Ayo Menikah

Ayo Menikah
Bab 33


__ADS_3

Di cafe yang tidak terlalu ramai, dua orang sedang menunggu pesanan sambil mengobrol santai juga ringan. Bian tersenyum sangat manis menunjukkan jika dirinya memiliki kualitas, Naura mengangkat sebelah alisnya menatap pria itu. 


"Kau kenapa?" tanya Naura heran. 


"Bukan kenapa-kenapa, kau terlihat cantik hari ini." 


"Hem, terima kasih pujian nya dan kau juga sangat tampan." Balas Naura tersenyum. 


Bian semakin berani menyentuh tangan wanita di hadapannya. "Terakhir kali aku menelepon mu dan mendapati seorang pria yang mengaku sebagai suamimu, jadi kau sudah menikah?" terlihat guratan kesedihan di hatinya walau sudah mengetahui bagaimana wanita di hadapannya di nikahi oleh sosok pria pengganti. 


"Kau tidak perlu menghiraukannya."


"Memang itu sedikit sulit untuk mudah di cerna, tapi itulah yang terjadi." Ucap Naura yakin. "Tapi pria gila itu tidak akan mempengaruhiku," gumamnya pelan terdengar semu oleh pria di hadapannya. 


"Kau mengatakan sesuatu?" 


"Tidak, mungkin kau salah dengar."


"Oh, mungkin saja." 


Tak perlu menunggu lama hidangan yang dipesan sudah tersaji di atas meja makan, semuanya tampak menggugah selera. Naura tersenyum karena Bian masih mengingat makanan favoritnya. "Kau tidak melupakannya?" 


"Mana mungkin aku melupakan makanan favoritmu," jawab Bian dengan nada bangga pada dirinya sendiri. 


Naura begitu tergiur mencoba semua makanan favoritnya dan menyantapnya dengan sangat lahap, sementara di meja lainnya seorang pria mengepalkan tangan dengan sempurna.

__ADS_1


"Wah, dia makan sangat lahap sekali seperti tiga hari tidak makan." 


Arya mendelik kesal salah seorang pramusaji tak sengaja menjatuhkan sup hangat hingga mengenai celananya, sontak saja menjadi pusat perhatian semua orang. Dia dengan cepat menutupi wajah menggunakan masker hitam, kacamata, dan topi dengan warna senada. 


"Maaf Tuan, saya tidak sengaja dan mengganti makanan yang tumpah." Pramusaji itu menunduk takut karena dirinya telah membuat kesalahan. 


"Ya, sebaiknya kau pergi!" usir Arya yang tak ingin menjadi pusat perhatian, apalagi pandangan Naura dan Bian mengarah padanya. Tak ounya pilihan lain, dia terpaksa meninggalkan meja dan kursinya untuk melarikan diri supaya tidak ketahuan mengikuti dua sejoli yang tampak seperti sepasang kekasih. 


Naura memicingkan kedua mata melihat kepergian dari pria yang menjadi pusat perhatian, melihat postir tubuh dari belakang sepertinya dia mengenalnya. "Aku mengenal postur punggung pria itu, tapi dimana?" gumamnya penasaran, tapi rasa lapar lebih dominan hingga dia menepisnya. 


"Kau lihat itu?" celetuk Bian yang menunjuk pria pusat perhatian yang sudah menghilang. 


"Ya, aku melihat punggungnya saja. Kenapa?" 


"Aku rasa sup yang tak sengaja di tumpahkan itu membuat iritasi pada anggota terpenting dari sistem reproduksinya." Bian tertawa melihat nasib malang orang lain. 


Mereka tidak tahu jika yang menjadi bahannya adalah Arya, pria itu sekarang berada di toilet sembari membersihkan celananya yang tertumpah kuah sup yang panas. Ngilu? Sudah pasti terasa dan dia terus mengumpati pramusaji yang berjalan tidak hati-hati. 


"Sial, bagaimana jika alat reproduksiku mengalami iritasi?" Arya bergidik ngeri sendiri dan secepat mungkin menambah laju kipasan pada bagian itu, berpikir sebaiknya memeriksa ke dokter takut akan infeksi. 


Di malam hari, Arya sangat bersemangat masuk ke dalam kamar dan kembali memeluk tubuh sang istri yang sangat mirip dengan wanita dari masa lalu. Baru saja dia melangkah masuk ke dalam, sebuah bantal melayang mengenai wajah tampannya. 


"Siapa yang melakukannya, lancang sekali!" gerutu Arya yang membuang bantal itu sembarang arah. 


"Aku yang melemparnya, apa ada masalah?" Naura menolak pinggang memberi tatapan tajam pada Arya. 

__ADS_1


"Kenapa kau melakukan itu?" tanya Arya yang melembut. 


"Aku tidak ingin tidur denganmu." 


"Jangan lupakan kalau pekerja Mansion melihatmu, kau tahukan apa yang akan terjadi selanjutnya." 


"Stop, berhenti untuk mengancamku Tuan Arya Atmajaya. Aku tidak takut dengan ancamanmu, memangnya siapa peduli. Biarkan saja kakek tahu mengenai hubungan kita." 


Arya terdiam karena tidak mempunyai senjata apapun untuk mengekang dan menekan wanita itu, ada rasa sesuatu yang bergejolak. "Jangan lupakan perjanjian pranikah yang sudah kau tandatangani." 


"Ck, persetan dengan semua itu, aku tidak akan peduli! Perjanjian yang kau tuliskan hanya keuntungan bagimu untuk bisa menindasku, jika kau mencoba untuk menekanku dengan surat itu? Sebaiknya kau waspada." Naura menunjuk kedua matanya dengan dua jari dan mengarahkannya pada Arya, tatapan sarkas penuh ketajaman seperti silet. Dia mendorong tubuh pria itu keluar dari kamar dan menguncinya, tersenyum puas meraih kemenangan sesaat. 


Arya menganga tak percaya, dirinya kalah melawan seorang wanita dan itu istrinya sendiri. Sulit di percaya, pria licik sepertinya dengan mudah di pukul telak hanya karena sebuah kecaman penuh ancaman. 


"Apa ini? Dia mengusirku dari kamarku sendiri?" mau tak mau Arya mengambil bantal yang sebelumnya telah dia lempar dan berjalan menuju kamar tamu yang kosong. 


Hal itu di lihat oleh Beno, dia merasa heran mengapa cucunya tidur di luar. Seketika dia tertawa dan merasa itu kejadian yang sangat memalukan juga sial bagi seorang pria, dia juga pernah mengalaminya beberapa kali di masa muda bersama sang istri tercinta. "Tidak aku sangka ternyata cucu menantuku sangatlah kuat," ucapnya seraya berjalan meninggalkan tempat itu. 


Naura tersenyum dan tertawa sambil membalas pesan singkat dari Lita, tentu saja itu berisi gosip mengenai kesialan Arya. Tak bisa di pungkiri, mereka terus berkirim pesan sepanjang malam membuat seseorang yang memantau lewat rekaman CCTV tersulut emosi. 


"Ck, pasti dia sedang berkirim pesan dengan pria fotografer itu. Heh, apa hebatnya pria itu." Arya mencibir pria yang berkencan dengan Naura, tidak tahu jika dirinya hanya salah paham. Segera dia meninggalkan ruangan khusus pantauan CCTV, dan memutuskan untuk tidur sambil berjalan mengangkang karena gesekan itu membuat alat vitalnya sedikit perih. 


"Sebaiknya aku mengambil cuti." Putus Arya, dia memikirkan mengenai reputasi yang cemerlang dan tidak akan menghancurkannya hanya karena berjalan dengan kedua kaki mengangkang. 


Tak lupa kipas di nyalakan dan kedua kaki yang terbuka lebar, membiarkan semliwir angin menerpa. "Sangat sejuk dan nyaman." Komentarnya dan berharap rasa perih di bagian penting segera pulih. 

__ADS_1


Naura mengangkat foto itu tinggi dan memperhatikannya, posisi telentang di atas ranjang dengan kedua kaki yang di tekuk. "Walaupun aku tidak mengenalmu, tapi aku pasti mendapatkan keadilan untukmu." Dia bertekad untuk mendapatkan hak saudari kembarnya, yang bersalah adalah Amar dan juga Beno yang melindungi pria bersalah dari jeratan hukuman. 


"Tapi sebelum itu terjadi, aku harus bertemu dengan pria brengsek bersama wanita pelakor." Naura meremas sprei menahan amarah, memang hubungannya dengan ibu kandung tak baik tapi dia masih memiliki sedikit hati nurani dan memperjuangkan hak ibunya yang selama ini di rampas.


__ADS_2