BELENGGU DENDAM

BELENGGU DENDAM
Hari baru


__ADS_3

"Aku bersedia menerima apapun keputusan mu, Paula, tapi aku mohon kamu jangan menyalahkan diri mu sendiri." sambung Joshep dengan mata memohon dan pasrah dengan apapun yang akan menjadi keputusan Paula nantinya untuk dirinya dan juga untuk hunbungan mereka kelak kedepannya.


Melihat Joshep bersimpuh di hadapannya tentu saja membuat Paula merasa sedih dan sakit hati, tentu saja dia sadar dan sangat tau jika semua itu bukan kesalahan Joshep, namun mengingat kembali bagaimana ayahnya kesakitan di akhir hayatnya membuatnya semakin di liputi perasaan bersalah pada almarhum ayahnya saat ini.


"Lantas siapa yang harus aku salahkan? Aku harus bagaimana?"tanya Paula meluruh dari tempatnya duduk dan kini ikut bersimpuh di lantai.


Joshep kembali memeluk Paula yang kini tepat berada di hadapannya itu, mereka saling berbagi kesakitan dalam isak tangis, keduanya bahkan kini sudah tak mampu lagi berkata-kata, meski hanya ada suara isakan di antara keduanya yang terdengar, namun percayalah dalam batin mereka masing-masing sekarang ini mereka sedang berteriak kencang mengeluarkan semua marahnya.

__ADS_1


"Mari kita lupakan masa lalu. Kepergian ayah ku karena cinta kita akan terasa sia-sia jika kita pada akhirnya kembali berpisah, aku yakin ayah ingin melihat kita bahagia, mari kita tebus pengorbanan ayah dengan cinta kita yang lebih kuat lagi, demi ayah,,, demi Kevin." ujar Paula setelah mereka lama saling terdiam.


Paula sudah memutuskan untuk mengakhri dendam yang membelenggu di hatinya, meski begitu itu bukan berarti dia melupakan dan memaafkan apa yang Frans lakukan pada ayahnya, dia hanya ingin memulai semuanya dari awal lagi sesuai kesepakatannya dengan Joshep saat mereka memutuskan untuk menikah kembali untuk kedua kalinya.


"T-tapi,,,bukankah jika terus bersama ku, itu artinya kamu akan seperti memeluk duri selama hidup mu? Aku tidak ingin menyakiti mu dengan memaksakan mu untuk tetap hidup bersama anak dari pembunuh ayah mu." kata Joshep.


"Yang bersalah ayah mu, bukan kamu. Lagi pula aku hanya ingin memulai hidup ku tanpa perasaan dendam. Jikapun ayah mu bersalah, biarlah Tuhan yang membalas dan memberi hukuman pada nya, aku yakin keadilan itu akan datang cepat ataupun lambat." kata Paula dengan lugas dan sangat yakin.

__ADS_1


 "Tidak perlu, aku tidak mau suatu saat Kevin tahu jika kedua orang tuanya telah menjebloskan kakeknya ke penjara, aku tidak mau menabur bibit kebencian dan dendam di hati Kevin apalagi jika sampai dia tahu kejadian sebenarnya, biarlah semua ini kita tutup buku sampai di sini saja, selesai di kita tidak usah di buka lagi." urai Paula memberikan alasannya.


Joshep tersenyum haru, betapa istrinya mempunyai hati yang sangat lapang dan luas seluas samudera, apa yang di lakukan ayahnya adalah kejahatan yang sangat menyakitkan bagi Paula, namun istrinya tidak serta merta mendahulukan egonya sendiri, melainkan mementingkan mental anak mereka kelak.


Benar, Paula tidak ingin Kevin tubuh menjadi sosok pembenci, dia tidak ingin putranya memiliki dendam di hatinya seperti apa yang dia miliki selama ini, itu terasa menyiksa dan menyakitkan, Paula juga bahkan memutuskan untuk melepaskan rasa dendam di hatinya, setidaknya pertanyaan besar tentang apa yang terjadi pada ayahnya kini sudah terjawabkan, dan kebencian juga kecurigaannya pada Frans selama ini juga ternyata tidak salah sasaran, dia sudah membenci orang yang memang sepatutnya dia benci, sementara untuk hukuman bagi Frans, dia menyerahkan semuanya pada Tuhan, karena dia yakin, seadil-adilnya hukuman adalah hukuman yang berasal dari Tuhan.


"Terima kasih, aku tau ini tidak mudah bagi mu, tapi kamu telah sudi untuk memberi ku kesempatan dan tempat di kehidupan mu, aku tidak akan berbuat bodoh untuk kedua kalinya, aku berjanji!" Joshep menggenggam erat kedua tangan Paula, seraya menyakinkan istrinya itu jika janji yang di ucapkannya itu adalah sebuah ketulusan hatinya dan dia akan menepatinya.

__ADS_1


"Terkadang,,, memang ada baiknya kita menoleh ke masa lalu untuk melihat ke belakang dan mengukur seberapa jauh jalan yang sudah kita tempuh, seberapa sulit dan seberapa menyakitkannya apa yang telah kita lalui, namun,,, jika kita menatapnya terlalu lama, kita akan kehilangan momentum baik yang ada di depan kita, dan aku tidak mau kehilangan itu lagi, bukankah spion hanya untuk di lirik sesaat dan seperlunya saja, bukan untuk di tatap." ujar Paula dengan senyuman pertamanya dalam menjalani hari dengan hati yang tanpa dendam di dalamnya.


"Aku mencintai mu, sangat mencintai mu lebih dari apapun, betapa bodohnya aku telah melepaskan mu lima tahun yang lalu, maafkan aku yang terlalu bodoh saat itu." lirih Joshep mendekatkan wajahnya ke wajah Paula, lantas mengecup bibir istrinya dengan sangat dalam.


__ADS_2