BELENGGU DENDAM

BELENGGU DENDAM
Tutup buku


__ADS_3

"Aku akan mencoba dan berusaha untuk menjadi ayah yang baik untuk Kevin, meski mungkin sosok ayah bagi Kevin hanya untuk mu, tapi aku akan tetap berusaha memberikan yang terbaik untuknya." jawab Joshep.


"Hanya untuk Kevin? Lalu Paula?" tanya Adam.


Joshep terdiam, dia tidak bisa menjawab pertanyaan Adam. Mungkin untuk menjaga dan mencintai Kevin dia bisa berjanji untuk melakukannya pada Adam, namun untuk Paula? Dia bahkan tidak bisa berjanji untuk dirinya sendiri, bayangan Paula yang tengah terbaring nyaris tanpa busana masih sering terbayang di matanya, ingin rasanya dia percaya jika itu semua rekayasa dan jebakan yang di buat oleh orang tuanya, namun sejauh ini belum ada sedikitpun bukti yang menunjukkan semua itu.


"Apa kau pernah melihat orang yang kau cintai tidur dengan pria lain dengan mata kepala mu sediri? Jika berbicara tentang trauma aku yakin kau lebih paham, bukankah kau pernah merasakan trauma saat kehilangan anak dan istri mu?" ujar Joshep.


Kini Adam yang giliran terdiam dengan jawaban yang di berikan Joshep, jika menuruti keegiosan hatinya dia ingin Joshep mengubur kenangan pahit itu dan kembali bersama Paula demi Kevin, namun yang Adam tidak boleh lupakan adalah Joshep manusia biasa yang wajar mempunyai perasan itu.


Tidak adil rasanya jika Adam hanya memikirkan kebahagiaan Kevin dan Paula, dan dia tidak mempedulikan perasaan Joshep yang juga terluka akibat perpisahan itu.


Terlebih dirinya juga sama-sama mengalami trauma meski dalam versi yang berbeda, namun tidak ada obat untuk penyembuhan luka hati dan trauma selain waktu dan keikhlasan dari diri sendiri.


"Baiklah, saya tidak akan memaksakan apapun pada hubungan anda dengan Paula, yang terpenting kalian sama-sama menjaga dan menyayangi Kevin, karena mungkin waktu saya akan banyak berkurang untuknya, meski rasa sayang untuknya tidak akan pernah berkurang." pungkas Adam.


Tidak ada yang lebih baik selain rencana dan skenario Tuhan, bagaimanapun kerasnya Adam menginginkan Joshep dan Paula bersatu kembali, jika Tuhan tidak mengizinkannya semua tidak akan pernah terjadi, berpasrah diri dan mendoakan yang terbaik adalah satu-satunya jalan terakhir yang bisa Adam lakukan untuk kebahagiaan Kevin dan Paula.


Operasi yang berlangsung sekitar 6 jam itu akhirnya selesai juga, namun kondisn Kevin masih belum stabil, bocah itu masih berada di ruang intensif dan masih dalam pengawasan ketat dokter dalam 24 jam, sehingga siapapun belum ada yang bisa menjenguk atau bahkan melihatnya.


Beruntung Joshep masih merupakan pimpinan rumah sakit itu, dan dia juga seorang dokter, sehingga dia mempunyai kelonggaran dan bisa menemui putranya meski hanya dalam waktu yang sebentar saja.


"Bagaimana keadaan Kevin di dalam? Apa dia sudah sadar? Apa dia mencari ku? Tolong izinkan aku untuk melihatnya sebentar saja!" Paula langsung berlari menjegal langkah JOshep yang baru saja keluar dari ruang intensif dimana putra mereka berada.


"Kevin masih belum sadar, dia masih di tidurkan oleh dokter untuk meminimalisir rasa sakit yang akan dia rasakan, terlebih dokter juga masih harus mengobservasi infeksi lain yang terjadi akibat dari evek operasi itu." urai Joshep menceritakan keadaan Kevin saat ini yang baru saja dia kunjungi.

__ADS_1


"Tapi aku ingin melihatnya sekali saja, aku ingin memeluknya," ucap Paula sambil berderai air mata.


Hati Paula terasa tidak karuan karena sampai saat ini belum bertemu putra kesayangannya.


"Kamu belum beristirahat sejak kemarin, sebaiknya kamu istirahat dulu, ayo aku kan mengantar mu." ajak Joshep, namun Paula menggelengkan kepalanya.


"Biar aku menunggunya di sini." lirih Paula.


""Percuma kamu di sini, rumah sakit tidak akan mengizinkan mu untuk menemui Kevin, ayolah. Kevin masih seminggu dalam observasi tim dokter, tidak mungkin kamu akan di sini selama satu minggu bukan?"


"Tapi kamu direktur rumah sakit ini, tidak bisakah kamu mengizinkan ku sekali saja untuk bertemu dengannya?" mobon Paula.


Joshep menghela napasnya dengan berat."Baiklah, sekali saja dan kamu harus pulang."


Mata Paula bebinar, dan langsung mengangguk dengan sangat antusias meski dia juga tidak tahu keman dia harus pulang setelah itu, karena dirinya tidak punya tempat untuk pulang, tapi biarlah itu di pikirkan nanti, yang penting saat ini dia bisa bertemu dengan Kevin dan melihat keadaannya.


Tubuh bocah kecil itu di pasangi berbagai alat di sekujur tubuhnya, membuat Paula merasa miris dan ikut merasakan sakit saat melihatnya. Andai bisa tawar menawar dengan Tuhan, dia rela menggantikan kesakitan yang di derita Kevin asal putranya tidak pernah merasa sakit.


"Ayolah, kita tidak bisa berlama-lama di sini. Kasihan dia, ini untuk kebaikan putra kita." ajak Joshep yang juga menemani Paula di dalam sana.


Tempat itu memang merupakan tempat steril dan tidak sembarangan orang boleh masuk ke dalamnya, pengecualian yang dia berikan pada Paula juga sebenarnya tidak akan di perbolehkan jika saja Joshep bukan direktur rumah sakit itu.


"Kemana aku harus mengantar mu pulang?" tanya Joshep saat dia berada di loby rumah sakit.


"Emh-- aku pulang sendiri saja." jawab Paula, karena dia sendiri pun bingung tidak punya tujuan untuk pulang.

__ADS_1


"Apa kau yakin?" tanya Joshep.


Paula mengangguk, "Aku tidak mempunyai tempat tinggal di sini, mungkin aku akan mencari penginapan yang berada dekat rumah sakit sini agar aku tidak kesulitan saat hendak menemui Kevin."


"Aku tau tempat yang kamu mau, ayo aku antar melihat penginapan itu, lagi pula Adam sudah menitipkan mu sebelum dia pergi, jadi aku hanya ingin memenuhi amanat yang di berikan Adam pada ku. Itu saja, tidak lebih!" kata Joshep tidak ingin Paula salah tangkap dengan sikapnya ini.


**


"Terimakasih, tempatnya lumayan baik dan tidak mahal, yang paling penting lagi, dekat dengan rumah sakit." ujar Paula sambil terus melihat-lihat suasana kamar yang dia sewa selama satu minggu ke depan itu.


"Syukurlah kalau kamu suka dan cocok dengan tempatnya, aku akan sering mengabari mu mengenai perkembangan kondisi Kevin." ujar Joshep yang di jawab dengan anggukan kepala Paula.


"Ah iya,,, kata Adam, kamu sudah mengetahui kondisi kelainan jantung Kevin sejak dalam kandungan? Apa yang membuat mu untuk tetap mempertahankannya, padahal kamu tahu akan sangat sulit membesarkan anak dengan kondisi yang istimewa seperti Kevin?"


Joshep teringat dengan penggalan cerita Adam tentang itu, bukannya dia tidak percaya dengan apa yang di ceritakan Adam, hanya saja dia ingin mendengar sendiri jawaban dari mulut Paula secara langsung, benarkah Paula mempertahankan Kevin saat itu karena dia ingin kenangan cinta mereka terabadikan lewat buah hati mereka itu.


"Dokter memberi tahu tentang kelainan jantung bawaan itu saat Kevin berusia sekitar 6 bulan dalam kandungan ku, saat itu dokter menawarkan untuk mengeluarkan janin dengan sederet penjelasan yang saat itu dokter katakan pada ku, aku sempat ingin mengikuti anjuran dokter itu, karena takut jika aku tetap mempertahankan kandungan ku, anak ini akan menderita denga penyakitnya, berbagai bayangan buruk pun hadir di kepala ku, namun saat itu Kevin seperti menggeliat-geliat dan menendang di dalam perut ku, membuat aku yakin jika dia ingin di lahirkan ke dunia ini untuk membawa kebaikan dengan segala keterbatasan yang di milikinya. Aku tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini selain dia, jadi aku putuskan untuk tetap mempertahankannya apapun yang akan terjadi di kemudian hari pada kami." beber Paula panjang lebar.


Joshep mengernyit, kenapa dia tidak menemukan kata-kata yang Adam sampaikan padanya jika Paula mempertahankan Kevin karena bentuk cintanya pada dirinya, padahal Joshep sangat ingin mendengar bagian itu, meski keseluruhan cerita yang di sampaikan Paula juga sangat menyentuh dirinya.


"Aku pikir, kamu mempertahankan Kevin karena dia anak ku." celoteh Joshep.


"Hahaha,,, justru itu satu-satunya yang aku sesali, namun sayangnya saat lahir wajahnya sangat mirip dengan mu, beruntung saat kamu bertemu dengannya pertama kali tidak menyadarinya bahkan mengira jika dia anak ku dengan pria lain!" sindir Paula yang langsung membuat wajah Joshep memerah karena merasa malu akan kelakuannya yang pernah mengira Kevin anak hasil selingkuhan Paula dengan pria lain, padahal saat ini setelah dia sering melihat Kevin, di baru menyadari jika melihat wajah Kevin bak melihat dirinya di cermin.


"Aku memang bersalah, namun syukurlah setidaknya da yang tersisa dari hubungan kita, sebagai bukti jika kita pernah saling---"

__ADS_1


"Josh,,, jangan ungkit masa lalu, Kevin memang putra mu, tapi masa depan mu harus kamu pikirkan juga, kamu akan bertungan dengan Bella nantinya, jangan kecewakan hatinya, dia tidak bersalah dan tidak ada hubungannya dengan cerita masa lalu kita yang sudah tutup buku, saatnya kamu memulai cerita mu yang baru, aku yakin kamu akan lebih bersinar dalam segala hal jika bersama Bella, aku mendukung mu, suatu saat Kevin juga akan bangga saat tahu jika ayahnya seorang yang hebat!" potong Paula dengan nada serius membuat Joshep menghentikan kata katanya daan langsung memasang wajah kecewa saat mendengar ucapan Paula padanya.


__ADS_2