenti tanpa menoleh. "Demi anak haram itu Kakek tega menyingkirkan aku dan menyerahkan semua warisan padanya, jangan salahkan aku membencimu. Penghinaan ini akan aku ingat selamanya," kecam nya dan berlalu.
Beno mundur selangkah, sungguh perasaan dan hatinya sangat sesak. "Apa tindakanku ini salah?" lirihnya sedih.
Di dalam apartemennya, Amar melempar semua benda di jangkauannya melampiaskan rasa amarah kepada sang kakek yang dulu selalu membelanya.
"Aarghh…sial. Aku sangat menyesal datang kesana, sia-sia aku bersimpuh di kaki pria tua itu."
Amar tidak punya pilihan lain selain menjual apartemen tempat dia berteduh selama di usir, tidak ada pilihan lain apalagi namanya di masukkan ke dalam daftar hitam oleh sang kakek dan sampai sekarang dia hanya menganggur.
__ADS_1
"Aku tidak punya pilihan lain, namaku sudah buruk di perusahaan." Monolog Amar yang berpikir untuk memulai bisnis sendiri dengan modal menjual aset yang di miliki saat ini.
*
*
Arya tersenyum saat menatap foto yang ada di ponselnya, diam-diam dia mencuri agar bisa memotret wanita yang membuat jantungnya berdebar, sentuhan kulit terasa berdesis. Bibirnya melengkung ke atas pernah menyaksikan penampilan wanita itu tanpa busana, andai saja dia memiliki kesempatan mencicipinya juga , pasti terasa sangat nikmat luar biasa. Dia membingkai wajah menggunakan kedua tangannya. "Sangat cantik," satu kata yang keluar dari mulutnya, sangat kagum melihat kecantikan Naura.
Arya meninggalkan pekerjaannya dan menyerahkan pada bawahannya, menghampiri sang istri yang bekerja di butik. "Ayo Arya, kau pasti bisa membuat singa betina itu tunduk." Gumamnya bersemangat penuh percaya diri.
Di butik..
Dia meraih ponselnya dan menghubungi seseorang yang paling dia rindukan saat ini, sudah tidak bisa membendung rasa itu.
"Halo baby."
"Ada apa?"
"Jangan ketus begitu, aku hanya ingin menyapa istriku saja, apa itu salah?"
"Sudah pasti salah, kau merusak mood ku."
"Aku bisa mengatasinya."
"Dengan kau tidak berbicara denganku."
"Akan aku kabulkan," Arya langsung memutuskan sambungan telepon dan tersenyum penuh percaya diri.
Naura mengerutkan wajahnya dan merasa kalau Arya sudah gila, kembali bekerja untuk mengalihkan rasa jengkelnya. Namun, beberapa detik kemudian mendengar suara pintu di ketuk dan mau tidak mau dia membukakan pintu.
Kedua matanya terbelalak kaget lihat siapa yang mengetuk pintu ruangan kerjanya, seorang pria yang melambaikan tangan dan tersenyum padanya.
"Kau? Bagaimana bisa?" Naura hampir tidak percaya tapi memang suami kontraknya itu sudah gila.
Arya tersenyum menawan dan mengedipkan salah satu matanya, sialnya membuat Naura hampir terbuai dengan pesona pria tampan itu. "Hey baby."
"Ka-kau?"
"Surprise." Arya langsung menyentak tubuh wanita di hadapannya, kedua pinggul menempel membuat desiran sesuatu kembali bergejolak.
__ADS_1