Ayo Menikah

Ayo Menikah
Bab 72


__ADS_3

Tatapan selalu tertuju pada seorang wanita cantik nan seksi sedang bertemu dengan seorang pria yang tentunya memberikan keuntungan, tidak ingin melepaskan apa yang menjadi target dalam mencapai tujuan. Dia menarik senyum di bibirnya dan memberanikan diri untuk berjalan mendekat, berharap semuanya sesuai dengan rencana. 


"Hai, apa aku boleh bergabung?" ucapnya penuh percaya diri, tak menggubris raut wajah wanita itu yang tidak menyukai kehadirannya. 


"Kau lagi." Gerutu Clarissa sudah menduga jika Amar berusaha untuk mendekatinya, menerima tawaran dari pria itu sangatlah konyol. Ayahnya orang yang terpandang, bagaimana mendapatkan keuntungan dari pria itu? Sangat mustahil, dia yakin bisa menyelesaikannya sendiri. "Apa kau tidak bosan? Aku saja muak melihat wajahmu itu." 


Amar mengepalkan kedua tangannya menggertakkan gigi namun menahan semua kekesalan itu, jika tidak membutuhkan wanita itu dia tak akan mau berurusan. "Ini terakhir kali aku datang menawarkan kesepakatan, terserah apapun keputusanmu." 


"Benarkah? Apakah aku harus bertepuk tangan?" sahut Clarissa mencibir. "Sungguh, kau selalu saja menguntitku seperti tak mempunyai tujuan lain saja. Ups maaf, aku lupa jika kau memang pria pengangguran." Ejeknya. 


"Aku bukan pengangguran." 


"Memangnya panggilan apa yang cocok untukmu? Dan ini terakhir kalinya kau menemuiku, aku menolak tawaran mu karena aku bisa melakukannya tanpa bantuan darimu." Bentak Clarissa semakin menjatuhkan harga diri dari Amar Atmajaya. 


"Wanita ini terlalu sombong, aku akan memberinya pelajaran." Batin Amar merasa sakit hati mendengar kalimat hinaan yang begitu besar. "Tutup mulutmu itu atau aku lupa siapa kau sebenarnya." 


"Kau ingin mengajar ku sekarang?" 


"Biar aku tunjukkan harga dari kesombonganmu." Emosi Amar tak bis di kendalikan lagi, level rasa sakit di hati semakin menjadi-jadi dan sangat muak mendengarkan kalimat penolakan diiringi penghinaaan. Dia menarik paksa lengan Clarissa dan menyeretnya menjauh dari kerumunan secara paksa, tidak ada yang mencoba untuk menghalanginya semakin membuatnya leluasa menjatuhkan kesombongan wanita itu. 


"Lepaskan aku, dasar bajingan. Kau akan menyesal memperlakukanku begini," teriak Clarissa yang memberontak. 


Amar yang tersulut emosi tak menggubris perkataan wanita itu, terus saja menyeret tangan Clarissa dan langsung menghempaskan tubuh wanita itu ke atas ranjang berukuran kecil serta mengunci pintunya. 


"Brengsek." Umpat kesal Clarissa yang merasa situasi itu sangatlah buruk, beranjak dari ranjang dan mendorong tubuh Amar. Dia segera berlari ke arah pintu hendak melepaskan diri, tapi terlambat saat pria itu memeluknya dari belakang. "Mau apa kau!" sergahnya yang menyikut pria itu, tapi serangannya dapat di terbaca oleh lawan dan menangkisnya begitu mudah. 

__ADS_1


"Menunjukkan level kesombonganmu yang ada di bawah kaki ku, kau tidak akan lolos dariku Clarissa dan aku pastikan kau mengandung benihku agar semua rencanaku mulus." Kecam Amar tak main-main, mulai mencium tengkuk wanita itu dengan begitu rakusnya, permainan yang di dasari pada kemarahan selalu menyakitkan bagi korban. 


Clarissa berusaha sekuat tenaga untuk melawan, tapi kekuatan seseorang dalam kemarahan sangat sulit terlepas. "Ayahku pasti memberimu pelajaran yang tidak bisa kau bayangkan." 


"Pikirkan itu nanti, aku ingin mencicipi tubuhmu yang indah ini." Amar melucuti gaun seksi nan ketat itu dan bermain dengan kasar, beberapa kali Clarissa berteriak menahan rasa sakit akibatnya yang menggigit punggung mulus itu hingga meninggalkan bekas dan berdarah. 


"Wow, tubuhmu sangat luar biasa. Aku pastikan tidak melewatkan setiap inci tubuhmu, sekarang kau berteriaklah." Amar semakin menjadi-jadi, melancarkan aksi tak terpuji atas dorongan rasa sakit di hati setelah mendapatkan penghinaan itu. 


Amar mulai bermain-main sedangkan Clarissa menangis dan menjerit kesakitan, tidak ada yang mendengar ataupun datang menolong. Semua orang di luar ruangan sangat sibuk menyenangkan diri sendiri, apalagi teriakannya tak terdengar saat tertutupi oleh dentuman suara keras dari musik dansa. 


"Mari kita mulai bagian intinya saja, kau pasti akan menyukai permainan dari sang cassanova sepertiku dan ini gratis tanpa di pungut biaya." Amar yang hendak memulai penyatuan tersentak kaget saat tubuhnya di tendang hingga menghantam dinding, dia sangat terkejut dan melihat siapa yang berani mengacaukan nya. Tatapan tajam dalam kemarahan, dia segera bangkit untuk membalas dendam. "Berani sekali kau." 


Clarissa menutupi tubuhnya yang polos sempurna dengan sprei, sangat cemas dan juga ketakutan. Sekarang dia bisa bernafas lega, kedatangan dari salah satu bodyguard nya datang untuk menyelamatkan. "Jangan ampuni dia, jika perlu bunuh si brengsek itu." Teriaknya memprovokasi sang pengawal. 


Pria berbaju hitam menatap sekilas ke sumber suara dan bertarung untuk melumpuhkan Amar yang menyentuh anak dari pimpinannya. 


"Clarissa." Panggil suara bariton yang mengalihkan perhatian semua orang. 


Merasa namanya di panggil, Clarissa berlari menggunakan sprei penutup tubuhnya yang polos. Dia memeluk erat ayahnya dan menangis sesegukan, ada trauma yang di alami setelah kejadian yang hampir saja menimpanya. 


"Ayah…Ayah." Lirihnya sesegukan menangis tersedu-sedu, suara tercekat tak bisa keluar. "Aku…aku." Sambungnya. 


Anton sangat sedih apa yang menimpa putrinya, membelai rambut Clarissa dan mengecupnya. "Tenanglah, Ayah di sini." Dia melepaskan pelukan itu dan berjalan mendekati Amar, rasa sakit hati sebagai seorang ayah karena ulah satu pria yang sama. 


Bugh

__ADS_1


Bugh


Bugh


Anton belum puas memukul Amar, beruntung bawahannya mencegahnya. "Berani sekali kau menyentuh putriku, kau tidak pantas untuk hidup." Masih terngiang bagaimana kematian salah satu putri kembarnya akibat pria itu, dan putrinya yang lain hampir terjebak dan beruntungnya tidak menikahi pria yang sama, sekarang Clarissa putri tertuanya juga di lecehkan. Sebagai seorang ayah dia merasa gagal melindungi putri-putrinya, kemarahan memuncak melupakan apapun. 


Tanpa rasa bersalah, Amar tertawa setelah meludahi wajah Anton, tahu hidupnya tak akan lama lagi apalagi mencari perkara pada seorang pemimpin Mafia yang paling di takuti dan di segani. "Cukup menarik, tiga putrimu sungguh luar biasa." 


"Diam kau." 


Plak


Anton sangat marah mendengar ejekan itu dan menamparnya tanpa peduli darah segar mengalir di salah satu sudut bibir pria itu. "Kau tidak pantas hidup." 


"Aku tidak takut, mungkin saja setelah kau membunuhku sekalipun." 


"KAU." Geram Anton yang hendak menghabisi nyawa Amar tapi kembali di cegah oleh bawahannya. 


"Sabar Tuan, jangan membunuhnya. Itu sama saja kita memberikan kematian mudah padanya, sebaiknya kita siksa dia untuk keadilan yang pantas dia dapatkan setelah menyakiti putri-putri Tuan." Saran sang pengawal. 


"Kau benar." Anton menatap Amar dengan senyuman jahatnya. 


"Astaga, tamat riwayatku." Amar sangat khawatir jika mendengar kata siksaan, andai saja pria paruh baya itu langsung menikamnya dan hanya merasakan sekali rasa sakit, setelah itu dia bisa bersenang-senang di surga. 


"Bawa dia ke markas, kuliti dia dn taburi garam di atas lukanya!" titah Anton menyeret Clarissa pergi dari tempat itu. 

__ADS_1


"Hei, tunggu! Jangan memberikan perintah itu," teriak Amar putus harapan. 


__ADS_2