Ayo Menikah

Ayo Menikah
Bab 44


__ADS_3

Lili mendengar klakson yang berasal dari mobil di depannya, dia tidak mengerti pertanda atau kode yang di berikan oleh mantan sahabatnya. Hingga dia menyadari situasi yang terjadi, dengan cepat dia menoleh ke belakang dan terbelalak kaget jika ban belakang mobil hampir masuk ke sungai. 


"Astaga," Segera Lili mengerem mobil yang di kemudikannya, membuka pintu dan melompat keluar untuk menyelamatkan diri.


Dia sangat takut, keringat dingin yang membasahi tubuh dan seluruh badannya bergetar hebat menyaksikan mobilnya perlahan masuk ke dalam sungai yang arusnya sangat deras. Dia sangat bersyukur, sedetik saja terlambat maka nyawanya dalam bahaya. Kedua tungkai yang terasa lemas, tubuhnya beringsut dan terduduk di atas rumput yang sedikit basah akibat di guyur hujan dalam kapasitas sedikit. 


"Fiuh, hampir saja. Kalau terlambat satu detik saja aku pasti sudah terbawa arus sungai," monolog Lili sambil menyeka keringat di dahi, kemudian dia tersadar kalau seseorang entah sejak kapan berdiri di belakangnya. "Kau." Sedikit terkejut, tapi dia tak menggubrisnya. Kondisi dari spot jantung benar-benar membuat nyawanya hampir melayang. 


Naura ikut duduk di sebelah Lili, menunjukkan senyuman mengejek melihat reaksi itu. "Bukankah itu luar biasa?" 


"Biasa apanya? Kau hampir membunuhku." Ketus Lili yang terlihat trauma.


"Itu akibatnya bermain-main denganku, sudah aku katakan kalau aku dua langkah di depanmu. Jangan mengira aku hanya bisa diam menyaksikan tindakan mu yang ingin mencelakaiku, kau bukan lawanku yang sebanding. Sebaiknya kau carilah lawanmu yang sebanding, kali ini aku memaafkanmu dan membiarkanmu tetap hidup. Tapi lain kali TIDAK." Naura berdiri dari duduknya dan masuk ke dalam mobilnya meninggalkan Lili untuk merenungi kesalahan yang telah di perbuat. 


Lili menatap kepergian Naura, meremas rerumputan dengan erat, rahang yang mengeras dan pandangan mata penuh kebencian juga kemarahan. Kedengkian dan rasa iri tidak akan pernah hilang darinya, kecuali melihat kematian mantan sahabatnya. Bukannya menyadari kesalahan dengan merenungkan semuanya, dia malah menyusun rencana untuk membalas penghinaan itu. 


"Aku akan membalasmu, anggap ini hari keberuntunganmu." Ucap Lili yang bersumpah untuk membalas penghinaan itu. 


Di sepanjang perjalanan, sesekali Naura melirik Arya yang masih pingsan dan merasa bersalah mengenai dahi pria itu yang bengkak dan memerah. "Hah, kapan dia sadar? Lama sekali." 


Niat jahat Lili memang tidak bisa di toleransi apalagi hal itu menyangkut keselamatannya dan juga nyawa, bisa saja dia mendorong mobil wanita jahat itu hingga tercebur di sungai yang arusnya sangat deras. Tapi dia tidak ingin melakukannya, itu sama saja sifatnya sebelas duabelas dengan wanita yang penuh kedengkian dan iri hati. 


"Sepertinya dia tidak akan pernah sadar, apa kehidupannya sangat monoton sehingga terus mengganggu kedamaianku." Monolog Naura. 


Acara makan malam romantis yang telah di persiapkan oleh Arya gagal total, Naura yang tidak tahu lokasi itu memutuskan untuk kembali ke Mansion Atmajaya. 

__ADS_1


Tak lama mobil berhenti di sebuah kediaman yang sangat mewah, Naura menatap Arya yang belum sadarkan diri dan meminta dua orang penjaga membopong tubuh suaminya.


"Angkat dia!" titah Naura yang berlalu dan masuk ke dalam. 


"Baik Nyonya." Jawab keduanya serempak dan membopong tubuh Arya. 


Beno yang baru saja turun dari tangga menyaksikan cucunya yang di angkut oleh dua penjaga, menghampiri Naura yang berjalan lebih dulu. "Apa yang terjadi?" tanyanya sangat khawatir. 


"Tidak ada yang perlu di khawatirkan Kek, semua baik-baik saja." Jawab Naura santai. "Bawa tuan ke kamarnya!" ucapnya yang memerintah, kedua penjaga itu langsung mengangguk dan menjalankan sesuai perintah. 


"Lantas kenapa Arya tidak sadarkan diri?" 


Naura menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sembari cengengesan menutupi rasa bersalahnya. "Begini Kek, ada masalah saat kami bepergian. Dia selalu berteriak membuat gendang telingaku hampir rusak, mau tidak mau aku melemparkan sepatu hak tinggi dan membuatnya pingsan." Jelasnya sedikit memelankan suara, takut pria tua itu marah. 


"APA?" 


"Ada apa Kek?" tanya Naura berhati-hati.


Beno tertawa sampai memperlihatkan gigi gerahamnya, memegang perut menahan geli hati mendengar penjelasan Naura. Dia tidak menyangka kalau Arya sangatlah memalukan, dan untuk pertama kalinya. "Ini sangat lucu, dia pingsan setelah kau melemparnya dengan sepatu?" 


"Ya begitulah." Lirih Naura merasa bersalah, memalingkan wajahnya. 


Seorang pria membuka kedua matanya dengan perlahan, memastikan apakah dia sudah berada di alam roh atau masih di dunia. Pandangan matanya menyusuri sekeliling ruangan, menghela nafas lega saat tahu jika dia berada di kamarnya. 


"Aku berada di kamarku." Ucap Arya mengelus dada, namun sepintas mengingat sesuatu hingga dia langsung terduduk. "Bagaimana aku bisa di dalam kamar? Seingatku masih berada di dalam mobil." Monolognya yang sangat penasaran.

__ADS_1


Terdengar suara tawa menggelegar, Arya segera mengalihkan perhatian ke sumber suara dan menatap dua orang, kedua matanya terus berkedip mengingat apa saja yang dia lewati.


"Kau payah." Beno kembali tertawa dan pergi dari kamar, sedangkan Arya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. 


"Kenapa Kakek tertawa?" 


"Itu karena kau pingsan terkena lemparan sepatuku," jawab Naura sambil berjalan mendekat.


"Pingsan? Tidak ada di dalam sejarah aku pingsan." 


"Yeah, andai itu benar. Tapi kenyataannya malah berbanding terbalik, aku lupa meletakkan kamera untuk merekam mu." Ucap Naura mengejek seraya melipat kedua tangan didepan dadanya.


"Aku pingsan?" Arya menaikkan sebelah alisnya, masih tidak mempercayai semua yang di dengarnya. "Ck, itu sangat memalukan." Gumamnya di dalam hati sambil bergidik ngeri jika itu benar. 


"Kau rasakan saja, jejaknya masih tertinggal disana." Naura menunjuk kening pria itu dan duduk di sebelah, sedikit merasa menyesal. 


Arya menyentuh keningnya yang ternyata bengkak, menelan saliva dengan susah payah seakan tersangkut di tenggorokan. "Mustahil." 


"Aku minta maaf soal itu, kau terlalu berisik dan refleks aku melemparmu sebagai peringatan terakhir. Eh, aku tidak menyangka kau pingsan." Akhirnya tawa Naura pecah tak bisa menahannya lagi, kejadian yang sangat lucu dan memalukan bagi seorang Atmajaya. 


"Berhenti tertawa." Lantang Arya yang sangat malu dan bahkan ingin bersembunyi di lubang tikus. 


Naura terus tertawa dan mengejek Arya, mencibir dan bahkan melet lidahnya. "Benar kata kakek, kau payah." 


Arya sangat geram karena dirinya di rugikan, pertama makan malam romantis gagal total dan kedua dirinya malah di permalukan. "Kau tidak bisa lari dariku!" ucapnya yang terus mengejar wanita itu hingga keduanya lelah berlari. 

__ADS_1


Arya yang berada di atas tubuh Naura terpesona dengan kedua bola mata indah yang seakan menghipnotisnya, mendorong keinginan untuk merasakan ciuman di bibir merah sang istri. Namun fantasinya gagal saat sebuah tangan malah menamparnya untuk menyadarkan dirinya, menghela nafas jengah.


"Sial, padahal satu sentimeter saja bisa menyentuh bibirnya." Batin Arya yang gusar.


__ADS_2