Ayo Menikah

Ayo Menikah
Bab 74


__ADS_3

Satu bulan kemudian..


Lama tak terdengar kabar dari Anton, bak di telan bumi. Setelah kejadian itu benar-benar membuat orang yang di pertahankan berada di dalam pelukannya sampai maut memisahkan mereka, sebuah janji suci yang berawal dari kesepakatan menumbuhkan benih-benih cinta di dalamnya. Naura tersenyum saat menyapa mentari, melihat sang suami terlelap dari tidurnya setelah pertempuran semalam. 


Naura menarik nafas dalam dan mengeluarkannya secara perlahan, melakukannya sebanyak tiga kali barulah melihat hasilnya. 


"Inilah akhir dari kehidupanku, selama ini aku selalu menyalahkan takdir yang tak pernah berpihak padaku. Sekarang aku menyadarinya kalau tanggapan sebelumnya sangatlah salah, Tuhan memberikanku sebuah anugrah yang sebelumnya tak terbayangkan. Memiliki suami yang mencintaiku, yah…walau dia pria mesum tapi aku mencintainya." Gumamnya yang terus meracau. 


"Perlu di ralat mengenai kata mesum itu, apa aku salah bersikap mesum pada istriku sendiri? Ayo jawab!" celetuk Arya yang langsung membuka kedua matanya, tentu saja protes. 


"Oho, kau berpura-pura lupa atau bagaimana?" jawab Naura. 


"Apa itu di anggap pelanggaran?" 


"Perlu di garis bawahi Tuan Arya Atmajaya, watak aslimu selalu mencari kesempatan di dalam kesempitan." 


"Ini masih pagi, kau senang sekali berdebat denganku. Setidaknya jangan lupakan bagaimana aku mengagahi mu," cetus Arya dengan sombong yang langsung terkena pukulan dari bantal melayang. "Hey, wajah tampanku bisa rusak nanti." 


"Apa wajahmu itu selesai di operasi plastik?"


Cup


Arya cengengesan setelah mengecup bibir istrinya sekilas, kecerewetan di balas telak menggunakan bibirnya. "Kau cerewet sekali." 


"Kau!" geram Naura kembali melayangkan bantal, sangat kesal melihat suaminya yang sudah kabur menghindari serangan serta amukannya. 


Naura menggeleng-gelengkan kepala seraya membersihkan dirinya, bersiap-siap untuk mengunjungi butik yang di kelola bersama sahabatnya dan dia sangat bersyukur karena beberapa hari lagi pembukaan cabang baru butik akan di gelar. 


"Kau mau kemana di pagi buta begini?" selidik seseorang yang berdiri di ambang pintu kamar tengah bersandar santai. 


"Ke butik." 


"Butik? Bukankah sudah aku katakan kau tidak boleh kebutik lagi. Apa gunanya aku bekerja kalau kau juga ingin bekerja, jadilah ibu rumah tangga yang melayaniku di kamar." 

__ADS_1


Naura mendengus kesal saat perkataan yang keluar dari mulut suaminya. "Kau bekerja sampai sore dan apa yang aku lakukan dengan itu?" 


"Kau bisa berbelanja ataupun pergi ke salon." 


"Aku tidak bisa melakukannya setiap hari, sangat membosankan." 


"Jadi kau masih keukeuh ingin bekerja?" tanya Arya penuh selidik, jujur saja dia tak suka jika istrinya bekerja dan merasa letih, bisa-bisa durasi dalam bercinta juga berkurang. Masa dimana Bobby miliknya sangat senang, maklum hal itu lumrah terjadi pada pasangan pengantin baru. 


Naura memoles sedikit wajahnya agar terlihat segar, fokus pada penampilan dan berhenti berdebat. "Begitulah." 


"Kapan kau akan berhenti bekerja?" 


"Saat aku hamil." Jawab Naura asal dan berlalu pergi menerobos suaminya, baginya mengembangkan karir lebih baik daripada berdiam diri menghabiskan uang suaminya, itu bukanlah karakternya. 


Baru beberapa langkah, Naura memegangi kepalanya yang terasa berputar seperti menaiki wahana komedi putar. "Ada apa denganku?" lirihnya pelan, pandangannya mengabur dan hitam. 


"Naura." Arya segera menangkap tubuh istrinya dan menggendongnya menuju tempat tidur dengan perlahan, dia sangat panik juga cemas dan segera menghubungi dokter. 


Beberapa saat kemudian, Arya masih menunggu dokter wanita itu memeriksa istrinya, sengaja hanya mengundang dokter wanita agar dirinya tidak merasa cemburu dan alasan terpenting jika sang istri tak boleh di sentuh pria asing. "Bagaimana keadaannya Dok?" 


"Baik bagaimananya? Dia pingsan di depan kamar." Bentak Arya yang menatap tajam ke arah dokter, jika dokter laki-laki maka sudah di pastikan seragam putih sudah lebam tak berbentuk. 


Dokter wanita itu tersenyum dan paham mengenai kekhawatiran dari suami pasien, baginya itu hal yang lumrah. "Itu sudah alami di rasakan oleh ibu yang sedang hamil muda dan kondisinya juga normal." Jelasnya. 


"Apa maksudmu, Dok?" Arya tersentak kaget, kabar mengenai kehamilan sang istri sekaligus hadiah terindah yang di berikan Naura padanya. 


"Benar." Ucap sang dokter membenarkan seraya berpamitan pergi meninggalkan tempat itu. 


Mata Arya berkaca-kaca saat mengetahui kehamilan dari istrinya, itu pertanda semua hasil keringatnya hampir setiap hari membuahkan hasil yang cukup memuaskan, bagai prestasi yang harus di banggakan. Dia membelai wajah mulus Naura dan tersenyum bahagia, pertanda jika sang istri fokus pada kehamilan juga calon anaknya yang akan lahir kedunia. 


Kedua mata perlahan membuka, menatap wajah tampan dari suaminya yang selalu tersenyum membuatnya bergidik ngeri. "Kau kenapa? Sangat aneh sekali." Ucapnya sambil membenarkan posisinya. 


"Mulai sekarang kau beristirahat secara total!" titah Arya membuat kening Naura berkerut. 

__ADS_1


"Kau ini kenapa? Menyingkirlah! Aku ingin ke butik." Cetus Naura. 


"Kau tidak boleh kemanapun, bahkan beranjak dari tempat tidur sekalipun." Ucap Arya menahan tangan istrinya. 


"Ayolah, jangan berlebihan. Aku bosan di Mansion tanpa melakukan apapun." 


Arya tersenyum sangat lebar membuat Naura semakin kebingungan juga penasaran, memeriksa dahi pria itu dan merasa suhu tubuh normal. "Kau sehat tapi mengapa pikiranmu terbilang sakit? Kenapa kau tersenyum? Katakan padaku!" 


"Apa kau masih ingat apa yang baru saja kau katakan?" 


"Yang mana? Aku terlalu banyak bicara jadi tidak tahu yang mana kau maksudkan." 


Arya menghela nafas. "Mengenai syarat kau berhenti bekerja di butik." Ingatnya. 


"Ya, lalu?" Naura masih bingung dan belum mengetahui jika dia tengah berbadan dua.


"Aku ingin kau menepati perkataanmu, mulai sekarang kau tidak boleh bekerja." Seloroh Arya seraya menoel dagu istrinya.


Naura mengangkat wajahnya memandang lurus kedepan, perlahan dia mencerna perkataan Arya sambil menelan saliva yang seakan tersangkut di tenggorokannya. "Kapan terakhir kali aku datang bulan?" sontak kedua pupil mata membesar saat mengetahui dirinya terlambat mengalami tamu bulanan. "Astaga, aku termakan omonganku sendiri." Gumamnya yang bermonolog. 


Arya tersenyum puas, raut wajah dari istrinya terlihat sangat menggemaskan. "Yap, dan aku ingin kau tetap di rumah. Jika hasil dari Bobby-ku harus di rawat dengan sebaik mungkin, jika perlu aku mendatangkan dokter kandungan dan beberapa orang suster untuk memantaumu." 


"Bobby?" ulang Naura dengan dahi yang berkerut. 


"Maksudku junior Arya Atmajaya." 


"Jadi kau menamai tunas bambu itu sebagai Bobby?" tawa Naura hampir meledak, setelah lama baru mengetahuinya. 


Arya cemberut dan menutup mulut Naura agar tidak menertawakannya. "Jangan mengalihkan topik pembicaraan, dan juga…aku sudah menamainya sejak kecil dan akan tetap begitu, juga bukan tunas bambu." 


Naura tak bisa menahan geli di hatinya, menggigit tangan Arya dan tertawa puas. "Oh ya ampun, ternyata tunas bambu mempunyai nama." 


"Jangan mengalihkan topik!" sarkas Arya meninggikan intonasinya.

__ADS_1


"Baiklah…baiklah, mengapa kau marah. Aku akan menepati perkataanku, tidak aku sangka jika tunas bambu yang ukurannya masih standar membuahkan hasil." Ledeknya kembali tertawa memperlihatkan gigi geraham. 


"Yang penting ampuh membuahi dan membuatmu kenyang selama sembilan bulan sepuluh hari." Ucap Arya menyombongkan diri karena berhasil menanam benih kualitas tinggi, namun sedikit di sayangkan jika beberapa benihnya mati saat dia membuangnya ke toilet. "Sayang sekali, benih-benih yang terbuang mati di dalam saluran pembuangan air. Mungkin saja salah satu dari mereka menjadi dokter atau calon pejabat." Batinnya.


__ADS_2