Ayo Menikah

Ayo Menikah
Bab 51


__ADS_3

Naura berdiri di depan pintu sambil melambaikan tangannya, tersenyum kepada sang suami yang berangkat ke kantor. 


"Telepon aku jika kau ingin pulang," pekik Arya yang mrmbalas lambaian tangan di sertai senyuman manisnya. 


"Tentu." 


Setelah memastikan mobil yang pergi menjauh, Naura menutup pintu dan tersentak kaget melihat ibunya tepat berada di hadapannya. "Ibu mengejutkanku saja, Ibu tidak beristirahat?" tanya nya sembari meredakan rasa kaget. 


"Aku tidak apa-apa, setelah beristirahat sejenak tubuhku mulai membaik. Aku sangat senang, apa kau mencintai suamimu?" Ririn tersenyum melihat putrinya mendapatkan kebahagiaan yang tidak pernah dia berikan. 


Naura melingkarkan tangan di lengan wanita yang ada di hadapannya dan membawanya untuk duduk di sofa berbincang lebih lama lagi, sudah lama mereka tidak menghabiskan waktu bersama. 


"Bukankah dia pria yang baik?" celetuk Ririn yang belum juga menemukan jawabannya. 


"Ya, terkadang dia baik dan terkadang bisa menjadi sangat menyebalkan." 


"Apa kau mencintainya?" 


"Aku tidak mencintainya." Jawab Naura yang ragu, dia juga tidak tahu mengenai perasaannya yang sesungguhnya. 


Ririn menautkan kedua alisnya, bagaimana anaknya itu tidak mengetahui perasaan satu sama lain dan malah memutuskan untuk terikat, sangat aneh tapi benar nyata adanya. "Ada yang aneh disini." 


"Karena kami menikah berdasarkan kesepakatan," ungkap Naura membuat ibunya sangat terkejut. Menghela nafas berat karena rahasia itu hanya di ketahui oleh sahabatnya, Lita. 


"Apa? Aku pikir kau dan Arya menikah karena kalian saling mencintai." 


"Tidak. Ibu tahu benar dia hanya pria pengganti setelah kami menjalankan kesepakatan bersama, yaitu ingin membalaskan dendam pada Amar dan juga wanita bedebah itu." Ucap Naura yang melihat kesedihan di mata ibunya, dia menjadi bersalah tak pernah mengatakan pada apapun, tapi bukan kesalahan sepenuhnya akibatnya tapi memang situasi ibu dan anak yang renggang di saat itu. Bukan itu saja, yang lebih buruknya lagi dia mengakui sebatang kara pada semua orang, hanya Lita yang tahu seluk beluk dirinya. 


Ririn sangat sedih dan membelai rambut putrinya. "Ibu melihat di mata suamimu ada cinta, dia mencintaimu Sayang." 


"Tidak, Ibu salah mengiranya. Arya hanya mencintai Bella, wajahku yang snagat mirip dengan kakak kembarku membuatnya ingin membangkitkan jiwa Bella di dalam diriku. Sungguh ironis bukan? Tapi kami saling menguntungkan, simbiosis mutualisme." Terang Naura sambil menghela nafas. 


"Ibu tahu betul kalau Arya mencintaimu, bukan sebagai Bella tapi sebagai Naura." Tutur Ririn yang berusaha mengingatkan putrinya. 


"Walaupun begitu aku juga tidak peduli dan masih beranggapan kalau Arya hanya menginginkan Bella bukan aku." 

__ADS_1


Ririn ingin menyadarkan anaknya tapi keras kepala dan ketidakpekaan Naura malah membuat wanita itu mengalami kesulitan, tak ingin membahas masalah yang akan membuat mereka bersedih. 


"Berhentilah balas dendam, itu hanya bisa menimbulkan luka baru." 


"Aku tidak akan berhenti Ibu, setelah sejauh ini aku tidak akan mundur." Naura berdiri dari duduknya dan membelakangi sang ibu. "Aku tidak akan tenang sebelum mendapatkan keadilan untuk Bella, keluarga Atmajaya harus menerima resiko terutama Amar." 


"Banyak hati yang akan terluka jika kau memilih membalaskan dendam." Ucap Ririn yang berusaha mengingatkan. 


Naura berbalik badan menatap ibunya sendu. "Aku tidak membalaskan dendam, hanya meminta keadilan untuk Bella. Selama ini Amar hidup tenang dan kebal akan hukum, walaupun pria brengsek itu sudah di usir dan namanya telah di coret dari daftar warisan tetap saja aku belum tenang sebelum pria itu masuk ke jeruji besi." Jelasnya yang bersemangat. 


Ririn sangat takut jika Naura benar-benar melakukan hal yang sangat beresiko, dia tak ingin jika putri semata wayangnya terkena masalah. "Aku sudah kehilangan Bella, tapi aku tidak mau kehilanganmu. Sebaiknya kau tidak membuat masalah pada keluarga Atmajaya, kita pergi jauh saja dan memulai lembaran baru." Ucapnya sembari memegang kedua bahu anaknya, memandangnya sedikit takut akan resiko yang akan di terima. 


"Percayalah padaku Bu, setiap langkah pasti memiliki resikonya tersendiri. Aku hanya ingin mendapatkan keadilan untuk Bella, Amar pantas masuk ke jeruji besi." 


"Baiklah, katakan kepada Ibu apa yang akan kau lakukan setelah semuanya sesuai dengan keinginanmu?" 


"Aku dan Ibu akan pergi jauh dari sini, dan orang-orang munafik itu." Naura sudah tidak peduli lagi pada apapun dan karirnya, termasuk pada ayah kandungnya yang ingin memperjuangkan dirinya. 


Ririn menghela nafas berat saat anaknya yang sudah dewasa membuat keputusan, dia hanya bisa berdoa akan keselamatan anaknya itu dalam kondisi apapun. "Terserah kau saja. Tapi Ibu ingin kau terus berhati-hati, keluarga Atmajaya bukanlah keluarga sembarangan." 


"Tenanglah, aku bisa mengatasinya." Jawab Naura yang tersenyum penuh keyakinan, namun jauh di lubuk hatinya yang masih ragu mengenai langkah yang di ambil.


"Kau bisa memasak?" tanya Ririn memiringkan kepalanya tak percaya. 


"Ya, kesendirianku membuatku mandiri." 


"Maaf, Ibu tak berada di sampingmu saat itu pasti sangat sulit." 


"Aku mengerti." 


"Ibu akan membantumu." 


"Tidak usah Ibu, aku bisa sendiri." 


"Ibu hanya ingin menghabiskan waktu dengan memasak bersama sekaligus bergosip." Tutur Ririn, keduanya tertawa dan berjalan menuju dapur. 

__ADS_1


Naura mulai mencuci beberapa sayuran dan daging, sementara Ririn menyiapkan bumbunya. 


Naura mengirimkan pesan singkat pada Arya dan mengatakan kalau dia ingin menginap di rumah ibunya, tentu saja jadwal pria itu sedikit kacau. Tak lama ponsel berdering, melihat nama sang suami yang langsung menghubunginya. 


"Ada apa?" 


"Kenapa ini sangat mendadak?" 


"Tidak mendadak, aku ingin menghabiskan waktu bersama ibuku. Kau pulang saja ke Mansion." 


"Hey, mana mungkin aku pulang sendiri saja. Apa tanggapan kakek mengenai kita yang tinggal secara terpisah." 


"Lalu, kau mau apa?" 


"Aku akan tinggal di manapun kau berada." 


"Hah, kau seperti cicak saja. Tidak perlu, aku tidak ingin kau menjadi pengganggu." 


"Oh begitukah__." 


"Jangan lupa dagingnya kau potong-potong kecil!" sela seseorang yang tak tahu jika anaknya sedang menelepon. 


"Baik Bu." Jawab Naura sedikit menjauhkan ponsel di telinganya. "Sudahlah, aku sibuk." 


"Hey tunggu dulu, kau akan memasak dan melupakan aku, suamimu sendiri? Itu tidak adil." Keluh Arya yang mendengarnya, bermaksud untuk menciptakan kedekatannya bersama ibu mertua untuk mendapatkan hati Naura. 


"Jangan dramatis, kau hanya suami di atas kertas saja." 


"Tetap saja orang-orang mengira kau adalah istriku, aku akan kesana dan jangan lupa untuk memasak gurita. Entah mengapa aku sangat merindukan masakan dari olahan gurita, pasti sangat menyenangkan." 


"Ck, kau bahkan tidak aku undang tapi malah meminta keinginanmu." 


"Aku mencintaimu." Arya langsung menutup telepon secara sepihak tanpa peduli umpatan dari wanita di seberang sana. "Wah, ternyata menyenangkan juga." Gumamnya terkekeh. 


"Arya sialan, berani sekali dia memerintahku memasak gurita untuknya. Apa aku ini pembantunya?" umpat kesal Naura yang mengatur nafasnya demi emosi agar semakin reda. 

__ADS_1


"Kau kesal kenapa?" 


"Bukan apa-apa, Bu." Jawab Naura cengengesan.


__ADS_2