
"Hentikan! Kau boleh menghina ku, tapi tidak putra ku, dia sama sekali tidak mempunyai salah pada mu, dia menerima perjodohan itu karena paksaan dari ku, dan tentang bisnis itu, anak ku tidak terlibat sedikit pun!" ujar Frans dengan suara lantang meski agak bergetar.
"Papih!" panggil Joshep yang juga kini sudah sampai di kantor polisi dan berada di ruangan yang sama dengan Frans da juga Mark, calon mertuanya yang tidak jadi.
"J-Josh,,, k-kamu,,, untuk apa kamu ke sini? Apa kamu datang untuk mentertawakan ku?" Frans yang merasa kaget dengan kehadiran putranya di sana, seketika menutupinya dengan ucapan sinis yang sengaja dia layangkan pada putra satu-satunya itu.
"Aku datang untuk melihat keadaan anda dan juga mendampingi anda, bukan untuk mentertawakan atau maksud lainnya, hanya ingin memastikan juga jika keadaan anda baik-baik saja." jawab Joshep tidak terpancing dengan ucapan sinis ayahnya.
Joshep tau jika saat ini ayahnya itu pasti hatinya tengah drop dengan kejadian tidak terduga ini, tanpa perlu melawan kata-kata sinisnya pun Joshep yakin jika Frans sudah sangat terpukul, apalagi jika sampai ayahnya itu tahu jika ibunya kini juga sedang di rawat di rumah sakit akibat mengetahui berita penangkapannya ini.
"Aku tidak butuh di temani atau di khawatirkan oleh mu, tapi jika kau memang ingin menunjukkan bakti mu pada orang tua mu, sebaiknya kau pulang dan temani ibu mu saja, sepertinya dia lebih memerlukan pendampingan, dia pasti sangat syok mengetahui berita ini," kata Frans yang tidak mengetahui jika istrinya kini tengah terbaring tak sadarkan diri di rumah sakit.
"Istri ku sedang sudah berangkat ke sana untuk menemani mami," jawab Joshep.
"A- apa maksud mu Paula?" kaget Frans lagi.
"Oh ayolah pih, aku hanya punya satu istri, tentu saja Paula, kami sudah sepakat untuk berbagi tugas, aku menemani anda, dan Paula menemani mami." Joshep setengah berkelakar sedikit mencairkan suasana yang terasa semakin menegang.
__ADS_1
"Cih, beruntung putri ku tidak jadi menikah dengan mu, jika tidak--- lihatlah betapa putri ku pasti akan sangat di permalukan punya mertua yang ternyata penjahat, dan suami yang pengangguran juga mempunyai anak haram seperti mu." cibir Mark yang masih berada di sana dan mendengarkan perbincangan anatara Frans dan Joshep.
"Maaf tuan, anak saya bukan anak haram, dia terlahir dari hasil pernikahan aku terdahulu, dan asal anda tahu, kini aku juga merasa sangat beruntung tidak jadi menikah dengan putri anda, karena istri ku yang sekarang ini sangat pengertian dan mencintai ku baik itu dalam keadaan susah maupun senang, dia tidak pernah mengeluh atas apa yang terjadi baik dengan ku maupun keluarga ku, kami sangat bahagia, namun demikian aku juga mendoakan agar Bella mendapatkan pendamping hidup yang bisa membuatnya bahagia." kata Joshep tenang tanpa emosi sedikit pun membalas perkataan sinis Mark, membuat pria setengah baya itu merasa kesal namun juga tidak berkeinginan untuk melanjutkan perbincangannya baik itu dengan Joshep maupun Frans.
Saat ini dengan berhasilnya memenjarakan Frans, hati Mark sudah cukup bahagia dan puas karena setidaknya dia bisa mengembalikan rasa malu yang pernah Frans berikan pada keluarganya saat pembatalan pernikahan beberpa waktu lalu, Mark merasa jika hal ini cukup adil dan setimpal. Mark pun segera pergi meninggalkan ruangan itu.
"T-tuan Mark,,, tunggu! Aku ingin berbicara pada mu." Alex memanggil dan menghentikan langkah Mark yang sontak membalikkan tubuhnya kembali menoleh ke arah Alex.
"Apa lagi yang ingin kau bicarakan dengan ku?" tanya Mark dengan wajah datar dan dinginnya.
"A-apa tidak sebaiknya kita berbicara di tempat lain?" tanya Alex.
Alex lantas menjauh dari Frans dan yang lainnya menuju ke pojok ruangan untuk berbicara dengan Mark.
"Mengenai uang yang anda janjikan pada ku, kata istri saya,,, uangnya belum masuk ke rekening, dan pengacara yang anda janjikan untuk membebaskan ku dari sini, mengapa sejak pagi tidak kunjung datang? Lihatlah, aku bahkan malah di borgol seperti tersangka layaknya Frans!" Alex menunjuk Frans yang sedang di interograsi oleh polisi dengan dagunya yang di majukan.
"Uang? Uang apa?" tanya Mark seraya mengerutkan keningnya.
__ADS_1
"Tuan,, jangan main-main, tentu saja uang yang anda janjikan pada ku jika aku mau membongkar dimana pabrik obat-obatan terlarang milik dokter Frans dan anda juga menjanjikan akan mengirim pengacara hebat untuk membebaskan ku dari segala tuduhan." Alex mulai ketar ketir karena sepertinya Mark melupakan janji yang pernah dia ucapkan padanya.
Alex dijanjikan Mark akan mendapat sejumlah uang yang akan di transfer langsung ke rekening istrinya dan juga di jamin tidak akan ikut terseret dalam kasus ini, belum lagi Alex juga di janjikan akan mendapatkan posisi direktur utama rumah sakit Permata seperti yang dia inginkan selama ini setelah semua masalah penangkapan frans selesai.
"Kau sudah mendulang banyak uang dari bisnis haram mu yang bertamengkan rumah sakit milik ku, lantas kau juga ingin di bebaskan dari semua tuntutan perbuatan jahat mu? Apa kau sedang bermimpi? Kau pikir kau ini siapa?" tunjuk Mark ke wajah Alex yang sontak saja wajahnya langsung berubah pias.
"A-anda menipu ku? Aku sudah membantu anda membalaskan dendam pada dokter Frans, tapi kini anda malah menjebloskan ku juga dalam penjara? Anda mengiming-imingi ku dengan janji palsu?" geram Alex yang tiba-tiba kepalanya terasa pusing, dan badannya terasa panas dingin saat sadar jika Mark ternyata hanya memperalatnya saja.
"Hahaha,,, sungguh menyenangkan sekali rasanya menipu penjahat licik dan serakah seperti mu, jika kau bisa menghianati Frans yang sudah membantu menaikkan jabatan mu dan juga memberi mu banyak imbalan dari bisnis kalian, maka suatu hari nanti aku yakin kau akan melakukan hal yang sama pada ku, aku hanya berjaga-jaga agar itu tidak akan pernah terjadi pada ku!" ujar Mark dengan seringaiannya.
"Sialan kau Mark! Aku akan membunuh mu! Kau menipu ku, berengsek!" maki Alex yang hanya di tanggapi oleh punggung Mark karena pria itu langsung berbalik badan dan meninggalkan Alex dengan segala kemaran dan kekecewaannya.
Sementara di rumah sakit,
Paula sedang berdiri di depan pintu ICU yang tertutup dimana Bertha sedang di rawat di dalamnya, tidak ada orang lain yang menunggui ibu mertuanya itu selain dirinya di sana.
Sepuluh menit kemudian, pintu ruangan itu terbuka, seorang dokter keluar dengan wajah yang muram.
__ADS_1
"Bagaimana kondisi pasien, dokter?" tanya Paula yang segera berhambur mendekati dokter yang baru saja keluar ruangan itu.
Namun alih-alih segera menjawab, dokter itu malah menarik nafas dengan sangat dalam seperti berat untuk menyampaikan jawaban yang di tanyakan Paula padanya.