BELENGGU DENDAM

BELENGGU DENDAM
kau tidak penting


__ADS_3

"Kevin,,,! Bagaimana keadaan Kevin sekarang? Tolong aku ingin bertemu Kevin, aku harus melihatnya, aku harus menemuinya!" teriak Paula saat dia tersadar dari pingsannya.


"Pau,,, tenang dulu, Kevin masih berada di ruang intensif, belum ada yang boleh menemuinya, anak kita di bawah pengawasan para ahli, kamu tenang!" Joshep yang berada di sebelah Paula sejak tadi mantan istrinya itu pingsan, segera mendekat.


"Lihatlah, dia sudah siuman sekarang, ayo pulang, ini sudah malam, besok pagi kita harus menghadiri acara pertunangan kita!" rengek Bella yang sejak tadi juga berada di ruangan itu menjadi pengawas Joshep, takut jika calon suaminya itu melakukan hal yang tidak-tidak dengan Paula, padahal jika di pikir lagi menggunakan akal sehat, bagaimana mungkin Joshep melakukan hal-hal bodoh bin konyol pada Paula dalam keadaan segenting ini.


Terhitung sudah lebih dari dua puluh kali Bella merengek meminta Joshep untuk meninggalkan Paula dan menyerahkan pengawasan Paula pada perawat di sana, namun Joshep menolaknya, selain tidak tega meninggalkan Paula sendiri, di samping itu juga ada hal penting yang harus dia bicarakan dengan Paula sehingga sejak tadi dia terus menolak di ajak pulang oleh Bella.


"Bella, hentikan ocehan mu! Kau membuat kepala ku semakin pusing karena rengekan tak manusiawi mu itu, apa kau buta jika anak ku sedang berjuang melawan penyakit di antara hidup dan mati? Lantas dengan santainya kau masih saja memikirkan acara pertunangan bodoh itu, apa kau tak punya hati, huh?" bentak Joshep yang mulai merasa pening tidak bisa menahan lagi kesabarannya dalam menghadapi sikap manja dan egois Bella.


"Joshep,,, apa barusan kamu membentak ku?" suara Bella terdengar lirih dan ketakutan.


"Jika kau bisa aku ajak bicara baik-baik, bukankah aku tak harus membentak mu? Sejak tadi kau hanya meributkan kepentingan mu saja, urusan pertunangan pertunangan dan pertuangan terus yang kau bahas, aku sejak tadi menjawab mu baik-baik, tapi sepertinya kau semakin menjadi, tidak bisakah kau menunjukkan sedikit empati mu di sini?" raut ketakutan Bella tak membuat Joshep merasa iba, namun pria itu semakin beringas dan bertambah marah.


"Kepentingan ku? Oh hallooo,,, itu kepentingan kita berdua, karena yang akan menjalaninya kita berdua, mengapa jadi kepentingan ku sendiri?" belalak Bella.


"Tentu saja itu hanya kepeningan mu, karena kepentingan ku saat ini satu-satunya adalah putra ku, tidak ada yang lain."


"Dengan kata lain apa kamu ingin menyampaikan jika aku tidak lebih penting dari putra mu? Pertunangan kita juga tidak penting?" suara Bella kini meninggi, tidak ada yang berani berkata dan memperlakukan dirinya sehina itu selain Joshep.


"Ya, kau memang tidak pernah penting untuk ku, hubungan ku dengan mu hanya karena aku menghargai keinginan orang tua ku, itu saja, puas? Sekarang lebih baik kau pergi dari sini karena kau hanya membuat keadaan menjadi bertambah panas, kau ingin menjadi pendamping ku dan menjadi ibu sambung untuk anak ku, namun sikap mu tidak mencerminkan kau ingin melakukan itu, pergilah, aku tidak ingin di ganggu!" usir Joshep.

__ADS_1


Bertha yang juga ada di ruangan itu mendekap calon menatu kesayangannya dan membawanya keluar dari ruangan itu, "Sudahlah sayang, Joshep sedang kalut saat ini, sebaiknya tinggalkan dulu dia sendiri, beri dia ruang untuk sendiri," ujar Bertha tidak ingin Bella semakin marah dan berakibat buruk pada hubungan keluarga dirinya dan keluarga Bella nantinya.


"Tapi ada mantan istrinya di sana, aku takut dia kembali pada wanita itu, apalagi ada anak di antara mereka, dan Joshep sepertinya sangat menyayangi anak itu." rajuk Bella mengadu pada Bertha.


"Tenanglah, mami dan papih tidak akan pernah membiarkan itu terjadi, karena di mata kami, hanya kamulah satu-satunya menantu yang paling pantas untuk mendampingi Joshep." kata Bertha seraya mengelus rambut Bella yang langsung merasa besar kepala kembali karena mendapatkan dukungan penuh dari kedua calon mertuanya.


"Aku tidak mau menjadi penghalang atau bahkan di sebut perusak pertunangan mu dengan Bella, sebaiknya kamu pergi susul dia, untuk masalah Kevin biar aku selesaikan sendiri." kata Paula.


Saat ini sudah terlalu banyak masalah yang mampir di hidupnya, dia tidak ingin menambah masalah lagi engan percintaan mantan suaminya dengan pasangan barunya.


"Berhenti menyuruh ku menjauh dari kalian, sudah cukup lima tahun kamu menjauhkan dan menyembunyikan Kevin dari ku, aku tidak akan bergerak mundur selangkah pun meski kamu berusaha mendorong ku untuk menjauh!" tegas Joshep.


"Tapi Bella,,, kalian harus melaksanakan pertunangan besok, jangan membuat aku menjadi orang yang paling bersalah karena batalnya pertunangan kalian, tolong jangan seret aku dalam masalah mu, hidup ku sudah terlalu banyak masalah saat ini." lirih Paula.


"Tapi---"


"Tidak ada tapi-tapian, yang paling penting untuk saat ini adalah kesembuhan Kevin, kondisinya kini kritis, dan dia harus segera mendapat tindakan, tim dokter dan rumah sakit membutuhkan persetujuan kita sebagai orang tuanya untuk melakukan operasi pada Kevin, bagaimana menurut mu?" tanya Joshep.


Ada perasaan aneh yang di rasakan Paula saat dirinya yang biasa melewati masa-masa kritis Kevin yang sebelumnya pernah terjadi sendirian, kini ada orang lain yang seolah ikut memperjuangkan keselamatan putranya dengan dirinya, meski Adam juga sempat menemani dirinya dalam keadaan seperti ini, namun rasanya tetap terasa beda, atau mungkin karena ikatan darah antara Kevin dan Joshep, dan mungkin juga karena sisa-sisa cinta yang masih tersisa untuk Joshep yang tidak pernah benar-benar hilang dari hatinya.


"Benar kata mu, saat ini keselamatan Kevin yang paling penting, untuk urusan pertunangan mu, biar papih yang akan membicarakannya dengan tuan Mark, papih yakin Tuan Mark akan mengerti. Lagi pula ini bukan pembatalan, namun hanya penundaan. Kita bisa mengagendakan acara pertunangan mu setelah keadaan Kevin stabil. " timpal Frans, bagaimana pun dia juga sudah mulai menyayangi Kevin sejak awal pertemuan, palagi saat tahu jika Kevin merupakan cucunya.

__ADS_1


"Terimakasih, pih!"


Joshep cukup lega karena akhirnya ayahnya mau mengerti keadaan dirinya,


"Mengenai biaya,, aku hanya ada---"


"Aku akan membayarnya, jangan permasalahkan hal itu!" sambar Joshep, dia tahu mungkin itu slah satu hal yang membuat Paula terus mengulur jadwal operasi, namun sekarang tidak ada alasan lagi untuk kesembuhan Kevin.


"TIdak, aku tidak mau merepotkan dan berhutang pada mu lagi," tolak Paula.


"Hentikan omong kosong mu Paula, aku membiayai operasi putra ku, kenapa harus di hitung sebagai hutang?" kesal Joshep setengah tersinggung dengan ucapan Paula.


"Sebaiknya jangan buang waktu lagi, kalian harus segera menemui tim dokter, dan aku akan menemui Tuan Mark. Jika ada kekurangan masalah biaya, aku bersedia membantu." kata Frans.


"terimakasih, tapi sepertinya uang ku masih cukup dan bahkan lebih jika hanya untuk biaya operasi putra ku,"


Joshep dan Paula segera menemui tim doker yang akan melakukan tindakan pada Kevin, sementara Frans juga bergegas menemui seseorang yang sejak tadi sudah menunggunya di lobby rumah sakit.


"Bagaimana Tuan Frans, apa tetap di lanjutkan?" tanya pria berpakaian rapi menyambut kedatangan Frans yang seperti celingak celinguk melihat keadaan sekitar dan takut jika kebersamaan dirinya dengan pria itu di ketahui orang lain.


"Tentu saja, tetap lanjutkan, dan aku akan membayar berapa pun untuk kemenangan ku!" ujar Frans yang langsung di sambut wajah sumringah lawan bicaranya.

__ADS_1


***


Gaissss,,,, minta tolong dukung like dan komen di novel baru othor yang judulnya BUKAN IKATAN CINTA ya gaeeeesss,, buat naikin retensi, soalnya pak Dokter dan Paula kayaknya udah mau end bentar lagi, tolong ya kakak-kakak baik hati dan tidak sombong, di tunggu like dan komennya di novel drama komedi romantis othor yang baru ingat judulnya BUKAN IKATAN CINTA,,, terimakasih, matur suwun, hatur nuhun 🙏❤️🙏❤️🥰


__ADS_2