Ayo Menikah

Ayo Menikah
Bab 63


__ADS_3

Ririn terus bersikeras membuat pria di hadapannya jengkel dan langsung menyerahkan beberapa berkas penting yang bisa membuktikan segalanya, pria itu melepaskan ikatan di tangannya dan memintanya untuk membaca dengan teliti dan cermat jangan sampai ada yang terlewatkan.


"Bagaimana, apa kau masih ingin mengelak dari kebenarannya? Setelah aku melacak mu beberapa tahun dan mengumpulkan semua informasi, mulai dari hal yang terkecil hingga besar." Jelas Anton menarik nafas dalam dan mengeluarkannya secara perlahan, dia merasa gagal menjadi seorang ayah dan sedih mengenai kabar kematian salah satu anak kembarnya. 


"Dia anakku, jangan kau dekati dia." Kecam Ririn melindungi Naura, dia sangat takut kalau pria itu nekat dan membawa anak semata wayangnya. 


"Kenapa kau pergi setelah malam itu, hah?" bentak Anton seraya menghantam sebuah kursi yang berada dalam jangkauannya, menatap wanita yang di cintainya menutupi hal sebesar itu.


"Obsesimu yang memisahkan langkahku." Derai air mata terurai, Ririn tak sanggup jika kenyataan pahit kembali hadir di dalam hidupnya. Selama bersama Rian, dia tak mendapatkan kebahagiaan tapi pria yang ada di hadapannya dengan berani memanfaatkan kelemahan dan memperk*sanya semakin membuatnya benci pada diri sendiri. Begitu banyak beban hidup yang di pikul seorang diri, istri Anton yang selalu meneror dan bahkan mengancam untuk membunuh nya, di tambah lagi perselingkuhan Rian dan Diana membuatnya depresi. 


"Kau egois Ririn…kau egois, memisahkan aku dengan anak kembarku dan membiarkan si mandul itu merebut salah satu putriku." Anton juga meneteskan air mata, permainan yang dia mulai sangatlah menyakitkan. 


"Apa dayaku? Bukankah kau yang memulainya tanpa berpikir nasibku ke depannya. Aku sudah memperingatkanmu untuk menjauh, tapi kau malah memperk*saku dan menciptakan masalah dengan istrimu. Kau pria brengsek melebihi Rian dan aku membencimu, lepaskan aku!" ucap Ririn tegas. 


"Terserah mau kau membenciku atau tidak, tapi aku tetap mencintaimu sampai kapanpun. Akan aku perbaiki segalanya, kehidupanmu dan juga anak kita." Anton segera menyeka air matanya dan beranjak pergi meninggalkan Ririn di dalam kamar, tidak menggubris teriakan wanita itu. 


Berjalan dengan penuh karisma sesuai dengan profesinya sebagai pemimpin mafia, beberapa orang berbaju hitam berjalan di belakang semakin memancarkan auranya. Tiba-tiba seorang pria muda mendekatinya dan memberikan salam hormat membuatnya menghentikan langkah. 


"Ada hal penting apa?" tanya Anton tanpa berbasa-basi.


"Mengenai nona muda Clarissa, Tuan."


"Ck, apa yang di lakukan anak itu?" hampir setiap hari Anton menerima laporan dari bawahannya mengenai anak istrinya, selalu menutup telinga dan mengabulkan keinginan Clarissa malah membuat wanita itu melakukan apapun yang dia inginkan.


"Nona Clarissa sengaja menyuruh orang lain untuk melukai orang lain."


"Ya, kau tanggung perawatan korbannya sampai sembuh, semua selesai." Anton seakan tak peduli. 

__ADS_1


"Tunggu Tuan!" cegah pemuda itu. 


"Ada apa lagi?" tanya Anton yang muak setiap hari mendengar keluhan dari Clarissa. 


"Korbannya adalah Naura, istri dari Arya Atmajaya."


Deg


Dunia seakan berhenti dalam waktu cukup lama, kadua tungkainya terasa lemas saat mendengar kebenaran. "Coba kau ulangi lagi!"


"Korbannya adalah Naura, istri Arya Atmajaya. Anak kandung anda bersama Ririn." Jelas sang bawahan. 


Anton bergegas pergi, dia sudah tahu apapun mengenai wanitanya dan juga anak kembarnya. Rahangnya mengeras mengetahui siapa korban dari anak tertuanya, ekspresi dingin selalu terpancar membuat orang-orang di sekelilingnya bergidik ngeri.


Clarissa tertawa puas dan merayakan keberhasilannya dengan meminum alkohol dalam jumlah banyak, foto Naura yang terpajang di sebelah foto Bella yang lebih dulu di silang dengan tinta merah. Dia sengaja membidik foto dan merusaknya, namun tawanya berhenti saat pintu di buka secara paksa. 


Sontak sang empunya mengalihkan perhatian dan tersenyum mendapati ayahnya berada di apartemen miliknya. "Ayah, kau di sini." Ucapnya sambil tertawa memegang sebotol minuman alkohol. 


Plak


Tamparan yang terdengar sangat nyaring menggema memenuhi ruangan itu, cukup membuat wanita mabuk itu hampir terjerembab. Tatapan yang begitu tajam terarah dengan sempurna, tidak peduli seberapa perih bekas tangannya di pipi sang anak. 


Clarissa menatap ayahnya seakan tak percaya, memegang pipi yang meninggalkan bekas masih terasa panas. "Mengapa Ayah menamparku secara tiba-tiba? Apa kesalahanku?" 


Anton masih tak menjawab, sedikit tersentak kaget melihat foto kedua anak kembarnya ada di dinding. Dia berjalan kesana dan mencopot foto, hatinya terasa di iris dengan pisau yang sangat tajam. Dia datang menyentak tubuh Clarissa dan memberikan tatapan menyelidik. "Apa semua ini?" pekiknya. 


"Itu daftar wanita yang ingin aku habisi. Siapapun yang mencoba untuk mengambil Arya-ku." Ungkap Clarissa yang tertawa, setengah kesadarannya sudah di kuasai alkohol.

__ADS_1


Plak


Sekali lagi Anton menampar keras pipi Clarissa yang di anggap kurang ajar, tak peduli jika wanita itu meringis kesakitan.


"Apa hakmu menamparku!" pekik Clarissa protes. 


"Itu tidak sebanding saat kau hampir membunuh anakku." 


Deg


Clarissa terdiam mencoba untuk mencerna perkataan ayahnya, apakah dia salah dengar? Mana mungkin pria paruh baya di hadapannya mempunyai anak selain dirinya. "Ayah bercanda, he? Akulah anakmu." 


"Ya, kau memang anakku. Tapi dua wanita yang di dalam foto ini juga anakku." 


"Apa?" Clarissa seperti di hantam oleh besi yang tajam, kebenaran yang sangat menyakitkam berharap itu semua adalah kebohongan. "Ibuku hanya melahirkanku saja." 


"Mereka anakku dari wanita lain, jika kau menyakiti mereka lagi? Maka kau berurusan pada ku." Ancam Anton melangkah pergi. 


Clarissa terdiam beberapa saat, dia berteriak dan melampiaskan kemarahannya pada semua benda dengan menghancurkannya. "Apa semua ini? Kenapa ayah mengakui Bella dan Naura sebagai anaknya?" 


Dia terus berteriak dan membuat suasana dan kondisi apartemen seperti kapal pecah. 


Anton meninju dinding tanpa menghiraukan sela jarinya mengeluarkan darah, keadaan yang begitu kacau dan dia mengetahuinya sangat terlambat. "Apa ini karma untukku?" ucapnya di dalam hati sembari menarik rambutnya kasar. "Ririn benar, karena keegoisanku keadaan memburuk." Lirihnya yang mulai menyalahkan diri. 


Dia memutuskan untuk menjenguk Naura yang masih di rawat di rumah sakit secara diam-diam, menyunggingkan senyuman khasnya seraya memegang dinding kaca. "Ayah berjanji akan memberikan Bella keadilan seperti yang kau inginkan," lirihnya pelan dan beranjak pergi tak sanggup melihatnya. 


"Begitu banyak yang terjadi dan aku baru mengetahuinya? Rian dan Diana, dua makhluk yang harus aku musnahkan. Amar, pria itu akan segera mati di tanganku. Sedangkan Arya, karena pria itu Clarissa hampir membunuh Naura." Anton mulai mengingat kesalahan yang harus di perbaiki, dia ingin kembali pada cintanya dan kedua anak perempuan yang masih hidup. Andai saja dia datang beberapa tahun sebelumnya, pasti Bella masih hidup tanpa melakukan hal yang konyol. 

__ADS_1


__ADS_2