
Setelah menunggu cukup lama, Naura melebarkan senyumnya merasa sangat lega melihat kondisi ibunya yang baik-baik saja, mata sang ibu yang perlahan mulai membuka.
"Aku kenapa?" Ucap wanita paruh baya sembari memegang kepalanya yang terasa pusing, semula mengingat kembali kenapa dia tidak sadarkan diri. Namun sedikit terkejut saat menyadari kedatangan anak semata wayangnya, bersama dengan seorang pria tampan yang di yakini sebagai suami Naura.
"Naura sayang, kau di sini Nak?" Ririn meneteskn air matanya hampir tak percaya dengan apa yang di lihat, mengucek matanya beberapa kali berharap itu bukanlah mimpi. "Jadi kau nyata?" lirihnya lagi mengentuh wajah Naura dengan lembut penuh kasih satang, betapa bahagianya dia saat ini.
"Iya, aku datang untuk menemuimu." Naura berusaha bersikap tegas dan terus menahan air mata yang memaksa untuk bergulir keluar, tak tahan dengan rasa yang amat menyakitkan terpaksa menumpahkannya begitu deras.
"Sayang, kenapa kau menangis?" Ririn menyeka air mata putrinya, merasakan sakit yang sama. "Apa yang sebenarnya terjadi?" tanyanya yang masih belum memahami apapun, terus membelai pucuk rambut Naura dan mengarahkan tatapan sendu dan juga rindu. "Katakan Sayang…apa yang membuatmu begitu sedih?"
Ego yang menyiksa di hempasan dengan kasar, tidak peduli dengan harga diri yang dan keangkuhan yang selama ini bersarang di dalam hati juga pikirannya. Buktinya, sentuhan kasih sayang dari seorang ibu tak bisa di bantah. Dia menghamburkan memeluk tubuh wanita paruh baya yang tersiksa atas sikap buruknya mengasingkan diri, dan hal terburuknya mengatakan kepada orang-orang dia gadis sebatang kara tak punya orang tua dan sanak saudara.
Ingin sekali waktu terhenti cukup lama, Ririn terkejut dengan pelukan dari anaknya yang menangis di pundaknya untuk pertama kali setelah konflik ibu dan anak beberapa tahun silam. "Ada apa?"
"Aku…aku tak ingin kehilanganmu, tolong maafkan segala sikapku yang selama ini egois Bu." Ucap Naura yang memutuskan untuk berdamai.
Ririn mencubit tangannya sendiri memastikan apakah itu nyata atau hanya ilusi belaka. "Ini asli," lirih pelannya tersenyum bahagia, menangis penuh haru setelah mendapatkan anaknya kembali.
"Maafkan aku Bu, selama ini aku tidak mendengarkan alasan apapun dan akhirnya aku sadar." Naura menangis dengan tersedu-sedu, Arya segera menyeka air mata yang berganti senyuman bahagia, sangat senang melihat wanitanya yang bahagia.
"Aku memaafkanmu, Sayang. Kesalahan bukan sepenuhnya tertuju padamu, seharusnya aku juga memperhatikanmu."
"Tidak, akulah yang bersalah. Hukum saja aku seperti sewaktu kecil," tutur Naura.
Ririn tersenyum saat anaknya mengingat kenangan masa lalu mereka, dimana setiap kali Naura berbuat kesalahan dia akan menghukumnya. Tapi hukuman kali ini dia memberikan kecupan di kedua pipi sang anak, sudah lama dia menantikan hari ini sampai menganggapnya sebuah mimpi yang nyata adanya.
"Itu hukuman untukmu, kita sama-sama belajar menjadi kepribadian yang lebih baik lagi."
Dengan cepat Naura menganggukkan kepala, awalnya dia ragu untuk kembali menyambung sebuah ikatan yang ternyata tidaklah sulit, hanya menurunkan ego seperti yang di katakan Arya padanya. Dia melirik pria itu dan tersenyum, perlahan mereka saling mengenal satu sama lainnya.
"Dia memang si otak mesum, angkuh, licik, dan juga sombong. Siapa sangka jika sisi lainnya dia seorang pria yang berhati tulus dan juga sangat baik, dia memahami masalahku. Jika bukan karenanya, mungkin aku tidak akan pernah berani memulai semua ini." Ungkapnya di dalam hati.
Sementara yang di tatap menjadi salah tingkah dan terus berpose bak model terkenal, sesekali dia mengedipkan mata pada istrinya itu. "Eh, kenapa Naura menatapku begitu? Apa dia mulai terpesona dan jatuh cinta padaku? Aku pasti dia mulai jatuh cinta pada pria tampan sepertiku, sungguh…tidak ada yang menolak pesonaku ini." Monolognya di dalam hati dengan penuh percaya diri.
__ADS_1
"Kenapa dia berpose seperti itu? Dan matanya berkedip seperti orang yang cacingan. Sebagai tanda terima kasih aku akan membelikan nya obat cacing, kasihan dia." Pikir Naura.
"Wah, sepertinya perjuanganku tidak sia-sia." Batin Arya.
Ririn menyaksikan dua orang yang ada di dekatnya secara bergantian. "Kalian kenapa?"
"Bukan apa-apa." Jawab keduanya serempak.
Naura mengakhiri tatapan pada pria gila di seberangnya dan lebih mengutamakan kondisi sang ibu setelah dokter menyatakan permasalahan. "Aku akan menyuapi Ibu." Putusnya.
"Kau ingin menyuapi Ibu?" sontak saja kedua mata wanita paruh baya itu berbinar sangat cerah, bersemangat untuk mendapatkan suapan pertama.
"Tentu saja, mulai hari ini aku akan merawat Ibu dan memastikan segalanya dengan sangat baik."
"Kenapa kau tiba-tiba berubah pikiran?" tanya Ririn sangat penasaran.
Naura terdiam beberapa saat tak ingin mengatakan yang sebenarnya, hanya orang konyol saja menceritakan mimpi yang di anggap sebagai bunga tidur.
"Lakukan apapun yang kau inginkan." Ririn membuka mulutnya lebar menerima suapan dari anak semata wayangnya, cairan bening menumpuk di pelupuk mata segera di seka olehnya.
Setelah memastikan ibunya beristirahat, Naura mengajak Arya untuk keluar dari kamar agar tidak mengganggu ibunya yang terlelap tidur setelah menghabiskan sedikit waktu.
"Ini sudah jam berapa? Kembalilah ke kantor dan bekerja."
"Apa kau lupa siapa bosnya di sana," jawab Arya yang angkuh.
"Hah, kau mulai lagi." Keluh Naura mendengus kesal.
"Sepertinya aku tidak berangkat ke kantor, lebih asyik menemani istri dan juga mertua." Arya mendekatkan wajahnya hingga tidak ada jarak di antara mereka. Tatapan yang begitu mempesona dan bibir yang di suguhkan langsung di kecup, ingin sekali menciumnya.
"Jangan mengambil keuntungan dari peristiwa ini." Gerutu Naura tampak kesal dengan kecupan singkat di bibirnya.
"Hanya mengecupnya sedikit saja, jadi tak masalah."
__ADS_1
"Salah, karena semua yang ada di tubuhku hanya aku serahkan pada suami sahku."
"Oh ya, sepertinya kau memiliki daya ingat yang menurun. Biar aku ingatkan kalau aku adalah suamimu, jadi apakah boleh." Arya melirik dua bukit kembar yang tampak berisi, masih bisa membayangkan bentuknya yang padat dan berisi.
"Dasar pria mesum, otakmu hanya di penuhi hal-hal kotor." Dengan sigap Naura menutup dadanya menggunakan kedua tangan.
"Aku memang mesum, tapi bukan tipe pria brengsek yang menyentuh wanita lain tanpa izin."
Akhirnya Naura berhenti menutupi dadanya merasa sudah aman dan tidak perlu waspada.
"Tapi aku tidak janji kalau khilaf."
"Apa?" sontak Naura kembali menjauh untuk menjaga jarak aman, waspada kepada suaminya sendiri.
Arya tertawa geli melihat raut wajah Naura yang begitu ketakutan dengan gurauannya. "Kau persis seperti seekor kucing."
"Ya, dan aku pastikan selalu mencakar wajah dan mulutmu itu."
"Coba saja."
"Hey, kemari kau!" Naura melempar bantal sofa yang dapat di hindari Arya, terjadi kejar-kejaran ala India.
Tapi sayang itu tak berlangsung lama saat Naura terpeleset, dengan sigap Arya menangkapnya hingga mereka menjadi lebih intim.
"Tahan Arya…tahan, jika kau tidak ingin di sebut pria mesum, tolong kendalikan dirimu." Batin Arya yang berkomat kamit, jakunnya naik dan turun melihat pemandangan indah dari sebuah bukit yang padat dan berisi. "Empat sehat lima sempurna," ucapnya pelan tanpa sadar.
"APA?" Naur segera berdiri dengan benar seraya menanggalkan sendal, membidik setelah sasaran terkunci.
Bugh
Arya yang tadinya ingin menghindar, tapi sayangnya tak sempat. "Auh," ringisnya sedikit kesakitan. "Aku akan melaporkanmu karena tindak kekerasan rumah tangga." Kecam nya kesal, selalu saja menjadi sasaran lemparan dari Naura.
"Karena sandal itu tahu kemana harus berlabuh." Naura mencibirkan bibirnya dan tertawa bahagia, kembali kejar-kejaran seperti tikus dan kucing.
__ADS_1