
"Apa yang terjadi?" tanya Willy.
"Tidak ada, hanya saja-- atasan tadi baru memutus kontrak kerja ku, karena ijasah ku yang tidak sesuai." terang paula berusaha santai.
"Kok bisa begitu? Dari awal saat aku menitipkan mu pada mereka sepertinya mereka tidak pernah mempermasalahkan hal itu, kenapa tiba-tiba sekarang jadi masalah? Aku akan menanyakannya pada mereka sekarang juga!" Willy memutar tubuhnya berniat menemui atasan Paula.
"Tidak usah! Sudahlah, aku tidak mau memperpanjang masalah, lagi pula mungkin ini cara Tuhan agar aku bisa lebih banyak waktu untuk merawat Kevin." Cegah Paula.
Sungguh Paula tidak mau Willy mendapatkan lagi masalah karena dirinya, karena pemberhentian dirinya Paula yakini adalah bentuk penyerangan Frans dan Bertha, jadi Paula tidak mau jika Willy harus terseret lagi pada pusaran masalahnya sepeti sebelumnya saat dia bermasalh dengan Joshep.
"Tapi ini tidak adil untuk mu, apalagi saat ini kamu pasti sangat membutuhkan uang untuk biaya Kevin, maaf juga karena aku sudah tidak bisa membantu mu dengan kartu fasilitas ku, karena saat ini masih dalam proses, jika aku sudah kembali bekerja di sini aku pasti akan membantu mu lagi." kata Willy.
"Kamu sudah banyak membantu ku, dan untuk masalah biaya Kevin, aku akan mencari solusinya, tenang saja," Paula tersenyum dalam ketidak pastiannya.
"Lantas Adam? Dia ayahnya Kevin, tidak seharusnya kamu menanggung beban ini sendirian, dia ayahnya Kevin bukan?"
"Adam membantu ku, dia membantu ku, bahkan dia selalu ingin membantu ku, namun aku yang selalu melarangnya, istrinya akan melahirkan, dia pasti akan membutuhkan banyak biaya juga."
"Tapi kamu juga istrinya! Atau jangan-jangan Kevin bukan putranya, menurut ku dia terlalu pilih kasih!" kesal Willy.
"Kamu tidak tahu apa-apa tentang dia, dan kamu tidak berhak menuduh dia seperti itu." Paula terlihat sedikit tidak suka karena Willy mengata-ngatai Adam.
"Aku permisi, aku harus segera kembali ke kamar Kevin." Paula berjalan mendahului Willy yang langsung merasa tidak enak hati karena ucapannya mungkin telah menyinggung perasaan Paula, sehingga Paula terlihat agak tidak suka saat pergi meninggalkannya.
__ADS_1
Kejutan untuk Paula tidak sampai di sana saja, saat dirinya sampai di kamar rawat sang putra, terlihat Kevin sedang bermain dengan seseorang yang tidak di sangka-sangka akan dia temui di sini, seseorang itu adalah Bella.
Paula menghela nafasnmya dengan berat, dia yakin jika kedatangan Bella kali ini bukanlah suatu hal yang kebetulan, dia yakin jika ini ada hubungannya dengan Joshep.
"Hai Paula, apa kabar mu? Apa bisa kita bicara?" sapa Bella to the point.
Paula mengangguk, tidak ada lagi yang perlu dia rahasiakan dan tutup-tutupi mengenai hubungannya dengan Joshep dari Bella saat ini, karena Paula yakin jika Bella pasti sudah tau mengenai kisah masa lalunya dengan Joshep sehingga dia dengan sengaja datang untuk menemuinya sekarang ini.
"Ibu,,, aunty Bella memberikan aku mainan sangat keren, lihatlah!" Kevin menunjukkan sebuah robot-robotan besar yang tadi sempat Paula lirik sekilas.
Paula tersenyum, "Apa kamu sudah berterimakasih pada aunty Bella?"
Kevin mengangguk "Tentu saja, aunty Bella juga bercerita kalau dia akan segera menikah dengan dokter Smith, katanya kita boleh datang ke pesta pernikahannya nanti, dan aku boleh makan makanan enak juga es krim sepuasnya di sana, iya kan aunty?"
"Tentu, kamu dan ibu mu boleh datang ke acara kami, karena kalian kerabat kami." Bella menyunggingkan senyum palsunya.
Bella mengekor langkah Paula di belakangnya, mereka kini duduk di kursi yang menghadap langit biru cerah siang itu, sayangnya aura di antara dua wanita itu terasa dingin dan gelap.
"Aku tidak ingin bertele-tele, aku sudah tau hubungan mu dengan Joshep di masa lalu, aku juga tidak akan bertanya pada mu mengapa saat di desa kalian berbohong pada ku seolah kalian tidak saling mengenal, sekarang aku hanya ingin meminta satu hal pada mu, tolong jangan menjadi penghalang hubungan ku dengan Joshep, hubungan kalian sudah berlalu!" ujar Bella.
Beberapa hari yang lalu saat dirinya memutuskan untuk memberi tahu calon mertuanya yaitu Frans dan Bertha mengenai Joshep yang ternyata kembali dekat dengan Paula dengan harapan kedua orang tua Joshep bisa membuat mantan menantunya menjauh dari Joshep justru malah zonk, karena ternyata hal itu justru malah membuat Joshep yang menjauh dari nya, lebih dari itu Joshep juga menunda pertunangan mereka, sehingga tidak ada cara lain selain menemui paula dan berharap Paula bisa memahami posisinya sekarang ini yang merupakan calon tunangan Joshep.
"Seperti yang anda ketahui nona, hubungan ku dengan Joshep sudah menjadi masa lalu, dan aku tidak pernah sedikitpun berniat untuk menjadi penghalang hubungan kalian, karena hubungan ku dengan Joshep sudah berakhir lima tahun yang lalu. Sebaiknya anda tidak perlu khawatir tentang hal itu." Tegas Paula, tentu saja dia tidak mau jika di anggap akan menjadi penghalang hubungan Joshep dan Bella, karena dia merasa tidak pernah berniat seperti itu, meskipun rasa cinta itu masih tersisa di hatinya untuk Joshep.
__ADS_1
"Bagaimana dengan Kevin?" tanya Bella.
"Kevin? Apa hubungannya dengan Kevin?" Paula sedikit terhenyak saat Bella tiba-tiba saja membawa-bawa nama putranya dalam masalah ini.
"Tentu saja ada hubungannya. Apa kau pikir aku tidak tahu siapa Kevin sebenarnya?" Bella mengangkat sebelah alisnya.
"D-dia--- Kevin putra ku, tidak ada hubungannya dengan Joshep, dia lahir jauh setelah aku berpisah dengan Joshep!" Paula tiba-tiba tergugup.
"Kau terlalu menyepelekan ku, apa yang tidak bisa aku ketahui, dengan uang semua rahasia bisa terungkap dengan mudah. Ayo kita buat kesepakatan, aku tidak akan mengatakan pada Joshep dan keluarganya tentang Kevin yang mempunyai hubungan darah dengan mereka, dan kau beri aku keuntungan juga." kali ini Bella sepertinya berhasil membuat Paula seperti tersambar petir di siang hari, pertama kali dalam hidupnya setelah lima tahun berlalu, tenyata ada orang lain selain Adam yang mengetahui jika kevin merupakan anak biologis Joshep, dan sialnya itu Bella.
Tentu saja rahasia yang selama ini dengan rapat Paula sembunyikan dapat di jadikan senjata oleh Bella untuk menyerangnya.
"Omong kosong apa ini? Jelas-jelas Kevin putra dari Adam, suami ku setelah Joshep, tentu saja Kevin tidak ada hubungannya dengan Joshep!" elak Paula.
"Apa perlu aku tunjukkan hasil tes paternitas yang aku lakukan tanpa setahu Joshep? Tentu saja kau tidak akan penasaran dengan hasilnya kaena kau pasti tahu kebenarannya, tapi bagaimana jika hasil tes itu aku berikan pada Joshep atau orang tuanya? Apa kau siap kehilangan hak asuh Kevin? aku yakin mereka pasti akan melakukan berbagai cara agar hak asuh kevin berada di pihak mereka, sebetulnya aku juga tidak keberatan untuk menjadi ibu sambung Kevin, hanya saja----"
"Tidak! Itu tidak boleh terjadi! Katakan, apa yang kamu inginkan?" sambar Paula memotong ucapan Bella yang sungguh mengganggu pikirannya dan sangat membuatnya takut saat dia membayangkan jika dia akan di pisahkan dengan Kevin.
Lawan Paula sekarang ini bukan main-main, selain Frans dan Bertah, dia juga harus melawan keluarga berpengaruh seperti Bella yang untuk melakukan tes DNA yang seharusnya sulit terjadi tanpa izin darinya dan Joshep saja bisa dia lakukan dengan mudahnya.
Maka untuk merebut hak asuh Kevin darinya tentu saja akan seperti membalikan telapak tangan tangan saja bagi mereka, karena benar kata Bella, dengan uang semua hal bisa di beli termasuk hukum dan keadilan, lantas siapalah Paula yang tidak punya apa-apa harus melawan mereka.
Bella tersenyum puas, "Aku yakin kau ibu yang baik, dan tidak akan rela kehilangan putra mu, aku tidak akan menyulitkan mu, aku bahkan menawarkan sesuatu yang baik untuk mu, yayasan ku akan membiayai operasi Kevin di luar negeri, dan setelah itu kau tidak boleh kembali lagi ke sini sampai kapan pun, bagaimana,,, penawaran yang cukup baik, bukan?"
__ADS_1
Paula terdiam mematung, dia bahkan tidak tau kemana Bella akan mengirim dirinya dan Kevin, namun jika dirinya menolak tawaran Bella, bukan tidak mungkin dirinya akan kehilangan hak asuh Kevin.
"Ayolah, jangan terlalu lama berpikir, ambil resiko, atau kau akan kehilangan kesempatan untuk selamanya!" desak Bella karena tidak sabar menunggu jawaban Paula yang sepertinya masih saja berpikir dan belum bisa memutuskan karena itu merupakan pilihan yang sulit bagi Paula.