
"Kamu tidak berangkat seminar?" Tanya Paula.
Joshep masih terlihat berdiam diri menunggui dirinya, padahal waktu sudah hampir menunjukkan pukul 7 pagi, namun pria itu belum terlihat bersiap-siap.
Joshep menggeleng, "Aku sudah mengirim laporan ku dan juga sudah meminta izin pada panitia, aku akan menemani mu hari ini."
"Kenapa begitu? Aku baik-baik saja kok, hanya tinggal lemas. Pergilah, bukankah tujuan mu ke sini untuk menghadiri seminar?" Lagi-lagi Paula merasa bersalah dan tidak enak hati pada Joshep karena merasa sudah mengacaukan acara joshep.
"Tidak, aku akan di sini saja. Lagi pula semua laporan sudah aku kirim dan tidak akan menjadi masalah." Joshep tetap menolak untuk pergi meninggalkan Paula meski kini wajah mantan instrinya sudah tidak terlihat pucat lagi, demam di tubuhnya juga sudah turun.
Joshep menemani Paula seharian, membantu Paula menyiapkan makan, menemaninya duduk di teras sambil melihat pantai, meski tidak banyak yang mereka bicarakan satu sma lain.
Joshep terlihat menjadi lebih pendiam sejak pagi, pikirannya pun seperti tidak berada di sana, membuat Paula merasa jika itu karena dia merepotkannya dan membuat pria itu gagal mengikuti seminar.
"Josh,, ada masalah apa? Aku lihat kamu seperti tidak fokus seharian, semenjak menerima telpon tadi pagi, sikap mu jadi aneh." Tanya Paula akhirnya.
"Atau ini karena aku yang membuat mu gagal ikut seminar? Maaf, sudah merepotkan mu." lanjutnya.
"Tidak, sebaiknya kau jangan berpikiran yang aneh-aneh. Aku sudah jelaskan jika seminar itu sudah aku atasi, lagi pula tidak terlalu penting." Sangkal Joshep.
"Lantas apa? Apa yang membuat mu seperti tertekan dan berpikir sangat berat? Apa ada masalah di rumah sakit? Atau Bella datang berkunjung?" Paula terus menebak-nebak apa yang terjadi.
"Tidak. Tidak ada apa-apa, semua baik-baik saja." Ujar Joshep datar.
"Kalau begitu, apa tidak sebaiknya kita pulang saja? Seminar mu sudah berakhir dan keadaan ku juga sudah baik-baik saja sekarang ini, ayo pulang, aku juga rindu dengan Kevin, dari kemarin aku belum mendengar kabarnya." Ajak Paula.
__ADS_1
"Kenapa kau mengatur ku? Kau hanya asisten ku. Jika aku masih ingin di sini, memangnya kenapa? Kevin, Kevin, Kevin terus yang kau pikirkan. Apa kau tidak pernah memikirkan tubuh mu sendiri? Kau sakit, dan kau juga butuh waktu mu sendiri, di sana ada ayahnya, kenapa kau masih harus memikirkan mereka terus menerus? Se-cinta itukah kau dengan mereka, sehingga saat bersama ku hanya ada mereka di kepala mu, tak pernahkan sekali pun kau peduli bagaimana dengan perasaan ku? Perasaan aku yang pernah menjadi bagian hidup mu, yang katanya dulu pernah kau katakan sebagai pria yang paling kau sayangi, omong kosong!" amarah Joshep tiba-tiba meluap begitu saja, hanya karena Paula mengajaknya pulang karena dia merindukan Kevin dan ingin mengetahui kabar anaknya yang dari kemarin tidak sempat dia hubungi karena ponselnya yang kehabisan daya.
"Josh, anak ku sedang terbaring sakit di sana, aku ikut kamu ke sini sebagai bentuk tanggung jawab ku karena aku bekerja pada mu, aku hanya mengajak mu pulang karena bukankah kamu bilang urusan mu sudah selesai di sini, kamu tidak akan pernah mengerti bagaimana rasanya menjadi ibu, menjadi orang tua." Paula masih memakai mode tenangnya meski kalimat yang di sampaikannya penuh penekanan.
"Ya, aku memang tidak bisa mengerti bagaimana menjadi orang tua, karena impian ku tentang mempunyai keluarga bahagia bersama anak-anak ku kau rampas dan hancurnya dengan kejam." Ketus Joshep.
"Josh, sampai kapan kamu akan mengungkit masa lalu kita dan terus menabuh genderang perang dengan ku, sementara kita sudah punya jalan hidup masing-masing. Tidak bisakah kamu dan aku hidup damai dan mengubur semua cerita lama kita, toh permusuhan dan kemaran mu tidak akan merubah semua hal yang telah terjadi."
"Mudah untuk mu mengucapkan itu, karena kau tidak pernah berada di posisi tersakiti seperti ku, dan kau juga sudah mendapatkan pengganti ku dengan pria miskin yang mengajak mu hidup susah, yang menyiksa mu dan membiarkan mu bekerja banting tulang hanya demi untuk bertahan hidup, sakit jiwa! Kau bahkan mendapatkan kebahagiaan dalam semua penderitaan mu itu!" maki Joshep semakin menjadi.
Terkadang Joshep merasa kalau kesusahan yang Paula alami sekarang ini merupakan karma dari Tuhan akibat penghianatannya, namun melihat penderitaan yang harus Paula jalani, hatinya terasa ikut sakit dan tidak rela jika Paula harus menjalani semua itu, makanya itulah yang membuat mood Joshep terkadang turun naik saat menghadapi Paula, rasa cinta dan bencinya terkadang sering mempermainkan perasaannya seakan mereka saling ingin muncul dan saling ingin mengalahkan di dalam dadanya.
"Silahkan maki aku sesuka mu Josh, aku tidak akan marah dan hanya akan mendengarkan mu." Pasrah Paula.
Tidak ada gunanya melawan emosi Joshep, toh apapun yang dia katakan tidak akan merubah keadaan dan kenyataan yang tertanam di diri Joshep jika dirinya hanyalah istri penghianat yang menyakitinya.
Joshep memang sengaja selalu meminta di temani Paula makan, karena dia ingin Paula ikut makan sehingga tubuh Paula yang terlihat kurang gizi itu akan terisi kembali, setidaknya setelah Paula ikut bekerja dengan Joshep, tubuhnya kini mulai terlihat memiliki daging lagi, tidak hanya tulang terbungkus kulit saja.
"Aku tidak lapar, kamu meminta ku menemani makan, namun ujung-ujungnya menyuruh ku untuk ikut makan, makan dan makan setiap saat, perut ku masih penuh." Tolak Paula, dia tahu jika Joshep meminta nya untuk menemani makan, itu berarti dirinya juga harus ikut makan.
"Lihatlah diri mu, kau terlihat seperti tengkorak hidup! Cepat temani aku makan dan minum obat mu!"
"Aku nyaman dengan tubuh ku, suami ku tidak pernah mempermasalahkan bentuk tubuh ku!"
"Makan atau kita tidak akan pulang!" ancam Joshep, dia tahu Paula mengatakan itu untuk memancing kembali emosinya.
__ADS_1
Mendengar ancaman itu Paula akhirnya mau makan, dia ingin segera pulang, karena sangat rindu dengan putranya, ini kali pertama Paula meninggalkan Kevin sampai berhari-hari selama hidupnya, dan itu hanya karena Joshep.
Selesai makan, Joshep memenuhi janjinya, mereka bersiap-siap untuk pulang, perjalanan panjang kembali mereka tempuh dengan hanya saling membisu, hanya hening yang terasa di dalam mobil ini, hanya bedanya kali ini Paula tidak tertidur, dia terjaga menemani Joshep yang berkendara meski tanpa bicara sepanjang hampir lima jam perjalanan mereka pulang.
"Turunkan aku di rumah sakit!" Pinta Paula.
"Tidak, kau baru perjalanan jauh, sebaiknya kau istirahatkan tubuh mu dan segarkan dulu diri mu!" Tolak Joshep yang tetap membawa Paula ke rumahnya.
Ingin rasanya Paula menolak, namun lagi-lagi dia menekan egonya lantas mengikuti perintah Joshep untuk ikut pulang dulu ke rumahnya dan membersihkan diri, lagi pula ucapan Joshep juga tidak ada salahnya, memang sudah seharusnya dirinya membersihkan diri lalu baru menemui putranya di rumah sakit.
"Kemana?" Tanya Joshep saat melihat Paula sudah berpakaian rapi.
"Rumah sakit." jawab Paula singkat.
"Aku akan mengantar mu, aku juga ada sedikit urusan di sana, kita berangkat bersama." Ujar Joshep yang tidak biasanya meminta untuk berangkat bersama ke rumah sakit, biasanya dia tidak peduli akan hal itu, namun Paula tak punya kecurigaan atau pikiran buruk apapun, baginya lebih cepat sampai di rumah sakit itu akan lebih baik, karena itu berarti dia akan lebih cepat bertemu dengan Kevin.
Paula berjalan menuju ke ruang rawat inap Kevin, beberpa perawat melihatnya dengan tatapan aneh, beberpa perawat memang sudah mengenal Paula karena setiap hari Paula datang untuk menjenguk putranya.
Paula mengira jika tatapan aneh beberapa perawat itu karena dirinya yang datang bersama Joshep, dan kini Joshep berjala n di sebelahnya, apalagi Paula juga sempat mendengar tentang kasak-kusuk gosip kedekatan dirinya dengan Joshep yang tersebar di antara para perawat dan staff rumah sakit, mulai dari pembayaran biaya rumah sakit Kevin yang menggunakan kartu Joshep dan kedekatan mereka yang di nilai tidak biasa, sehingga akhirnya Paula melambatkan langkahnya agar Joshep berjalan di depannya tidak lagi beriringan dengannya.
"Hai Josh,, bagaimana seminarnya? Kau terlalu rajin mendatangi seminar yang sebetulanya tidak terlalu penting, atau jangan-jangan itu akal-akalan mu karena ingin berlibur di pantai?" Goda Dokter Stanly yang berpapasan dengan mereka di lorong rumah sakit.
Joshep hanya menjawabnya dengan senyuman kaku dan sesekali ujung matanya melirik ke arah Paula yang sepertinya mendengar ucapan Stanly dengan sangat jelas.
"Oh, Nyonya Hill, bagaimana kabar Kevin sekarang? Apa kodisinya sudah stabil di sana?" Tanya Stanly.
__ADS_1
"Maksud anda?" Paula bertanya balik.