BELENGGU DENDAM

BELENGGU DENDAM
I feel you,,,


__ADS_3

Setelah berhasil berpura-pura tidak peduli dengan cerita Bella tentang Paula, dan keukeuh mempercayai jika apa yang di alami Paula adalah karma yang di berikan Tuhan sebagai balasan apa yang telah Paula lakukan pada nya lima tahun silam, pertahanan Joshep untuk tetap seolah cuek dan tidak peduli akhirnmya jebol juga malam itu, di kamarnya semalaman dia tidak bisa memejamkan matanya akibat memikirkan nasib tragis yang di alami Paula.


"Pau, apa kau baik-baik saja sekarang?" gumam Joshep dalam renungannya di jendela kamar yang terbuka lebar.


Langit malam yang kelabu tanpa bulan maupun bintang yang menghiasinya membuat hati Joshep semakin melow di buatnya, dia pernah merasakan bagaimana sakitnya di hianati dan itu di lakukan oleh Paula, namun meskipun demikian, tapi Joshep tetap rasanya tidak tega jika Paula harus merasakan kesakitan yang pernah dia rasakan, dan bahkan masih dia tanggung sampai detik itu, dia tidak yakin Paula mampu melewati semua itu.


Apa lagi saat ini Paula juga sedang mengurusi putranya yang sedang sakit, jadi menurut Joshep hal ini pasti akan sangat menyiksa Paula.


*


"Mau kemana, Josh? Pagi-pagi begini sudah rapi saja?" Tanya sang ibu yang tengah menyiapkan sarapan untuk suami dan juga anak semata wayangnya.


"Aku ingin ikut papih ke Permata, rasanya bosan sekali hanya menganggur dan menghabiskan waktu tidak karuan, aku rindu suasana rumah sakit." Ujar Joshep.


Ayah dan ibu Joshep saling melempar pandangannya, mereka merasa aneh sekaligus terkejut karena tiba-tiba saja putra mereka ingin ikut ayahnya ke rumah sakit permata tempat dimana posisi paling tinggi sebenarnya dengan mudah bisa Joshep ambil, namun alih-alih mengambil posisi mentereng itu, Joshep bahkan tidak pernah mau meski untuk sekedar mampir ke Permata, jika tidak ada hal yang sangat penting sekali.


Begitu pun dengan bisnis alat-alat kesehatan yang sejak dulu dia jalani, rumah sakit Permata satu-satunya rumah sakit yang tidak pernah dia juali barang-barangnya meskipun dia akan sangat mudah menjual ke sana, dia tidak mau di cap memanfaatkan kekuasaan ayahnya dan bisnisnya tidak di hargai kedepannya, padahal bisnis itu dia rintis dari semenjak dia kuliah dulu dan benar-benar atas usahanya sendiri tanpa menggunakan koneksi ayahnya.


"Kenapa? Apa ada yang aneh?" Tanya Joshep karena melihat ayah dan ibunya seperti tidak percaya dengan apa yang di katakannya.


"Tidak, tentu saja tidak. Malah bagus kamu ingin ikut papaih ke Permata, siapa tahu kamu tertarik untuk menggantikan posisi Papih di sana, tuan Mark benar-benar tidak ingin memberikan posisi papih pada orang lain, dan memaksa agar kamu mau mengelola rumah sakitnya, lagi pula sebentar lagi, kamu akan menjadi menantunya." kata Ayah Joshep, yang hanya di tanggapi dingin dan acuh tak acuh oleh Joshep.

__ADS_1


Tentu saja dia bersikap acuh dan dingin dengan perkataan ayahnya itu, karena niatnya mendatangi rumah sakit tempat ayahnya memimpin itu bukanlah untuk survey tempat yang mungkin saja akan dia tempati kedepannya, melainkan untuk melihat kondisi Paula.


Joshep memang sudah berjanji apapun yang terjadi dia tidak akan peduli lagi pada Paula, namun apa daya dirinya tak kuasa untuk mengingkari janjinya sendiri yang dia ucapkan untuk dirinya sendiri juga.


Joshep tidak bisa menyiksa diri lebih lama lagi karena menghawatirkan keadaan Paula yang konon katanya baru saja di hianati oleh suaminya itu.


"Pih, aku akan berkeliling melihat-lihat di sekitar sini,"


Baru saja mereka sampai di rumah sakit, Joshep sudah berpamitan apada ayahnya untuk berkeliling rumah sakit, sementara pria itu bahkan belum menginjakan kakinya di ruangan ayahnya sama sekali.


Namun ayah Joshep hanya bisa mengangguk, bagaimana pun Joshep sudah mau datang ke rumah sakit ini saja itu sebuah kemajuan yang baik menurutnya, tanpa dia tahu jika kedatangan Joshep ke sana karena ada udang di balik batu.


Tangan joshep gemetaran saat dia memegang knop pintu dan hendak memutarnya untuk masuk ke dalam ruangan itu, hatinya juga terasa ragu, apakah dia harus masuk dan menemui Paula di sana atau tidak?


Jika pun pilihannya adalah iya, lantas apa yang akan dia katakan pada Paula? Menertawakan kesedihannya? Oh, itu terlalu berlebihan dan sadis, lantas menghiburnya? Memberinya kekuatan? Oh, itu juga terlalu berlebihan, atas apa yang pernah Paula perbuat padanya dulu.


"Maaf Tuan, saya mau masuk!" ujar seorang ibu menepuk punggung Joshep karena saat itu Joshep hanya berdiri di depan pintu cukup lama, sehingga menghalangi jalannya yang akan masuk ke ruangan itu.


"Ah, maaf! Oh iya, apa anak atau kerabat anda di rawat di ruangan ini?' tanya Joshep menunjuk bangsal khusus anak itu.


"Anak saya kebetulan sudah dua minggu berada di sini." jawab ibu itu.

__ADS_1


"Anda satu ruangan dengan Kevin,,, anak laki-laki yang menderita kelainan jantung di sini?" tanya joshep.


"Ya, tapi dia sudah pindah ruangan kemarin sore, pindah ke ruangan yang lebih privat, karena sepertinya ibu anak itu tidak betah menjadi bahan gosip ibu-ibu yang satu ruangan dengan nya di sini, mungkin dia juga tidak ingin putranya ikut mendengar gosip yang tidak enak di dengar itu, sejujurnya aku juga merasa kasihan, dengannya. Baguslah dia memutuskan untuk pindah ke kamar yang tidak harus menyatu dengan pasien lain." urai ibu itu panjang lebar menceritakan pada Joshep.


Joshep menganngguk-anggukan kepalanya dan mendengarkan cerita yang di sampaikan inu itu dengan seksama sampai ibu itu meminta izin untuk masuk dan meninggalkannya yang masih terpaku di muka pintu.


"I feel you, Pau. Kau pasti merasa hancur saat ini."


Lirih Joshep.


Joshep bergegas menuju ke ruang informasi, dia memakai masker dan kacamata hitamnya nya agar wajahnya tidak di kenali, karena dia akan menanyakan diruang mana Kevin di rawat sekarang ini.


"Maaf, aku ingin mengunjungi anak dari teman ku yang baru saja pindah dari bangsal 3, atas nama Kevin Hill, di ruangmana dia di rawat sekarang?" tanya Joshep.


Petugas informasi itu lantas mengotak atik komputer di hadapannya, beruntung dia tidak mengenali jika yang sedang bertenya padanya saat ini adalah putra direktur rumah sakit dan calon menantu pemilik rumah sakit.


"Kevin Hill, pindah ke lantai 6, ruang B6." jawab petugas informasi itu setelah dia menemukan data dimana Kevin di rawat saat ini.


"Lantai 6?" Beo Joshep nyaris tidak percaya.


Lantai 6 merupakan lantai dimana ruangan VIP berada, bukan maksud hati ingin mengecilkan kemampuan Paula dan Adam, hanya saja untuk biaya perawatan di rumah sakit di desa sebelumnya saja Paula sampai harus meminjam uang pada dirinya, lantas bagaimana bisa sekarang ini bahkan Paula menempatkan putranya di kamar VIP yang biaya per-harinya jelas jauh lebih besar puluhan kali lipat di banding biaya rawat inap di rumah sakit di desa, dari mana Paula mendapatkan uang sebanyak itu? Pikirnya.

__ADS_1


__ADS_2