
"Apa-apaan ini, bagaimana bisa acara pertunangan yang sudah di depan mata harus di tunda? Apa kalian sedang mencoba mempermainkan ku?" Mark berkacak pinggang saat berbicara dengan Frans dan Bertha yang merupakan calon besannya itu, wajahnya terlihat sagat marah dan tidak ramah seperti sebelumnya.
Mark merasa sangat marah saat tahu alasan putri kesayangannya mengurung diri di kamar selama seharian ini karena Joshep mengatakan kalau dia ingin menunda pertunangan mereka, maka tanpa pikir panjang lagi Mark langsung menemui Frans yang kini sedang bersiap untuk pulang dari rumah sakit karena kondisi tubuhnya sudah semakin membaik.
Sebenarnya kedatangan Mark ke rumah sakit Permata aalah untuk menemui Joshep dan meminta penjelasan dari calon menantunya itu, hanya saja saat dia ke ruangan Joshep , calon menantunya itu tidak ada di sana, dan staf rumah sakit mengatakan jika sudah dua hari ini Joshep tidak pernah datang ke rumah sakit, sehingga mark akhirnya memutuskan untuk menemui Frans yang ternyata di ketahui masih berada di sana.
"D-di tunda? Apanya yang di tunda?" gagap Bertha.
Sungguh Frans dan Bertha tidak tahu menahu mengenai penundaan pertunangan yang di katakan Mark barusan, semenjak kejadian Joshep yang memergoki pertengkaran Paula dan ayahnya, Joshep sudah tidak pernah lagi muncul di ruang rawat Frans, bahkan menurut Bertha, Joshep juga tidak pernah pulang ke rumah.
"Pertunangan lah, apa lagi? Anak kalian menghubungi putri ku dan mengatakan kalau dia ingin menunda pertuangan mereka, sampai Bella mengurung diri di kamarnya seharian karena bersedih, apa kalian tidak pernah memikirkan dimana keluarga ku akan menaruh wajah, kalau sampai pertunangan yang undangannya bahkan sudah tersebar luas itu harus di tunda?" marah Mark.
"T-tunggu tuan, tapi kami tidak tahu menahu mengenai hal itu, biar kami bicarakan dengan Joshep, ini pasti ada kekeliruan atau mungkin bisa saja Bella salah paham dengan ucapan Joshep, aku rasa Joshep tidak akan mungkin melakukan hal itu." kata Frans menimpali.
"Aku tidak mau tahu, pokoknya apapun caranya, acara pertunangan itu harus tetap di laksanakan sesuai jadwal yang sudah di rencanakan, jangan sampai aku menggunakan cara-cara ku untuk menyeret putra mu datang di acara itu, aku tidak suka jika ada yang membuat putri ku menangis!" ujar Mark sambil berlalu pergi, dia seolah tidak sudi untuk mendengar lagi alasan atau pembelaan yang akan di ucapkan Frans yang sudah membuka mulutnya namun urung dia berkata karena Mark keburu meninggalkan ruang rawatnya dengan marah.
"Anak itu, kemana dia?" gumam Frans memegangi kepalanya kini tiba-tiba terasa sakit kembali akibat Mark yang memarahinya.
"Paula, apa mungkin Paula tau keberadaan Joshep?" kata Bertha yang sudah di ceritakan perihal kejadian waktu itu oleh Frans.
__ADS_1
Bertha bergegas meninggalkan suaminya, dia merasa harus menemui Paula yang dia tahu jika mantan menantunya itu berada di lantai yang sama dengan tempat dimana suaminya di rawat selama ini.
Bak gayung bersambut, karena saat Bertha sedang berjalan menuju ruang rawat Kevin, ternyata Paula justru beru saja keluar dari ruang anggrek.
"Katakan, dimana putra ku kau sembunyikan?" todong Bertha saat Paula berada tepat di hadapannya.
"Mamih, up,,, nyonya,,, apa anda lupa kalau putra anda sudah bercerai dengan ku lima tahun yang lalu? Bagaimana bisa aku tahu dimana putra anda berada? Bukankah seharusnya andalah yang selaku ibunya yang harusnya lebih tahu?" ujar Paula santai.
" Cih, dasar wanita tak tahu diri, sudah di buang oleh anak ku masih saja mengejar-ngejar dia, kembalikan putra ku, dia akan bertunangan dengan Bella, wanita yang cantik, terpelajar, kaya dan sepadan dengan Joshep, kau pasti iri dan cemburu kan, makanya menyuruh Joshep untuk menunda pertunangannya? Dasar wanita licik!" tuduh Bertha.
"Aku, wanita licik? Nyonya, apa anda sedang membicrakan diri anda sendiri? Bukankah yang pantas di sebut wanita licik di sini adalah anda? Tidak perlu aku menjabarkan bagaimana kelicikan anda, aku yakin hati anda pasti mengingat kelicikan apa yang telah anda perbuat pada ku. Dan satu lagi, aku tidak pernah berniat sedikit pun untuk kembali pada putra mu, karena jika aku memang mempunyai niat seperti itu, tentu sudah lama aku akan melakukannya, dan aku yakin aku akan akan dengan mudah untuk menariknya kembali ke sisi ku, namun aku tidak melakukannya!" ujar Paula dengan senyum mengejeknya.
"Kau!" tunjuk bertha merasa kesal dan marah dengan ucapan mantan menantunya yang dulu sangat polos, lugu dan penurut itu.
"Aku tegaskan sekali lagi, semenjak ikatan pernaikahan aku dan Joshep anda putuskan, seharusnya sejak saat itu juga anda tidak melibatkan ku lagi dalam permasalahan putra anda, aku sudah bahagia tanpa Joshep dan tanpa mertua toxic seperti anda dan suami anda!" Paula memalingkan wajahnya dan meninggalkan Bertha begitu saja tanpa memberinya kesempatan untuk memakinya lagi.
Bertha hanya bisa mengepalkan kedua tangannya dengan erat menahan kemarahan yang tidak sempat dia lampiaskan pada mantan menantunya yang kini sudah berani melawannya itu.
Paula berjalan menuju ruang atasannya, beberapa menit yang lalu dia mendapat panggilan dari atasannya yang memanggilnya untuk bertemu di ruanganny, katanya ada hal yang ingin dia sampaikan mengenai pekerjaannya sebagai office girl.
__ADS_1
"Maaf nyonya, sepertinya kontrak anda untuk bulan depan tidak bisa kami perpanjang lagi, dan ini sisa gaji yang harus anda terima bulan ini." ujar atasanya menyerahkan sebuah amplop coklat panjang.
"Tapi, bukankah kontrak di perpanjang setiap tiga bulan sekali? Ini bahkan saya belum genap bekerja satu bulan di sini, namun---" Paula melirih amplop coklat yang tergeletak di meja yang berada hadapannya.
"Maaf, kinerja anda di rasa kurang memadai, dan pendidikan anda juga tidak memenuhi syarat." ujar atasannya itu.
Tentu saja Paula tahu kalau itu hanya alasan yang di ada-adakan oleh atasannya, masalah kinerja, Paula merasa dirinya selalu mengerjakan pekerjaan dengan baik dan tidak pernah ada masalah atau komplen apapun mengenai hasil pekerjaannya, dan untuk masalah pendidikan, jika memang itu tidak memenuhi syarat, seharusnya dia tidak di terima bekerja di sana sedari awal.
"Hmmm,,, baiklah, saya mengerti. Tidak apa-apa, saya mengucapkan terimakasih karena telah bersedia memberi saya kesempatan untuk bekerja di tempat ini, saya mohon pamit." ujar Paula.
Sungguh Paula tidak ingin membuang-buang waktu berdebat dengan atasannya itu, sudah jelas jika dia pasti hanya di perintahkan saja, dia yakin jika dalam hal ini ada andil Frans dan Bertha, bagaimana pun Frans pasti masih mempunyai kuasa di rumah sakit ini, meski dirinya sudah tidak bekerja di sana lagi, namun sebagai mantan dierktur utama, dia pasti masih mempunyai power di sana.
"Paula," suara seorang pria memanggil Paula dalam kegalauannya karena kini dia lagi-lagi kehilangan pekerjaan, entah kemana lagi dia harus mencari pekerjaan untuk tambahan biaya pengobatan dan operasi putranya.
Paula menoleh ke sumber suara, matanya seketika bersinar saat melihat sosok pria yang lama tidak di jumpainya berdiri di hadapannya.
"Willy? Bagaimana bisa kamu berada di sini?" ujar Paula.
"Aku mengajukan banding dan kepindahan ku sedang di tinjau ulang oleh dewan direksi." kata Willy dengan senyum lebarnya.
__ADS_1
"Ah, syukurlah, maafkan aku Will," lirih Paula, sungguh dia masih merasa bersalah karena kepindahan Willy sedikit banyak ada andil dirinya, andai saja dirinya tidak bertengkar dengan Joshep waktu itu dan membuat Joshep murka, kepindahan Willy pasti tidak akan terjadi, pikirnya.
"Oh sudahlah, kamu meminta maaf untuk apa? Kamu tidak bersalah sama sekali dalam hal ini, jangan bersedih, semoga saja banding ku di setujui dan aku bisa tetap bertugas di sini dan tetap dekat dengn mu juga Kevin, aku sangat merindukan kalian berdua!" kata Willy yang sontak saja membuat Paula salah tingkah saat mendengarnya.