
"Ada apa?" tanya Paula sesaat setelah Joshep menerima panggilan telepon dari asisten rumah tangganya yang menceritakan apa yang terjadi pada ibu dan ayahnya, wajahnya terlihat sangat pucat namun tidak berani berkata apapun pada Paula.
"Itu,,,, emh,,, papi dan mami ku---" Joshep tidak melanjutkan kata-katanya, sungguh dia keningungan harus bagaimana cara dia menyampaikannya pada Paula.
"Aku sudah menonton berita papi mu, tadi aku tidak sengaja melihat beritanya di ponsel." ujar Paula yang sebelumnya tidak pernah sama sekali mengikuti berita apapun mengenai Frans atau segala hal yang berhubungan dengan mertuanya itu, hanya saja beberapa saat lalu banyak yang men tag dirinya pada media sosial dan menampilkan berita mengenai penangkapan Frans pada saat siaran langsung tadi, sehingga mau tidak mau Paula akhirnya mengetahui berita yang kini menjadi tranding topik dan menggegerkan semua kalangan itu.
"Aku malah belum melihat beritanya, tadi asisten rumah tangga di rumah mengabari jika mami di larikan ke rumah sakit setelah mendengar berita penangkapan papi. Tolong beri tahu aku, aku harus bagaimana?" tanya Joshep.
Paula terdiam sejenak, "Kamu pergilah menemui papi mu di kantor polisi, dan aku akan melihat kondisi mami mu di rumah sakit, biar aku menjemput Kevin dari rumah sakit nanti." ujar Paula.
Oh iya, Kevin sudah mulai masuk sekolah, nocah itu sangat senang karena akhirnya bisa seperti anak-anak lain yang seusianya yang sudah mulai beraekolah, meski kegiatannya masih terbatas dan tidak di perbolehkan mengikuti kegiatan-kehiatan fisik yang terlalu melelahkan.
"K_kamu mau menjenguk mami di rumah sakit?" tanya Joshep terheran, sungguh dia tidak menyangka jika Paula mau melakukan itu, padahal jika pun Paula bersikap acuh dan tak peduli atau bahkan berbahagia sekalipun dengan apa yang menimpa orangtuanya saat ini, demi Tuhan Joshep tidak aakn menyalahkan Paula sama sekali, dia dapat mengerti akan apa yang di rasakan dan di alami istrinya selama ini.
"Tentu saja, bukankah kamu tidak bisa berada di dua tempat dalam satu waktu, kamu tidak bisa membelah diri kan?" canda Paula terkekeh.
"M-maksudku,,, apa tidak apa-apa? Apa itu tidak memberatkan mu?" tanya Joshep lagi ragu-ragu.
__ADS_1
"Sudahlah, jangan terlalu banyak pikiran, cepat,,, kita harus segera bagi tugas!" Paula beranjak dari sofa tempatnya tadi duduk berdua dengan Joshep.
"Pau, terimakasih! Entah bagaimana aku harus membalas kebaikan mu," Joshep memeluk tubuh istrinya, dia sungguh terharu dengan apa yang di lakukan istrinya, dia bahkan menyingkirkan ego dan rasa bencinya hanya untuk membantunya.
"Josh, kita ini suami istri, kita adalah satu tim yang sama, saling membantu adalah kewajiban bagi kita, jangan terlalu menganggap ini adalah sesuatu hal yang berlebihan, aku melakukan ini untuk mu, aku melakukan ini karena aku adalah istri mu, bukan untuk siapa-siapa." ujar Paula membalas pelukan hangat suaminya dan mencoba untuk memberi suaminya kekuatan.
Paula sangat tau jika saat ini suasana hati suaminya sedang kacau, dia pun dapat mengerti dengan itu, bagaimana pun Joshep adalah seorang anak, dia tidak bisa begitu saja membiarkan orangtuanya berada dalam kesulitan sendirian, terlebih dirinya merupakan anak tunggal, jika bukan dirinya maka tidak ada anak lain yang akan mengurusi ayah dan ibunya pada saat-saat begini.
**
Di kantor polisi,
Kedua tangannya di borgol, sementara tubuhnya di seret paksa oleh para petugas kepolisian karena kakinya menolak untuk berjalan, sungguh keadaannya saat ini sangat menyedihkan, meski arogan dan sikap sombongnya masih tersirat dengan jelas dari tutur kata dan sikapnya.
Saat Frans sampai di ruang interogasi, matanya membelalak sempurna, wajahnya langsung memerah, tubuhnya meronta hebat, "Alex? Jadi kau orangnya, di balik penangkapan ku ini? Sialan,,, kau memang kurang ajar, kau bagai ular berbisa yang mematuk tangan tuan mu yang selalu memberi mu makan!" umpat Frans seraya mendekat ke arah Alex.
Andai saja kedua tangannya tidak terborgol, mungkin kedua tangan keriput itu akan di gunakannya untuk menyerang Alex yang dia tuduh sebagai biang kerok atas penangkapannya ini, Frans berpikiran jika Alex membongkar bisnis haram mereka sebagai protes karena janji posisi direktur utama Permata yang tidak kunjung dia dapatkan.
__ADS_1
Namun orang yang dimaki oleh Frans, yaitu dokter Alex hanya bisa menundukkan kepalanya, dia bahkan tidak berani menatap wajah Frans, apalagi membalas kata-kata makian yang di tujukan padanya.
"Cepat bicara kau bajing_an! Apa maksud mu melaporkan ku? Cepat cabut laporan mu, katakan jika aku tidak ada hubungannya dengan ini semua!" Bentak Frans penuh emosi.
Namun tiba-tiba Alex justru mengangkat kedua tangannya ke hadapan Frans, menunjukkan kedua tangannya yang juga terborgol seperti kedua tangan Frans. Alex seperti ingin menunjukkan pada Frans jika saat ini dirinya pun bernasib sama, yaitu sama-sama sebagai tersangka.
Frans mengernyitkan keningnya, jika Alex juga sama-sama sebagai pesakitan seperti dirinya saat ini, lantas siapa orang yang telah membongkar bisnis haramnya yang sudah di jalaninya selama bertahun-tahun dan di jalaninya dengan sangat rapi itu? Pikirnya.
"Hahaha,,, kalian sampah-sampah rumah sakit yang hanya mencoreng citra baik dokter-dokter di dunia ini, dan menggunakan rumah sakit ku sebagai tameng untuk menjalankan bisnis haram kalian, tentu saja aku tidak akan membiarkan itu semua terjadi lebih lama lagi!" Mark tiba-tiba muncul dari balik pintu ruangan, dengan tawa merendahkan dan pandangan jijiknya.
"T-tuan Mark!" gagap Frans, dia tidak menyangka justru Mark lah yang ternyata sudah melaporkan dirinya dan membongkar bisnis haramnya tersebut.
Namun masih ada satu ganjalan yang membuat Frans merasa penasaran, yaitu tentang dari mana Mark mengetahui tentang itu semua, secara selama ini dia bahkan berhasil menutupi kejahatannya dari semua orang, termasuk dari pemilik rumah sakit tempatnya bekerja itu.
"Manusia-manusia serakah, beruntung aku tidak jadi menikahkan putri ku dengan anak durhaka mu itu, kalian sekeluarga memang tidak tahu diri dan bejat, jangan-jangan anak mu juga bandar obat terlarang seperti mu!" cibir Mark.
"Hentikan! Kau boleh menghina ku, tapi tidak putra ku, dia sama sekali tidak mempunyai salah pada mu, dia menerima perjodohan itu karena paksaan dari ku, dan tentang bisnis itu, anak ku tidak terlibat sedikit pun!" ujar Frans dengan suara lantang meski agak bergetar.
__ADS_1
"Papih!" panggil Joshep yang juga kini sudah sampai di kantor polisi dan berada di ruangan yang sama dengan Frans da juga Mark, calon mertuanya yang tidak jadi.