
"Bagaimana keadaan mu saat ini?" tanya Willy yang kini sedang duduk berhadapan dengan Paula di sebuah kafe.
Willy mengatakan jika ada yang perlu dia bicarakan tentang Kevin pada Paula, sehingga Paula menyetujui pertemua mereka di sini.
"Baik, apa ada hal buruk yang terjadi pada Kevin?" tanya Paula sedikit cems karena tidak biasanya Willy meminta bertemu dengannya secara serius.
"Tidak, tidak ada hal buruk yang terjadi pada putra mu, perkembangan kesehataannya semakin membaik, besok bahkan dia akan di pindahkan ke ruang rawat biasa. Aku hanya ingin bertemu dengan mu dan mengajak mu bersantai sejenak, aku lihat kamu terlalu lelah akhir-akhir ini." ujar Willy.
"Maaf, tapi aku memang tidak ada waktu untuk bersantai, mana mungkin aku bisa bersantai sementara keadaan putra ku masih terbaring lemah dengan berbagai alat yang menempel di tubuhnya." Paula beranjak dari tempat duduknya, sungguh hari ini di sedang tidak ingin kemana-mana dan bertemu siapapun jika saja Willy tidak menggunakan Kevin sebagai alasannya untuk meminta bertemu dengannya.
Bukan maksud Paula untuk melupakan jasa baik Willy yang pernah dia terima, hanya saja ada kalanya kita lelah dan hanya ingin berdiam sendirian, menghadapi masalah demi masalah yang mampir ke kehidupannya membuatnya merasa hidupnya berada di sebuah roller coaster, menengangkan dan melelahkan.
"Tunggu! Tidak bisakah kita berbicara sebentar saja?" tahan Willy seraya memegangi pergelangan tangan Paula agar wanita itu tidak meninggalkannya di tempat itu sendirian.
"Maaf Willy, hari ini aku sangat lelah, dari kemarin aku mencari pekerjaan, belum lagi bolak balik ke rumah sakit untuk memastikan keadaan Kevin, mungkin lain kali kita bicara." tolak Paula.
"Kamu tidak perlu begitu menyiksa diri mencari pekerjaan dan segala macam, aku bisa membantu mu jika kamu berkenan. Aku yakin kamu tidak buta dan pasti mengetahui jika aku menyukai mu, aku ingin membicarakan perasaan ku padamu." ujar Willy mengungkapkan isi harinya dan mengatakan tujuan sebenarnya dirinya mengajak bertemu Paula.
__ADS_1
Paula terdiam, dia kembali mendudukan diri di kursi yang tadi sempat di duduki dan hampir di tinggalkannya.
Ada sesuatu yang harus diperjelas disini, Paula memang tidak buta, dia juga bukannya tidak peka, tentu saja dia tahu jika Willy membantunya tidak hanya sekedar alasan kemanusiaan atau karena mereka teman lama, dari sikap yang jelas dia tunjukkan padanya, sangat bisa terlihat dengan jelas jika Willy mengharapkan suatu imbalan yang lain dari Paula meski sebelumnya belum pernah terucap dari bibir pria itu sehingga Paula juga tidak ingin mengambil sikap karena tidak mau terkesan terlalu percaya diri.
Namun saat dia mengatakannya dengan jelas mengenai perasaannya, Paula akhirnya memutuskan untuk mengambil sikap, dia tidak mau keslah pahaman ini berlarut-larut di antara mereka.
"Aku sungguh sangat berterimakasih atas kebaikan hati mu yang banyak membantu ku dan juga Kevin, tapi maaf--- aku tidak mempunyai perasaan lebih pada mu, selain sebagai sahabat. Maaf--- aku rasa kamu berhak mendapatkan wanita yang lebih baik daripada ku, kamu hebat, karier mu bagus,,, sepertinya aku bukan orang yang pantas untuk menjadi pendamping mu." terdengar halus, namun penolakan tetaplah penolakan, sehalus apapun akan terasa menyakitkan dan mengecewakan, begitupun yang di rasakan Willy saat ini.
"Kenapa? Apa yang kurang dari ku? Apa yang Joshep punya dan tidak ada pada ku? Kamu menolak ku karena kamu masih mencintainya, kan? Aku bisa mencintai mu, aku bisa menerima putra mu, kenapa? Apa yang membuat mu tidak bisa menerima ku?" Willy kembali memegangi pergelangan tangan Paula yang berada di atas meja, kali ini agak terasa kasar daripada sebelumnya.
"Tidak, tidak akan aku lepaskan sebelum kamu mengatakan apa alasan mu menolak ku?" mata Willy memerah, sepertinya dia mulai marah, namun entah pada siapa.
"Aku tidak mencintai mu, aku tidak punya perasaan apaun pada mu!" ujar Paula dengan lugas.
"Apa karena kamu masih mencintai Joshep sehingga kamu menolak ku?" tanya Willy lagi seakan tidak puas dengan jawaban yang di berikan Paula padanya, tangannya emakin kerasa mencengkeram pergelangan tangan Paula.
"Iya, aku masih mencintai Joshep, aku tidak bisa mencintai siapapun lagi karena hanya akan ada dia di hatiku." tegas Paula akhirnya, dia terpaksa mengatakan itu karena ingin Willy berhenti memegangi tangannya dan berhenti menaruh harapan padanya, dia rasa hanya itu sat-satunya cara untuk menghentikan kegilaan Willy.
__ADS_1
"Aku tidak percaya, dia sudah meninggalkan mu dan mencerqaikan mu, membuat mu menderita!" tampik Willy.
"Terserah jika kamu tidak percaya, aku sudah mengatakan yang sejujurnya, aku akan berteriak jika kamu tidak melepaskan tangan ku!" ancam Paula.
"Terimakasih sudah berkata jujur, dan kau--- lepaskan tangannya atau aku tidak akan membiarkan mu melihat matahari esok hari!"
Paula dan Willy serempak menoleh pada asal suara yang trdemngar begitu dekat dengan mereka, rupanya Joshep tiba-tiba sudah berada di sana.
Namun yang paling panik dan wajahnya terlihat pucat adalah Paula, dia tidak menyangka saat dirinya mengucapkan perkataan yang tadinya hanya untuk menggertak Willy, justru malah di dengar langsung oleh Joshep.
Paula bahkan tidak tahu bagaimana nanti dia akan menjelaskannya pada Joshep perihal ucapannya yang mengatakan jika dirinya masih mencintai mantan suaminya itu.
"Joshep!"
"Josh!"
Ucap Paula dan Willy serempak.
__ADS_1