
Kening Joshep berkerut, "Kau,,," ujarnya seraya mengingat-ingat dimana dia pernah melihat wajah pria yang berada di hadapannya itu, wajahnya seperti tidak asing dalam ingatannya.
"Ya, ini aku,,, pria yang lima tahun lalu anda lihat bersama istri anda,,," ujarnya lirih.
"Bajingan! Apa kau mencari mati dengan sengaja mencari ku ke sini?" kepalan tangan Joshep sudah hampir melayang ke arah pria itu jika saja petugas keamanan apartemennya tidak menghalanginya.
"Apa yang terjadi?" tanya Paula.
Saat Paula menunggu di dalam mobil tadi, dia merasa penasaran karena wajah Joshep terlihat seperti sedang menampakan amarah, ternyata benar saja, suaminya itu bahkan ingin memukuli seorang pria cacat.
"Josh hentikan! Tidakkah kamu lihat keadaannya?" larang Paula.
"Apa kamu tau siapa pria itu? Lihatlah baik-baik!" ujar Joshep sambil menunjuk wajah pria yang tersorot lampu penerangan jalan itu.
Kening Paula berkerut, cukup lama dia mengamati wajah pria itu, namun dia tetap tidak mengenalinya.
"Dia pria yang lima tahun yang lalu bersama mu di kamar kita." bisik Joshep tidak ingin orang-orang mendengar ucapannya yang nantinya akan mempermalukan sang istri di mata orang banyak.
Paula tersentak, jujur saja, saat itu dia hanya melihat sekilas wajah pria yang tiba-tiba berada di sampingnya di atas ranjang, terlebih pria itu juga langsung melarikan diri secepat kilat, belum lagi kejadian demi kejadian menyedihkan dan menyakitkan datang padanya bertubi-tubi, membuat memori dia menjadi semakin acak-acakan tidak karuan.
"Kau,,, apa benar-benar kau orangnya?" mata Paula memicing menatap tajam pria yang hanya bisa tertunduk penuh rasa bersalah.
__ADS_1
Joshep akhirnya memutuskan untuk berbicara dengan pria itu di loby apartemen, dia cukup merasa penasaran dengan maksud dan tujuan kedatangan pria itu mencari dirinya.
"Nama ku Ben, aku ingin mengakui kesalahan ku lima tahun yang lalu pada kalian, demi Tuhan aku tidak melakukan apa-apa pada istri mu, aku hanya membiusnya, dan hanya membuka beberapa kancing baju istri mu saja saja dia tidak sadarkan diri---" akunya.
Bugh!
Sebuah tinju akhirnya benar-benar mendarat di rahang pria bernama Ben itu tanpa ada yang menduga jika Joshep akan melakukan itu.
"Bajingan! Lancang sekali kau melakukannya, dan berani sekali kau mengakui semua itu pada ku, apa kau benar-benar bosan hidup, huh?" ujar Joshep sambil meremas dan menarik kerah baju pria di hadapannya yang hanya bisa pasrah tanpa perlawanan itu.
"Josh, sebaiknya kita dengarkan dulu dia, tahan emosi mu." lerai Paula.
"Aku tidak bisa menahannya, dia sudah membuat rumah tangga kita hancur, dan aku harus terpisah dengan anak kita selama ini." mata Joshep menyala merah.
"Lanjutkan cerita mu, jangan ada yang di tutup-tutupi jika kau masih ingin merasakan hidup di dunia ini." ancam Joshep.
"Aku melakukannya karena uang, aku di bayar oleh---(pria itu menjeda ucapannya)-- oleh orang tua mu, mereka membayarku dengan uang yang tidak sedikit, saat itu aku membutuhkan uang untuk biaya operasi ibu ku, dan aku terpaksa menerima tawaran itu." tutur pria bernama Ben itu menceritakan awal mula pertemuannya dengan Frans yang ternyata adalah dokter yang merawat ibunya, dia sengaja menggunakan kebingungan Ben yang kekurangan biaya dan menawarinya sejumlah uang untuk melakukan aksi bejat itu.
Melihat ibunya yang dalam keadaan kritis dan harus segera menjalani operasi, akhirnya Ben menerima tawaran itu.
"Namun ternyata, tiga bulan setelah operasi ibu ku meninggal, aku masih berpikiran jika itu adalah takdir, namun kejadian demi kejadian buruk menimpa pada ku, selang beraqpa lama dari itu istri ku keguguran, dan itu berulang terjadi sampai 3 kali, tak lama dari itu usaha ku yang aku rintis dari uang sisa pemberian orang tua mu itu bangkrut, lalu aku mengalami kecelakaan yang mengakibatkan aku harus kehilangan satu kaki ku, dan tepat saat aku keluar dari rumah sakit, aku mendapati istri ku tengah tidur dengan pria lain di ranjang kami. Dari sana aku sepeti di kejar rasa bersalah, aku yakin rentetan kejadian buruk yang aku alami selama ini karena karma atas perbuata ku pada kalian, aku ingin meminta maaf pada kalian, aku bersedia melakukan apa saja demi untuk mendapat maaf dari kalian." ujarnya panjang lebar menceritakan kejadian demi kejadian buruk yangmenimpaya yang dia yakini sebagai karma buruk atas pernuatan jahatnya beberapa tahun silam.
__ADS_1
Joshep dan Paula saling melempar pandangannya, betapa Tuhan dengan mudahnya membuka semua tabir yang bahkan selama beberpa tahun belakangan ini mati-matian coba Joshep maupun Paula cari tahu, tapi semua kembali lagi Tuhan selalu punya rencana, akan ada waktu yang epat dimana semua kebenaran pasti terbuka dengan sendirinya meski kita tidak berusaha membukanya, kebenaran itu datang dengan sendirinya.
"Aku ingin menjadikan mu saksi untuk memenjarakan orang yang sudah menyuruh mu melakukan itu semua, aku akan membuat laporan." ujar Joshep telah mantap dengan keputusannya.
"Saya bersedia, saya juga mempunyai bukti-bukti pembayaran yang ayah anda berikan untuk itu, semua chat dan pesan suara juga masih saya simpan." angguk pria bernama Ben itu.
"Josh,,, tapi yang akan kamu laporkan itu orangtua mu, aku rasa kita tidak perlu melakukannya, lagi pula sat ini kita sudah bersama kembali." kata Paula merasa ragu dengan keputusan Joshep.
"Tapi, apa yang mereka lakukan ini keterlaluan. Aku bahkan merasa malu dengan kelakuan mereka." Joshep terlihat serba salah, dia benar-benar ikut merasa bersalah pada Paula atas apa yang di lakukan kedua orangtuanya itu.
**Flash back off**
"Apa ini? Inikah pria yang Papih sebut-sebut sebagai selingkuhan Paula yang sudah tidur dengan nya itu? Apa Papih yakin jika pria ini bukan orang suruhan kalian yang sengaja kalian bayar untuk melakukan semua fitnah keji itu?" Joshep mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan sebuah foto seorang pria yang lima tahun yang lalu di dapati Joshep sedang berada di atas ranjang bersama istrinya.
Frans dan Bertha terlihat gugup dan gelagapan saat di tunjukkan foto pria bernama Ben itu di hadapan mereka.
"Apa maksud mu? Aku t-tidak tau siapa pria itu. Apa wanita itu sengaja membayar pria untuk mengadu domba kita? Agar kau menyalahkan kami?" kilah Frans masih berkelit dan enggan untuk mengakuinya.
"Apa anda tidak malu terus-terusan menuduh istri ku seperti itu? Jelas-jelas pria itu adalah suruhan anda, tuan Frans Smith!" ujar Joshep.
"JOSH! Dia ayah mu, cobalah untuk bersikap lebih sopan!" bentak Bertha.
__ADS_1
"Aku? Harus sopan pada kalian? Pada orang-orang yang sudah menghancurkan hidup ku dan juga hidup anak istri ku? Aku bahkan malu mempunyai orangtua seperti kalian, sekarang segrta putuskan,,, hentikan gugatan hak asuh atas putra ku sekarang juga, atau aku akan membawa perkara ini pada kepolisian, aku akan melaporkan kalian atas perbuatan kalian yang sudah mempitnah istri ku, dan satu lagi,,, tuduhan atas dugaan pembunuhan ayah Paula yang anda lakukan tuan Frans Smith!" tegas Joshep tanpa ampun.