BELENGGU DENDAM

BELENGGU DENDAM
Sebaiknya sadar diri!


__ADS_3

Baik Paula maupun Willy tidak pernah menyangka jika Joshep akan tiba-tiba berdiri di samping mereka dan mendengarkan percakapan mereka.


Dalam hal ini Paula tentu saja menjadi orang yang paling terkejut dengan kehadiran Joshep mengingat tadi baru saja dia mengutarakan pada Wuilly jika dirinya masih mencintai Joshep.


"Josh, lepaskan tangan ku!" rengek Paula karena Joshep menariknya dengan paksa keluar dari kafe itu.


"Kenapa? Masih ingin berduaan dengan Willy? Bukanah kau tadi bilang jika masih mencintai ku? Tidakkah seharusnya kamu senang bersama ku?" ujar Joshep.


"Josh, kamu salah paham. Aku mengatakan semua itu karena aku bingung mencari alasan untuk menolak cinta Willy, itu hanya alasan yang aku buat-buat saja." terang Paula.


"Setidaknya dengan menggunakan alasan masih mencintai ku, kamu bisa menolaknya, jadi dalam hal ini aku masih bisa di katakan orang yang berjasa, temani aku makan!" ajak Joshep.


Paula tidak bisa menolak ajakan Joshep, terlebih apa yang di katakan Joshep barusan adalah benar, mantan suaminya itu bisa di katakan berjasa karena telsh di jadikan alasan olehnya untuk menolak pernyataan cinta Willy.


"Duduklah!" ujar Joshep saat mereka sampai di sebuah restoran yang letaknya tidak begitu jauh dari kafe tempat APula dan Willy berteu sebelumnya.


"Emhhh,,, itu,,, aku--- aku minta maaf dan jangan berpikiran yang tidak-tidak atas ucapan ku tadi, itu hanya,,, hanya---" gugup Paula tidak ingin Joshep salah paham.


"Sudahlah, aku tahu. Sekarang sebaiknya kamu makan dulu." Joshep menyodorkan sepiring makanan yang baru saja di antar pramu saji ke hadapan Paula.

__ADS_1


Tidak banyak yang di bahas pada acara makan mereka saat itu, hanya membicarakan masalah perkembangan kondisi Kevin, selebihnya mereka lebih banyak terdiam, entah menikmati makanan yang terlalu enak atau malah bingung harus membicarakan apa.


Joshep juga tidak sedikit pun menyinggung kembali perihal ucapan paula tadi, bahkan sampai mereka berpisah di ujung jalan tempat tinggal Paula.


"hati-hati, maaf aku tidak mengantar mu sampai rumah," Joshep melambaikan tangan dari dalam mobilnya.


Langkah Paula terasa sangat ringan, hanya acara makan siang bersama Joshep saja entah mengapa bisa membuatnya merasa sangat senang, sehingga senyuman tidak lepas dari bibirnya di sepanjang langkahnya menuju rumah kontrakannya yang hanya beberapa meter saja dari jalan raya.


Namun senyuman yang sejak tadi menghiasai bibir paula kini terpaksa harus hilang saat dia melihat seorang pria berdiri di depan pintu rumah kontrakannya sambil menatapnya dengan tatapan tidak bersahabat.


"Tu-tuan Frans?" gumam Paula kaget, karena tiba-tiba mantan mertuanya ada di hadapannya, entah dari siapa pria tua itu mendapatkan info tempat tinggalnya yang baru beberapa hari di tempatinya itu.


"Janji?" beo Paula.


"Ya, janji mu pada ku sebelumnya yang katanya tidak akan mendekati putra ku lagi dan membantu ku agar Joshep mau bertunangan dengan Bella, tapi nyatanya aku melihat mu sedang makan romantis berdua dengan putra ku!" kata Frans.


"A-anu itu---- aku dan Joshep tidak sengaja bertemu, kami tidak janjian. Lantas untuk masalah pertunangan Joshep dengan Bella, aku merasa tidak berhak untuk ikut campur apalagi memaksanya untuk melakukan itu, meskipun aku juga pernah menyarankan padanya untuk melakukan pertunangan itu dengan Bella, tapi lagi-lagi semua itu hak Joshep, aku tidak bisa memaksakan padanya." ujar Paula.


"Kau memang pandai beralasan. Dulu, putraku hampir saja gagal menjadi dokter karena enggan untuk berkuliah terpisah jauh dari mu, beruntung kau dapat aku singkirkan cepat-cepat, kini setelah dia hampir saja memiliki rumah sakit ternama, dia harus bena-benar gagal karena kau kembali merusak masa depan nya. Apa kau puas melihat kini dia menjadi pengangguran karena jabatannya sudah di copot setelah dia membatalkan pertunanganya, karirnya hancur sekarang ini, tidak akan ada rumah sakit yang mau menerimanya untuk bekerja, tuan Mark sangat marah padanya." urai Frans penuh emosi.

__ADS_1


Paula terdiam, jujur saja dia benar-benar tidak tahu jika Joshep ternyata membatalkan pertunangannya dengan Bella dan juga telah di berhentikan dari rumah sakit Permata, selain dirinya tidak pernah menanyakan masalah pribadi Joshep, Joshep juga tidak pernah bercerita tentang itu semua, hubungan mereka kini memang mulai agak membaik, tapi pembicaraan mereka anya seputar perkembangan kondisi putra mereka, tidak lebih.


"Aku sudah mengajukan hak asuh cucu ku. Aku tidak sudi cucu ku hidup dalam kemiskinan dan kesusahan bersama mu," seorang pria yang datang bersama Frans memberikan sepucuk amplop putih yang ternyata berisi surat gugatan hak asuhh yang di ajukan pihak Frans pada pengadilan.


"A-apa ini?" gugup Paula.


"Itu surat gugatan hak asuh nyonya, saya pengacara tuan Frans, untuk kedepannya mungkin kita akan sering bertemu di pengadilan." pria berjas rapi dan berkaca mata itu menganggukan kepalanya.


"Aku tau, tapi mengapa tiba-tiba ada seperti ini? Bahkan Kevin saja masih belum sadar saat ini. Kenapa harus di perebutkan? Lagi pula selama ini dia tinggal bersama ku." ujar Paula, dia tidak menyangka jika apa yang dia taktkan ternyata terjadi juga.


"Bukankah itu baik untuk kevin? Jika gugatan ku di kabulkan pengadilan, maka hidupnya akan terjamin, dan kesehatannya juga akan mendapatkan perawatan terbaik, masa depannya pun akan sangat cerah di bawah asuhan keluarga kami, sementara kau? Tempat tinggal dan pekerjaan saja tidak punya, bagaimana kau bisa merawat dia kelak?" ejek Frans dengan pandangan yang terlihat jijik.


"Tidak,,, tidak ada yang boleh mengambil Kevin dari ku, dia anak ku!" teriak Paula.


"Tapi dia juga cucu ku, dan dia berhak mendapatkan kehidupan yang layak! Kau jangan egois!" tunjuk Frans.


"Nyonya, jika anda merasa keberatan, anda bisa mengungkapkannya di pengadilan." kata pria yang mengaku pengacaranya Frans itu.


"Percuma saja, kau tidak akan menang melawan kami, lihatlah siapa diri mu dan siapa kami, ada baiknya kau sadar diri!!" maki Frans sambil berlalu meninggalkan rumah kontrakan Paula.

__ADS_1


__ADS_2