
Lampiran-lampiran yang ternyata berisi tentang keterangan jika Joshep dan Paula yang saat ini tidak punya pekerjaan dan tidak akan mampu untuk membiayai Kevin, terlebih pasca operasi Kevin juga masih harus menjalani berbagai serangkaian pemulihan yang tentu saja membutuhkan biaya yang tidak sedikit, hal itu tentu saja menjadi pertimbangan hakim dalam memberikan keputusan, dan tentu saja akan membuat pihak Paula dan Joshep di rugikan dengan fakta-fakta itu.
Sementara Frans juga sudah menjegal usaha anaknya sendiri dalam pendistribusian alat kesehatan, lebih jauh lagi dia juga sengaja melarang rumah sakit-rumah sakit yang di kenal nya untuk tidak mempekerjakan Joshep.
Frans yakin jika semua itu akan membawanya menuju kemenangan, karena posisi Joshep maupun Paula saat ini benar-benar terpojok, menurut pikirnya.
Tapi nyatanya baik Paula maupun Joshep ternyata menyikapi semua itu dengan tenang tanpa menunjukkan ketakutan atau kepanikan sama sekali, bahkan saat istirahat sidang, mereka tetap terlihat kompak untuk tenang meski Frans menghampiri mereka dengan serangkaian intimidasi yang dapat menjatuhkan mental lawan bicaranya jika saja itu bukan Joshep dan Paula.
"Sebaiknya kalian menyerah, jika kalian menyayangi putra kalian, serahkan dia pada ku, aku akan merawat dan membiayai kesehatan dan pendidikannya, kalian tidak akan mampu!" ujar Frans.
"Menyerahkan putra ku? Lantas apa tanggapan Kevin kelak jika sampai dia tahu jika kakeknya lah yang telah membuat orangtuanya terpecah belah dan membuat anak tak berdosa itu tidak mendapatkan kasih sayang yang utuh dari ibu dan ayahnya?" balas Joshep.
__ADS_1
"Tentu saja itu tidak akan pernah terjadi, karena Kevin akan segera tahu jika perpisahan orang tuanya terjadi karena ibunya yang bermain serong dengan pria lain di saat ayahnya menimba ilmu di luar negeri, kau masih punya kesempatan untuk berpindah kubu menjadi di pihak kami, kita akan membesarkan Kevin bersama-sama, tinggalkan wanita itu, dan kau akan kembali melanjutkan karier mu sebagai dokter hebat, tidak apa-apa jika kamu tidak mau menikah dengan Bella, hanya saja jangan dengan wanita itu, kembalilah pada kami!" timpal Bertha, mencoba membujuk putra satu-satunya.
"Maaf, aku tidak bisa kembali pada kalian, dan aku juga tidka mungkin menyerahkan pengasuhan anak ku pada kalian, kalian orang tua egois, menghalalkan segala cara demi uang dan kehormatan, kalian tidak butuh anak atau pun cucu di antara kalian, karena itu hanya akan kalian jadiakan alat untuk mewujudkan mimpi dan keserakahan kalian yang selalu haus akan uang dan pujian, kalian lupa jika aku punya mimpi sendiri, kalian lupa jika aku juga punya keinginan sendiri,,, maaf,,, aku tidak akan pernah membiarkan putra ku hidup dalam neraka yang kalian ciptakan." ujar Joshep.
"Josh, mata mu buta karena cinta sampai kau melihat kami sehina itu, kami yang membiayai mu mengurus mu, kau anak durhaka!" Bertha terisak.
"Mih, apa yang salah dengan cinta aku dan Paula? Apa karena Paula bukan dari keluarga kaya raya seperti yang kalian harapkan untuk menjadi menantu kalian, lantas kalian dengan seenaknya menjebak menantu kalian sendiri dan menghancurkan rumah tangga kami, yang mungkin kalian lupa, saat itu kalian juga menghancurkan anak kalian sendiri, apa aku tidak boleh marah karena diperlakukan seperti itu?"Joshep berapi-api, sementara Paula terus mengusap punggung Joshep agar suaminya itu menurunkan emosinya.
"Apa ini? Inikah pria yang Papih sebut-sebut sebagai selingkuhan Paula yang sudah tidur dengan nya itu? Apa Papih yakin jika pria ini bukan orang suruhan kalian yangb sengaja kalian bayar untuk melakukan semua fitnah keji itu?" Joshep mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan sebuah foto seorang pria yang lima tahun yang lalu di dapati Joshep sedang berada di atas ranjang bersama istrinya.
Bertahun-tahun Joshep mencari tahu tentang identitas pria yang pernah dia tuduh sebagai selingkuhan istrinya itu, namun sosok pria itu seakan hilang di telan bumi, beberapa orang dia mintai tolong untuk menemukan pria itu namun hasilnya selalu nihil.
__ADS_1
Sampai pada suatu hari, tepatnya beberapa hari yang lalu atau sehari setelah Joshep memutuskan untuk menikah kembali dengan Paula, saat dirinya dan Paula baru akan kembali ke apartemen selepas menunggui Kevin di rumah sakit, terlihat kerumunan orang di pinggir jalan tepat di pintu masuk apartemen, sehingga menghalangi mobilnya yang akan masuk ke pelataran apartemen, Joshep akhirnya turun melihat apa yang terjadi.
"Tuan, beruntung tuan segera datang, ada pria yang sejak tadi mencari anda, dan dia mengancam akan bunuh diri jika sampai kami tidak mempertemukan dia dengan anda, kami baru akan memanggil pihak kepolisian untuk mengatasi keributan ini, namun syukurlah anda sudah datang." ujar sekuriti apartemen saat bertemu dengna Joshep.
Menurut penuturan pihak keamanan apartemen juga, mereka beberapa kali menghubungi Joshep namun tidak bisa, Joshep mengeluarkan ponselnya dari saku celananya, pantas saja, ponselnya mati.
Joshep berjalan mendekati pria yang berdiri dengan sebuah tongkat di tangan kirinya, pria yang berdiri hanya dengan sebelah kakinya itu dengan tertatih mendekati Joshep.
"Tuan Joshep,,,, akhirnya aku bisa menemukan anda." ujarnya dengan wajah berbinar seperti baru saja menemukan harta karun yang sangat berharga.
Kening Joshep berkerut, "Kau,,," ujarnya seraya mengingat-ingat dimana dia pernah melihat wajah pria yang berada di hadapannya itu, wajahnya seperti tidak asing dalam ingatannya.
__ADS_1
"Ya, ini aku,,, pria yang lima tahun lalu anda lihat bersama istri anda,,," ujarnya lirih.