Ayo Menikah

Ayo Menikah
Bab 52


__ADS_3

Di malam hari, Naura tersenyum sambil menepuk kedua tangannya sudah berhasil memasak bersama sang ibu, begitu banyak makanan terhidang di atas meja hasil jerih payah keduanya menyelesaikan begitu banyak masakan. 


Sedangkan Ririn menatap kagum dengan olahan masakan yang sudah tersaji dan tersusun indah, sangat banyak dan bagaimana mungkin mereka bisa menghabiskannya berdua saja. 


"Ya ampun, ternyata kita memasak begitu banyak makanan. Bagaimana ini? Sayang kalau makanannya terbuang dengan sia-sia." Tutur Ririn yang sangat menyayangkan makanan itu terbuang, ke khawatiran berubah saat terlintas ide. "Hubungi Arya dan bawa dia makan bersama kita!" ucaonya memerintah. 


Naura melirik jam yang berada di dinding, menghela nafas mulai mengenal kebiasaan suaminya yang pergi dan datang sesuka hati seperti jelangkung. "Dia akan datang sebentar lagi." 


"Dari mana kau tahu?" 


"Indra penciumannya sangatlah tajam, bau masakan ini pasti memanggil-manggil namanya." 


"Benarkah?" Ririn mengangkat sebelah alisnya penasaran dengan apa yang dikatakan oleh Naura. 


Tak beberapa lama kemudian, seseorang menekan bel pintu membuat Naura menunjuknya dengan santai. "Dia sudah datang dan mengendus aroma masakan." 


Ririn melangkahkan kakinya untuk membuka pintu, tapi di tahan oleh Naura. "Ibu tunggu di sini, aku akan membukakan pintu." Ucapnya dengan sombong. 


"Hem." Ririn menganggukkan kepala melihat apakah dugaan dari anaknya benar. 


Dan benar saja saat melihat seorang pria tampan mengendus aroma masakan di udara, hampir tidak percaya tapi itulah kenyataannya. "Luar biasa." Lirihnya kagum. 


Arya sangat menyukai aroma masakan yang berasal dari dalam rumah, dan benar saja saat melihat makanan yang sudah tersaji di atas meja makan sungguh menggugah selera. Air liur yang hampir menetes di tambah lagi perutnya yang keroncongan pertanda minta di isi. 


"Sepertinya itu enak." Arya hendak masuk ke dalam rumah tapi Naura menghalanginya. 


"Eit, kau mau apa?" 


"Tentu saja makan, aku sangat lapar." 


"Jadi?" Naura menatap Arya dan berpura-pura tidak peka. 


"Aku lapar." Arya memegang perutnya yang sedari tadi berbunyi, sepulang kantor yang menguras otak juga energi membuat perutnya sangat lapar, perlu stamina untuk memulihkan kondisi tubuhnya. 

__ADS_1


"Naura, kenapa kau menahannya? Biarkan suamimu masuk dan kita makan bersama." Ujar Ririn yang menengahi, tidak tega melihat Arya yang kelaparan. 


Naura menghela nafas seraya mengangguk. "Kau dengar itu? Masuklah!" 


Arya tersenyum mengembang, rasanya sudah tidak sabar untuk mencicipi makanan yang tersaji di atas meja makan. "Tanpa kau minta aku juga akan masuk." Balasnya. "Halo Ibu mertua!" sapanya dengan sopan. 


Ririn tersenyum. "Ayo duduklah, kebetulan kau datang karena aku sangat bingung siapa yang akan menghabiskan semua makanan ini."


"Ibu mertua tidak perlu cemas, sekarang aku ada di sini dan pastinya menghabiskan semuanya." Jawab Arya yang tersenyum mengembang, sementara Naura yang melihat interaksi itu merasa jengah. "Oh ya Sayang, apa kau sudah membuatkan masakan dari gurita?" ucapnya bermulut manis. 


"Jangan memanggilku begitu, aku sudah memasaknya untukmu." 


"Wah, aku merasa spesial kali ini. Bukankah panggilan Sayang itu biasa? Apa salahnya dengan itu?"


"Salah, aku lebih menyukai kau memanggilku dengan namaku!" 


"Sudahlah, kenapa kalian malah berdebat. Ayo duduk dan kita makan bersama!" ucap Ririn yang menengahi. 


Arya langsung mengambil hati Naura dengan menarik kursi untuknya, tersenyum bagai orang yang sedang jatuh cinta dan tujuan utamanya memperlihatkan sisi romantis yang ada padanya. "Duduklah!" 


"Aku bisa sendiri, tapi terima kasih." Balas Naura sedikit ketus, dia tahu jika Arya berusaha untuk mengambil hatinya. 


"Sama-sama." 


"Kalian sangat romantis sekali." 


"Terima kasih Ibu mertua." Balas Arya dengan penuh percaya diri, sedangkan Naura memutarkan bola mata karena jengah dengan sandiwara itu. 


Kedua mata Arya berbinar cerah di saat dia melihat begitu banyak makanan yang pasti menggugah selera membuat air liurnya hampir menetes, dia sudah tidak sabar untuk mencicipi semua makanan itu dan menyantapnya. 


"Wah…masakan Ibu mertua sangat luar biasa, bahkan mulutku tidak berhenti mengunyahnya." Ucap Arya membuat seseorang tersenyum kecut. Jujur saja tampilan makanan yang begitu menarik dan menggugah selera namun dia tidak sebanding dan tidak menyangka jika olahan dari gurita yang diminta membuatnya merasa kesulitan untuk menelan. "Ya Tuhan…tampilannya saja yang indah tapi pas di kunyah persis sandal jepit." Ungkapnya di dalam hati, tentu saja dia tidak berani mengungkapkan secara langsung dan takut jika Ibu mertuanya tersinggung. 


"Bukan aku yang membuatnya tetapi, Naura." Jelas Ririn yang menunjuk anaknya. 

__ADS_1


"Wah, benarkah? Aku pikir ini masakan ibu mertua." Arya tertawa renyah, ingin sekali memuntahkan makanan yang ada di dalam mulutnya. "Pantas saja, ternyata dia tidak bisa memasaknya." Gumamnya di dalam hati. 


"Apa kau pikir aku ini tidak bisa memasak gurita? Bahkan kau sampai memujinya, kalau kau ingin ya sudah habiskan saja itu khusus untukmu." ucap Naura dengan penuh percaya diri mengibas rambutnya dengan bangga. 


"Aha, ternyata aku mendapatkan kelemahannya, dia tidak bisa memasak gurita tapi mulutnya itu sangat sombong sekali. tampilannya sangat indah persis seperti restoran bintang lima namun rasanya hanya bernilai dua dari sepuluh." Batin Arya sembari melirik Naura. "Sepertinya aku ingin mencoba masakan dari ibu mertuaku saja," ucapnya yang menghindari masakan dari olahan gurita buatan wanitanya yang ternyata sangat buruk. 


"Hey, kau sendiri yang ingin meminta masakan dari olahan gurita, jadi aku membuatnya khusus untukmu dan sangat spesial." 


"Spesial?" 


"Ya, spesial karena aku tidak pernah mengolahnya dan ini masakan pertamaku dalam mengolah gurita. Aku mencari resep terbaru di aplikasi online, semoga saja kau suka atas kerja kerasku dan jangan lupa untuk di habiskan." Naura kembali mendekatkan sepiring masakan gurita dengan senyum mengembang berhasil memasaknya tanpa bantuan sang ibu. 


"Aku akan memakannya di akhir, itu sangat menarik bukan." Tolak Arya yang menjauhkan piring itu darinya. 


Ririn hanya tersenyum melihat interaksi keduanya, dan menyadari sesuatu. 


"Naura, biarkan saja dia mencicipi makanan lainnya." 


"Tapi Bu, aku bersusah payah membuatkan masakan gurita, tapi dia malah mencoba yang lainnya." Keluhnya manja. 


"Kau tenang saja, aku akan menghabiskan semuanya." 


"Hah, baiklah." 


Setelah makan selesai, Arya berpamitan pada ibu dan anak yang ada di hadapannya. Dia merasa ada sesuatu yang buruk terjadi dengan pencernaannya kali ini, beberapa kali berbunyi membuatnya ke toilet terburu-buru. 


"Ada apa dengannya?" tanya Ririn penasaran. 


"Entahlah, mungkin dia kekenyangan." Sahut Naura mengangkat kedua bahunya. 


Hoek…Hoek.


Sementara di dalam toilet Arya terus mengeluarkan isi perutnya merasa mual menghabiskan makanan buatan Naura. "Gurita sialan! Jika tahu begini aku tidak akan memintanya memasak gurita, sangat alot dan tidak enak. Sepertinya bukan gurita yang dimasak istriku itu melainkan sendal jepit, aku kapok." Umpat nya kesal merutuki kebodohannya.

__ADS_1


__ADS_2