
"Papih?"
"Opa dokter!"
Ujar Joshep dan Kevin secara bersamaan memanggil Frans yang kini sedang duduk di kursi kebesaran yang dulu menjadi tempat kerjanya, namun sekarang sudah menjadi milik putranya.
kini ketiganya saling berpandangan dengan tatapan aneh satu sama lain, tiga pria beda generasi namun memiliki keterikatan darah itu sungguh bak tiga anak kembar namun berbeda usia.
Frans tidak kalah terkejutnya saat melihat Joshep kini datang membawa bocah cilik yang pernah dia temui dan mencuri perhatiannya karena sangat mirip dengan putranya itu, ternyata, kali ini setelah dia melihat secara langsung Joshep dan Kevin secara bersamaan mereka benar-benar terlihat sangat mirip, wajah Kevin benar-benar mirip dengan Joshep saat dia masih kecil.
"Kenapa dokter panggil opa Dokter papih?" tanya Kevin polos sambil menengadahkan wajahnya ke arah Joshep yang bersiri di belakang kursi rodanya.
"Ka-karena itu ayah ku, lantas kenapa kamu memanggilnya dengan sebutan opa dokter?" Joshep menundukkan wajahnya memamerkan wajah bingung dan penasarannya pada Kevin.
"Karena itu opa ku, iya kan opa dokter?" Kevin melemparkan senyumnya pada Frans yang sudah bangkit dari kursinya dan berjalan menghampiri Joshep dan Kevin yang masih tak bergerak di ambang pintu.
Joshep menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dia sungguh tidak tahu jika ayahnya sudah akrab dengan Kevin, bahkan dia tidak keberatan untuk di panggil opa, yang menjadi pertanyaan dalam diri Joshep saat ini, apakah ayahnya itu tahu jika Kevin merupakan putra dari Paula, karena jika ayahnya tahu tentang itum rasanya mustahil ayahnya akan sedekat itu dengan Kevin, mengingat bagaimana ayah dan ibunya sangat membenci Paula, selain karen perselingkuhan yang pernah di lakukan Paula, juga karena telah membuat Joshep menderita setelah penghianatan yang di lakukan Paula terhadap putra kesayangannya itu.
Bahkan orang tuanya sampai enggan mendengar nama Paula di sebut oleh siapapun di rumah saking mereka membenci Paula.
"Kalian kenapa bisa bersama-sama?" tanya Frans menatap Joshep dan Kevin secara bergantian.
"Dokter Smith ingin mengajak ku melihat mobil-mobilan seperti yang opa berikan pada ku, katanya di ruangannya banyak terdpat mobil-mobilan seperti itu." Celoteh Kevin.
"Ternyata Papih yang memberikan semua mobil-mobilan itu pada Kevin?" Joshep terhenyak dan hampir tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
Bagaimana mungkin Frans memberikan koleksi mobil-mobilan kesayangannya pada Kevin yang bukan siapa-siapanya, sementara dia sebagai anak kandungnya saja tidak pernah di izinkan untuk memegangnya sekali pun, dan itu berlaku semenjak dia masih kecil, Frans cukup pelit jika urusan koleksinya.
Frans pasti akan berkata, "Jangan sentuh mobil-mobilan itu, jika kamu mau lebih baik kita beli yang lain!"
Begitu biasanya Frans berkata jika Joshep kecil mulai merengek meminta mobil-mobilan miliknya, dan dia tidak akan mungkin mengalah meski itu dengan anaknya sekali pun, dia lebih memilih untuk membelikan mobil-mobilan yang baru untuk Joshep daripada memberikan mobil-mobilan koleksinya.
"Iya, dia begitu mirip dengan mu, aku ingin menebus rasa bersalah ku karena dulu kamu tidak pernah aku perbolehkan untuk memainkan koleksi ku, meski kamu menangis, bocah ini sangat bahagia ketika aku berikan sebuah mobil-mobilan, katanya itu mobil-mobilan pertama yang dia miliki, aku jadi merasa malu, karena aku memiliki ratusan mobi-mobilan dan hanya aku pajang begitu saja demi ego ku, kasihan dia,,, sebuah mobil-mobilan saja orang tuanya tidak mampu memberikannya, sementara aku,,, punya banyak tapi tidak mau bahkan hanya meminjamkannya pada mu." Frans mengusap kepala Kevin dengan mata yang berkaca-kaca.
__ADS_1
Seperti halnya Joshep, Frans juga merasakan ada getaran aneh saat mengusap kepala Kevin, seperti ada getaran aneh yang tidak bisa dia gambarkan bagaimana rasanya.
"Cih, sungguh aku masih tidak percaya kamu memberikan koleksi mu padanya." decih Joshep, ada rasa iri dalam hatinya bagaimana bisa seorang bocah asing meluluhkan hati ayahnya yang terkenal keras kepala itu.
"Dimana ayah mu boy?" tanya Frans pada Kevin.
"Ayah ku pergi dengan wanita lain, dia sudah tidak menginginkan ku juga ibu ku, dia meninggalkan kami," adu Kevin.
Frans melirik ke arah Joshep memberikan kode lewat matanya seolah bertanya 'apa yang terjadi?' sayangnya Joshep hanya bisa mengangkat kedua bahunya seolah ingin menyampaikan jika dia tidak tahu apa yang terjadi.
Padahal sebenarnya Joshep juga bingung bagaimana harus menjelaskannya pada Frans, terlebih dia juga masih belum begitu paham bagaimana ayahnya dan Kevin bisa se-akrab itu, dan apa ayahnya tahu siapa ibu dari Kevin.
"Apa yang terjadi boy, kau bisa bercerita pada opa mu ini, apa yang bisa opa bantu untuk mu, nak?" Frans berjongkok di hadapan Kevin sehingga kini mereka bisa berbicara dengan sejajar.
"Aku ingin bertemu ayah ku, aku ingin bertanya padanya, mengapa dia meninggalkan aku dan juga ibu." Ujar Kevin dengan nada sedih.
"Dimana aku bisa bertemu dengan ayah mu?" tanya Frans, sungguh hatinya ikut merasa perih saat melihat wajah murung Kevin yang seperti menahan kesakitan dalam dadanya.
'Bocah sekecil itu sudah harus menanggung permasalahan kehidupan yang sangat berat,' batin Frans miris.
"Lantas dimana aku bisa menemui ibu mu?"
Lagi-lagi Kevin menggelengkan kepalanya, "Aku tidak tahu, tadi aku membuatnya menangis karena aku tidak patuh padanya dan terus menanyakan ayah, katanya dia pergi keluar untuk menenangkan diri,"
"Pih, ayolah. Jangan terlalu ikut campur dengan urusan orang lain, tidak baik mencampuri urusan rumah tangga orang, kita hanya orang luar." Cegah Joshep, dia tidak mau Frans sampai bertemu dengan Paula, karena Joshep tidak tahu apa yang akan terjadi jika sampai ayahnya bertemu lagi dengan Paula setelah sekian lama.
"Oh iya, ada apa tumben papih datang ke sini?" sambung Joshep mengalihkan pembicaraan agar Frans tidak lagi membahas mengenai permasalahan Kevin sehingga bisa menghindari pertemuan ayahnya dengan Paula.
"Ah itu, ada hal penting yang ingin aku bicarakan pada mu, tapi mungkin untuk sekarang ini waktunya tidak tepat," Frans melirik ke arah Kevin, seolah ingin mengatakan jika hal yang ingin dia sampaikan itu tidak ingin dia sampaikan di hadapan Kevin, karena tidak pantas di bicarakan di depan anak kecil.
"Aku tidak akan menguping pembicaraan kalian, aku ke sini karena ingin melihat koleksi mobil-mobilan milik dokter Smith." Celoteh Kevin yang merasa sedang di bicarakan oleh Frans, anak itu terlalu cerdas sehingga dapat mengerti apa yang orang dewasa bicarakan, mungkin karena perjalanan hidupnya yang di tuntut dewasa sebelum waktunya.
Joshep dan Frans tertawa mendengar celotehan Kevin, "Baiklah, kau bisa melihatnya di sebelah sana, aku akan mengobrol sebentar dengan opa mu ini." ujar Joshep meledek Frans.
__ADS_1
"Itu salah mu, tidak memberikan ku cucu sampai sekarang, sehingga aku mengangkat dia sebagai cucu, kalau kau tidak segera memberikan ku cucu juga setelah menikah dengan Bella nanti, aku akan memberikan semua warisan ku pada cucu angkat ku itu!" Frans menunjuk Kevin yang sedang asik memainkan beberapa mobil-mobilan yang dia ambil dari rak di pojok ruangan.
"Apa yang ingin papih bicarakan?"
"Apa akhir-akhir ini kamu menemui mantan istri mu lagi?" Tanya frans serius.
Mulut Joshep tiba-tiba terkunci rapat dan sulit untuk berkata-kata, sehingga kini dia hanya bisa terdiam.
"Aku tidak mau hal itu sampai merusak hubungan mu dengan Bella, hanya tinggal selangkah lagi, jangan sampai semua hancur gara-gara wanita penghianat itu," ujar Frans dengan mimik yang sangat serius.
"Aku tidak ada hubungan apa-apa lagi dengannya, hanya pernah bertemu karena anaknya yang sakit, dia sudah berkeluarga." elak Joshep.
"Apalagi dia sudah berkeluarga, jadi jangan pernah kau bermain api, ingat,,, dia wanita yang pernah menghancurkan hidup mu, jangan jadi pria lemah dan mengalah karena cinta bodoh mu itu, rumah sakit ini sudah di tangan mu, dan sebentar lagi akan menjadi milik mu, jangan hancurkan impian yang sudah hampir dalam genggaman ini."
"Impian? Itu impian mu pih, bukan impian ku." seloroh Joshep.
"Diam! Aku melakukan semua ini untuk mu,untuk masa depan mu, jadi patuhlah! jangan berbuat bodoh apalagi karena jal-lang itu!"
"Dia mantan menantu mu, sepertinya kata-kata mu terlalu kasar untuknya!" bela Joshep karena tidak terima Frans menghina Paula.
Tok,,,tok,,,tok,,,
Pertengkaranmereka terhenti seiring suara ketukan pintu di ruangan itu.
"Masuklah!" teriak Joshep.
Mata Frans langsung terbelalak sempurna saat mengetahui yang keluar dari balik pintu adalah Paula.
"Oh,,,begini rupanya,,,! Kalian biasa bertemu di sini secara diam-diam? Dan kau, apa kau masih punya muka menemui anak ku yang kau hianati? Dasar jal---"
"Pih, hentikan! Jangan di teruskan!" Joshep memotong makian Frans pada Paula, karena dia menyadari jika Kevin kini berada di ruangan itu juga, dia tidak ingin Kevin merasa sedih karena ibunya di maki di depan nya, namun ternyata sudah terlambat, karena sepertinya Kevin sudah mendengar semua kemarahan Frans pada Paula.
"Ibu!" panggil Kevin pada Paula, dia turun dari kursi rodanya dan berusaha berjalan untuk memeluk Paula.
__ADS_1
"Ibu?" beo Frans melongo.